[One Shoot] Starry Night Over The Rhone

Title                 : Starry Night Over The Rhone

Author             : Chocola

Genre              : Westernlife, social, mistery, romance

Length             : One Shoot

Ratings            : General

Setting             : Britain, Victorian era

Cast                 : 1. Park Eunjoo aka Carol Clearwater

                          2. Choi Hyesun aka Rachel Walcott

                          3. Kim Heechul aka Richard Wayne

                         4. Lee Donghae aka Aiden Swordski

                         5. Park Yoojin aka Andrea (Viscount Edward’s daughter)

                        6. Yoon Hyewoon aka Aurora Walcott

                        7. Kim Jongwoon aka Viscount Walcott

                        8. Kim Ryeowook aka Nathan

Disclaimer      : FF ini dibuat bukan untuk menjatuhkan karakter asli cast tetapi demi kebutuhan cerita semata

***

Inspired by Van Gogh –  Starry night over the Rhone

Carol menyibak tirai kereta kuda yang membawanya bersama Rachel menuju gedung termegah di West End, rumah seorang Earl yang mengadakan pesta penyambutan bagi anak tertuanya yang baru saja menyelesaikan pendidikan di Amerika. Carol tidak ingat siapa nama anak Earl yang disebut-sebut Rachel tadi karena memang Carol tidak punya ketertarikan akan kehidupan para bangsawan. Tidak seperti Rachel, Carol bukan anak seorang Viscount. Bahkan bukan juga anak seorang Baron, dia bukan gadis beruntung yang lahir dari keluarga bagsawan Inggris manapun. Dia hanya anak seorang petani miskin di desa kecil bernama Houndswoth.

Carol menutup kembali tirai di sisi kanannya saat ia sadari langit sudah menjadi gelap, semua jalanan di Inggris menjadi terlihat mencekam jika malam datang. Asap yang berasal dari pabrik-pabrik yang baru di buka membuat langit bahkan menjadi gelap saat siang hari. Revolusi Industri  menjadi sangat pesat sejak Ratu Victoria menduduki tahta, pabrik-pabrik banyak dibangun untuk memproduksi barang secara besar-besaran. Harusnya pembukaan pabrik-pabrik baru dapat membuat rakyat semakin sejahtera tapi tetap saja kriminalitas dan kemiskinan tidak dapat dipisahkan. Carol menatap Rachel yang sibuk mematut dirinya di cermin, menambah ketebalan bedaknya ataupun menambah semprotan parfum agar pria-pria disana pingsan mencium aroma Lilac dari parfum mahalnya.

Carol akui dia pernah merasa cemburu pada kehidupan Rachel, gelar bangsawan, harta, kehormatan. Semua membuat Rachel nampak sangat sempurna dan bahagia, terlebih kedua orang tua Rachel sangat menyayangi anak satu-satunya itu. Sungguh membuat dirinya yang hanya anak petani miskin merasa dunia ini tidak adil, kenapa ada gadis seberuntung Rachel di dunia ini sedangkan Carol terpaksa hidup dengan keras saat orang tuanya gagal panen. Dan di sinilah dia, menjadi pelayan keluarga Viscount Walcott.

Namun dia mensyukuri satu hal, kehidupan barunya bersama keluarga Viscount Walcott tidak begitu buruk. Mereka Keluarga yang sangat baik, ramah, meski kadang kebiasaan keluarga bangsawan yang senang menyuruh-nyuruh pelayannya tidak bisa dihilangkan. Paling tidak keluarga ini masih lebih baik jika dibandingkan keluarga bangsawan lain. Dulu saat Rachel mendapatkan seorang guru privat untuk mengajari dia yang belum bisa membaca dengan lancar, Viscount Walcott mengijinkan Carol untuk ikut belajar. Bagi gadis miskin sepertinya bisa merasakan belajar sama berartinya seperti mendapatkan sekarung gandum saat musim paceklik.

“Kau tahu Carol, Dad bilang aku harus bisa menarik perhatian pria-pria bangsawan di sana!” Jujur Rachel, gadis itu kemudian menghela napasnya. “Dad memberikanku kesempatan terakhir untuk mencari pasanganku sendiri sebab jika tidak Dad akan mengatur perjodohan untukku dengan anak bangsawan yang aku tidak tahu siapa dia atau bagaimana wajahnya.” Rachel tersenyum pahit lalu kembali mematut dirinya dicermin. Carol terdiam, masih menatap serius ke arah  Rachel. Dia salah, Rachel tidak seberuntung itu. Dia masih lebih baik, paling tidak dia tidak harus menikah dengan laki-laki yang tidak dia ketahui siapa namanya, bagaimana wajahnya. Dan rasanya sangat menyesakkan saat membayangkan dirimu akan terjebak dalam sebuah ikatan seumur hidup dengan orang yang sama sekali asing.

***

Setelah tiga orang gadis bangsawan yang ada di depan mereka memasuki aula, giliran Carol dan Rachel yang berhadapan dengan dua orang pengawal memeriksa undangan mereka. Memastikan bahwa tidak ada penyusup dalam pesta Earl Wayne. Dua orang pengawal itu kemudian menawarkan diri untuk menyimpan mantel yang Rachel dan Carol kenakan. Mereka setuju, mantel berwarna cokelat yang hampir sama modelnya itu mereka serahkan pada dua orang pengawal di depan Aula. Gaun berenda dengan model menggembung dibagian rok dan lengannya nampak sangat serasi dengan bahu putih mulus dan pinggang ramping mereka, warna gaun Rachel membuat topi kecilnya yang berwarna merah maroon terlihat serasi. Sedang Carol hanya mengenakan gaun berwarna hijau tua yang Rachel pinjamkan padanya, modelnya sederhana tidak terlalu banyak renda namun tetap ada crinoline yang membuat roknya nampak menggembung, rambutnya dikepang ke atas dengan pita warna hitam yang menjuntai sebahu. Hampir tidak ada yang mengenali bahwa dia adalah pelayan, diluar dugaan bahkan dua orang pengawal yang memeriksa undangan tadi tidak menendangnya keluar.

“Kau hanya perlu diam di sini, jika Andrea putri Viscount Edward mencoba untuk merebut pria bangsawan yang coba untuk aku dekati kau sudah tahukan apa yang harus kau lakukan?” tanya Rachel sambil meraih sedikit pinggiran roknya agar langkahnya tidak terhalang dengan dua tangan yang terbalut sarung tangan putih.

Carol mengangguk, “Menjambak rambutnya, membuat dia terlihat seperti seorang yang tidak memiliki sopan santun.”

Rachel mengangguk senang. Ia kemudian berjalan ke arah kerumunan pria bangsawan di tengah aula, mencoba menonjolkan dirinya. Sementara Carol mengawasi Rachel dari jauh, menyapa seorang pelayan, mengambil segelas wine lalu kembali fokus pada tugasnya.

Sejauh ini tidak ada tanda-tanda kehadiran Andrea putri Viscount Edward yang sudah ibarat kucing-anjing dengan Rachel, mereka tidak pernah bisa berhenti untuk saling bersaing, mengolok, memamerkan diri. Seakan mereka memang terlahir untuk itu.

Carol menenggak wine berwarna ungu gelap dalam gelasnya dengan satu tegukan, ia meletakkan gelas kosong itu di meja yang tidak jauh dari tempatnya berdiri kemudian kembali memantau Rachel yang kali ini nampak berdiri sangat dekat dengan seorang pria bangsawan yang lumayan tampan.

“Apa kau sendirian?” Carol terkejut saat di depannya kini ada seorang pria, menggenggam gelas wine yang sudah kosong. Carol mencoba untuk menutup dirinya dari pria itu, percayalah semua putra bangsawan pasti akan menyesal telah menghabiskan waktu mereka untuk menyapa Carol. Karena Carol berbeda, dia tidak seperti yang mereka bayangkan. Dia bukan putri bangsawan.

“Tidak, aku bersama seseorang.” jawab Carol, yah meskipun ‘seseorang’ yang mereka bayangkan pasti berbeda. Seseorang yang Carol maksud adalah Rachel sedangkan pria itu pikir adalah seorang pria bangsawan yang sedang menyapa teman-temannya dan meninggalkan Carol di sini sendirian untuk menunggu. Dan Carol memang bermaksud agar pemuda itu berpikiran seperti itu.

“Maksudmu gadis bergaun merah maroon yang sedang berusaha merayu pria disana!” tunjuk pemuda itu pada Rachel yang berjarak beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Mata Carol membelalak lebar, pemuda itu pasti tahu jika dia tadi datang bersama Rachel!

“Tenang saja, aku bukan pria brengsek. Aku hanya ingin berdiri disini, di samping meja yang penuh wine dan makanan.” kata pemuda itu sambil tersenyum kemudian berdiri di sebelah Carol, mengambil cemilan lalu mengganti gelas kosongnya dengan salah satu gelas berisi wine di meja hidangan.

Carol berusaha setenang mungkin berdiri di sebelah pria ini, tapi wajah tampan dan sikapnya yang berbeda dengan kebanyakan pria bangsawan yang pernah ia lihat membuat debaran jantungnya menjadi tidak menentu, dari ekor matanya Rachel bisa melihat saat cincin bermata sapphire blue di ibu jari pemuda itu menempel di gelas, saat wine menyapu bibir tebalnya. Bagaimana riuhnya saat cemilan-cemilan yang tersedia di meja masuk ke dalam mulutnya, dia tidak seperti anak bangsawan lain yang berlomba-lomba terlihat beretiket tinggi. Dia lebih terlihat seperti teman-teman Carol di desa yang melahap makanan mereka setelah berhari-hari tidak makan.

“Uhuk!” pemuda itu tersedak, meski tersedak pemuda itu masih terlihat sangat tampan.

Tampan?!

Carol mengutuk dirinya dalam hati, bagaimana mungkin dia menganggap pria yang sedang tersedak di sebelahnya ini tampan?

Carol mengingat janjinya pada dirinya sendiri yang sering ia ucapkan jika pikirannya sudah melayang terlalu jauh. “Jangan pernah memulai untuk menghancurkan dirimu sendiri Carol, kau harus sadar dimana tempatmu berada dan dimana tempat laki-laki itu berada!” batin Carol dalam hati.

Miss?” Carol mundur beberapa langkah dari tempatnya semula hingga tubuhnya menabrak meja hidangan di belakangnya, untung saja piring dan gelas-gelas disana tidak jatuh.

Pemuda itu selalu saja mendekati Carol sesuka hatinya. “Maafkan aku, sepertinya aku sudah mengagetkanmu.” Pemuda itu mundur beberapa langkah memberi Carol sedikit jarak darinya.

Miss, apa kau tidak punya pasangan dansa?” Pemuda itu menaikan satu alisnya.

“Se…sepertinya begitu.” Carol tidak punya pilihan lain selain jujur.

“Aku juga, setelah ini akan ada couple dance dan sepertinya kita tidak memiliki pilihan selain  berdansa bersama.” Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, menggambarkan kecanggungan.

“Tapi aku…” belum Carol selesai menolak ajakan pemuda itu seorang violist berdiri di atas panggung, menggesek hars dan bow nya dengan sangat sempurna hingga suara biola mengalun dengan sangat indah, menghipnotis tiap-tiap orang untuk menari mengikuti irama. Selang beberapa saat lampu di pinggir aula padam hanya tersisa lampu yang menggantung di tengah aula.

Pemuda itu berlutut di hadapan Carol, mengulurkan tangan kirinya menunggu sambutan dari gadis itu. Carol dengan ragu menyambut tangan pemuda itu, pemuda itu menuntunnya menuju tengah aula bergabung dengan pasangan lain menikmati alunan biola yang merdu, pemuda itu dengan sopan meminta ijin Carol meraih pinggang gadis itu, menggenggam satu tangannya dan di detik berikutnya yang Carol tahu hanyalah rasa hangat yang pelan-pelan mengalir dalam hatinya.

***

“Lihat cara jalanmu Andrea, mirip ayam betina yang akan bertelur!” suara lantang Rachel di kerumunan gadis-gadis bangsawan yang baru keluar menyelesaikan kelas bahasa inggris mereka memancing kerumunan. Lagi-lagi adu mulut antara dia dan Andrea.

“Kau tidak sadar kalau selera berpakaianmu itu norak, Walcott?” sindir Andrea diikuti dengan tawa ejekan dari teman-teman Andrea. Sial! Dia kalah jumlah, teman-temannya tidak sebanyak teman Andrea. Semua ini karena gosip bahwa ayah Andrea, Viscount Edward merupakan Viscount kesayangan Ratu. Dia memang kalah sejak awal, Rachel baru sadar sekarang bahwa tidak ada gunanya berdiri bersebrangan dengan Andrea.

“Kenapa diam Walcott? Kau sudah memahami kekuatanku yang sebenarnya kan? Dan apakah sekarang kau mau bergabung menjadi kaki-tanganku, aku  akan memberikan posisi yang baik untukmu Walcott asal kau mau menjilati sepatuku!” Andrea tertawa, diikuti tertawaan teman-temannya atau Rachel lebih suka memanggil mereka dengan peliharaan karena memang begitulah sikap mereka terhadap Andrea. Penjilat! Tentu saja Rachel yakin mereka melakukan itu semua demi diri mereka sendiri, demi keistimewaan yang mereka dapat karena dapat bergaul dengan Andrea.

“Jangan harap Andrea, terlalu cepat dua abad aku mau bergabung denganmu!” Rachel mendesis frustasi menjauhi Andrea dan gerombolannya yang sangat puas melihat harga dirinya yang terinjak-injak.

“Nona!” panggil Carol saat Rachel berjalan melaluinya, Carol menunggu di depan kereta kuda yang siap menjemput Rachel jika sekolahnya usai. “Nona kau mau kemana?” hadang Carol saat Rachel berjalan berlawanan arah dari kereta kudanya.

“Aku benci diriku Carol!” Rachel menghentikan langkahnya, ia menggenggam pinggiran roknya erat kemudian menangis.

“Aku mengerti…” Carol tersenyum samar kemudian menundukkan kepalanya, Rachel memang keliahatan kuat saat ia  berhadapan dengan orang lain terlebih jika bergaul dengan anak-anak bangsawan lainnya. Tapi Carol tahu hati Rachel sama seperti hatinya, mereka sama-sama membenci kelas sosial, membenci kemunafikan para bangsawan yang berlomba-lomba menjadi anjing kesayangan Ratu. Membenci kesenjangan sosial yang membuat para bangsawan dapat menumpuk uang mereka dari hasil memeras masyarakat kelas bawah.

“Hahaha…aku bicara apa tadi? Aku sudah mulai melantur.” Rachel buru-buru menghapus air matanya berusaha tersenyum seperti senyum yang sering ia tampakkan di depan orang tuanya.

“Carol apa kau keberatan jika kau pulang berjalan kaki? Aku butuh pergi kesuatu tempat sebelum tunanganku datang malam ini.” Rachel mengedipkan satu matanya ke Carol. Tentu saja Carol mengangguk.

“Jadi anda menerima perjodohan itu?”

“Tidak ada pilihan lain, sebab aku lupa menanyakan pada Aiden dia anak bangsawan siapa dan Dad tidak mau aku sembarangan menentukan pendamping. Dia sudah menjodohkanku dengan anak tertua Earl Wayne, penyelenggara pesta tadi malam. Tapi kau tahu sendirikan dia tidak muncul tadi malam.”

“Siapa Aiden?” tanya Carol ragu.

“Pemuda yang aku temui tadi malam di pesta Earl Wayne.”

“Anda menyukai pemuda itu?”

“Sekarang tidak penting lagi Carol, toh aku tidak akan menikah dengannya.” Rachel mengulas senyum kemudian menaiki kereta kuda membawanya kesuatu tempat yang Carol tidak tahu tapi melihat kereta kuda yang membawa Rachel pergi seakan Carol tengah melihat kebebasan Rachel untuk terakhir kalinya, seperti yang pernah ia bayangkan sebelumnya mulai sekarang Rachel akan menjalani kehidupan bangsawan yang sebenarnya, menikah dengan orang yang sama sekali asing demi menghimpun kekuatan, berlomba-lomba bersaing dengan bangsawan lain menjadi orang kepercayaan Ratu.

***

Carol mempercepat langkahnya saat lampu jalanan di dekatnya tiba-tiba mati, hari sudah gelap dan dia belum sampai di rumah Viscount Walcott. Mantel beludru putih yang beberapa waktu lalu ia beli di pasar loak tidak mampu melindunginya dari udara malam kota London yang menusuk hingga ketulangnya. Gelap, dingin dia mulai melupakan rasa seperti ini semenjak hidup bersama keluarga Viscount Walcott. Kereta kuda selalu ada untuk membawanya kemana-mana bersama Rachel. Ya, kereta kuda itu memang sejatinya milik Rachel, dia hanya pelayan beruntung yang bisa duduk nyaman di dalamnya bersama majikannya.

Carol tersenyum, beberapa langkah dari tempatnya ada lampu jalanan yang masih menyala. Dia ingin segera meninggalkan kegelapan ini, cahaya. Dia butuh cahaya.

Napas Carol memburu, dia setengah berlari mendekati lampu jalanan yang menyala terang itu. London benar-benar mengerikan, jalanan menjadi mencekam bila malam tiba dan tidak pernah merasa aman berjalan-jalan di luar jika malam tiba. Bodoh, kenapa kau masih ada disini? batin Carol pada dirinya sendiri. Tapi dia terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan, dia sudah berjam-jam berjalan dan dia sudah benar-benar takut. Dia tidak sanggup lagi.

Satu tangan Carol berpegangan pada tiang lampu sementara tangan yang lainnya memegang lututnya, napasnya tersengal-sengal menghirup oksigen dengan serakah.

Carol mengamati keadaan sekitar, tidak ada kereta kuda yang lewat satupun. Tidak ada orang lain di sana kecuali dirinya. Entahlah, dia tidak mau membayangkan kalau ada orang lain selain dirinya di sini bersembunyi di bawah kegelapan mengintai untuk merampoknya, memperkosa atau bahkan membunuhnya. Carol ingin menumpahkan semua air matanya, dia harap ini bukan malam tersialnya untuk bertemu seseorang yang tidak ingin wanita manapun jumpai. Orang yang terkenal karena telah membunuh beberapa wanita dan memutilasi mereka dengan kejam. Jack The Ripper.

Kenapa Scotland yard tidak bisa mengungkapkan siapa Jack The Ripper itu sebenarnya, kenapa mereka menangkap orang-orang yang mereka kira Jack The Ripper lalu membebaskannya lagi?

“Tuhan, aku mohon lindungi aku…” ucap Carol getir.

Carol merasakan kakinya mulai lemas, tapi dia tidak mau berada disini lebih lama lagi dia harus segera pulang. Berdiam diri terlalu lama di sini terlalu berbahaya. Carol menghirup udara banyak-banyak lalu mulai menyemangati dirinya sendiri bahwa dia harus terus berjalan meski dia akan selalu berhenti pada tiap lampu jalanan yang menyala.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” suara jeritan seorang wanita, menyayat hatinya dalam. Apa yang telah terjadi?

Carol memberanikan dirinya mendekat beberapa langkah ke gang buntu dekat lampu jalanan yang ia tinggalkan tadi.

Carol bersumpah ia tidak pernah membayangkan atau menginginkan melihat semua ini. seorang berjubah dengan topi sedang menyayat bagian perut wanita yang tergeletak bersimbah darah.

“KYAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Jerit Carol. pelaku penusukan itu terkesiap, ia melihat ke arah Carol, mulai sadar bahwa aksinya malam ini dilihat oleh seseorang.

Carol melihat keadaan sekeliling tidak ada siapa-siapa bagaimana ini?

Jack The Ripper berlari ke arahnya mengacungkan pisaunya yang berkilat merah terkena darah korbannya malam ini. Carol rasa inilah akhir dari hidupnya, kakinya sudah terlalu lemas untuk berlari. Tidak beberapa lama lagi mungkin dia akan mati, sama seperti gadis tadi.

Buuuuuuuuuugggggggggggh!!!

Kepalanya mulai pening, Jack The Ripper mungkin ingin sedikit berbaik hati padanya. Membiarkan kesadarannya hilang baru dia akan melancarkan aksinya. Carol tidak tahu apa yang terjadi setelahnya tapi jika ini benar-benar akhir dari hidupnya maka dia akan berusaha menerimanya.

***

Carol mendengar kicauan burung gereja yang setiap pagi selalu mampir di jendelanya, merdu. Mendengarkan kicauan mereka membuat permulaan harinya terasa mudah. Carol mengerutkan keningnya masih dengan mata yang terpejam apa dia sudah ada di surga? Seingatnya malam tadi adalah akhir hidupnya. Ya, pasti dia sudah ada di surga.

“Carol kau bisa mendengarku?”

“Carol?”

Suara itu, tidak asing. Rachel kan? suara Rachel!

“Carol syukurlah!” Rachel menyambut hangat Carol yang membuka matanya, ia memeluknya seakan yang terbaring disana bukanlah pelayannya tapi kakaknya sendiri.

“Apa yang terjadi?”

“Kau tidak mengingatnya? Kau hampir mati tadi malam!” Carol menyipitkan mata mendapati Viscount Walcott dan istrinya juga ada di kamarnya.

“Aku masih hidup?” tanya Carol lebih kepada dirinya sendiri.

“Sepertinya kau sangat beruntung…” kata seorang pemuda yang duduk di pinggiran ranjangnya, ia baru sadar ada pemuda itu. Pemuda itu!

“Richard Wayne.” kata pemuda itu sambil mengulas senyum seakan mengerti isi pikiran Carol. Bukan perjumpaan pertama mereka tapi ini pertama kalinya mereka berkenalan secara formal, mereka pernah berdansa bersama tapi tidak pernah mengetahui nama masing-masing.

Pemuda itu mengulurkan tangannya, Carol mengerutkan dahinya namun kemudian mengulurkan tangannya juga menyambut uluran tangan Richard Wayne, pemuda itu tertawa. Wajah Carol menjadi merah mendapati pemuda itu tertawa, apa dirinya begitu lucu hingga pemuda itu tertawa?

Pemuda itu membalik tangan Carol memeriksa nadinya. “Tekanan darahmu normal!”

“Untung sekali ada dokter di sini! Kau beruntung Rachel, Richard tunanganmu adalah seorang dokter!” Aurora Walcott mendekati Rachel anaknya, Rachel tersenyum memandang Richard dengan kagum. Ya, Rachel memang beruntung. Carol mengasihani dirinya sendiri, ia yakin semua ini salahnya. Ia sudah pernah memperingatkan dirinya sendiri untuk tidak melakukan kebodohan tapi rupanya dia sebodoh ini! Jika saat ini hatinya menjadi sakit tentu ini semua memang karena kebodohannya.

***

“Bagaimana menurutmu?” Viscount Walcott terlihat sangat antusias dengan pendapat Richard mengenai teorinya tentang identitas Jack The Ripper yang sebenarnya. Bahkan Viscount Walcott tidak membiarkan Richard menyentuh sendoknya, terus meminta pendapat pemuda itu tentang teorinya yang ia anggap dapat membuat Scotland yard kehilangan muka karena Viscount Walcott bahkan dapat menganalisis kasus ini lebih cepat dibanding polisi-polisi lamban seperti mereka.

“Suamiku, kau tidak membiarkan calon menantu kita untuk menikmati sarapannya! Maafkan suamiku Richard, dia memang suka begitu jika membicarakan Jack!” sela Mrs. Walcott sebelum suaminya itu benar-benar membuat calon menantu mereka kelaparan.

“Tidak apa-apa Madame, aku senang kami bisa cepat akrab seperti ini.” Richard tersenyum sebentar kemudian senyumnya memudar saat Carol datang dari pintu bersama kereta dorong membawa ayam kalkun panggang yang lumayan besar. Carol nampak pucat dan sedikit lebih pendiam dari biasanya.

“Jadi bagaimana menurutmu?” Richard kembali mengalihkan tatapannya pada Viscount Walcott, mencoba mengingat-ingat topik pembicaraan mereka sebelumnya.

“Aku setuju dengan teorimu Sir, Jack The Ripper bisa jadi siapa saja. Dia bisa saja pria maupun wanita, terpelajar maupun tidak, gila atau pun waras.” Richard melihat kepuasaan Viscount Walcott atas jawabannya.

“Lalu bagaimana dengan Carol? apa pendapatmu tentang dia kenapa Jack The Ripper tidak membunuh dia padahal Carol satu-satunya saksi mata malam itu.” Carol terlihat lebih pucat dari pada tadi, yah. Dia belum bisa bernapas lega, masih ada kemungkinan Jack The Ripper akan membunuhnya karena kejadian semalam.

“Hmmm…” Richard menggosok-gosok dagunya, memikirkan semua kemungkinan yang ada.

“Mungkin Jack The Ripper tidak ingin membuang waktunya untuk melukai orang yang memang bukan sasarannya,” Richard menatap Viscount Walcott tajam kemudian melanjutkan kata-katanya. “Atau mungkin Jack The Ripper telah menemukan alasan untuk berhenti melakukan pembunuhan lagi…”

***

“Kau hebat Richard!” Rachel bertepuk tangan saat Richard selesai memainkan biola, menghipnotis semua orang di ruang tamu ke dalam alunan merdu yang cenderung sendu itu.

“Terima kasih.” Richard membungkuk hormat ke arah Viscount Walcott dan istrinya yang duduk di sofa, Richard melirik Carol yang berdiri di samping sofa sekilas. Wajah gadis itu masih saja pucat, hal itu sedikit mengganggu konsentrasinya tadi.

“Ehem…” Aurora Walcott berdehem ke arah suaminya yang masih terkagum-kagum dengan talenta calon menantu mereka. “Hmmm?” tanya Viscount Walcott tak mengerti.

“Suamiku, bukan kah kita ada agenda lain setelah ini?”

Viscount Walcott mengerutkan dahinya, “Agenda apa? Jadwalku kosong sayang ini kan weekend!” kata Viscount Walcott polos.

Aurora Walcott memijat keningnya sebentar, suaminya terlalu polos atau terlalu bodoh sebenarnya?

“Sayang, kita biarkan mereka berdua saja.” bisik Aurora pada suaminya yang kelewat polos.

“Oh…tapi kenapa?”

“Astaga sayang, ayo!” Aurora Walcott menarik suaminya dari sofa, mereka terus berdebat karena Viscount Walcott tidak mengerti kenapa dia harus meninggalkan Richard padahal dia masih ingin berbincang dengan calon menantunya itu.

“Kau mau berdansa?” tanya Rachel pada Richard, Richard menggeleng karena sedari tadi dia terus memandang Carol yang pucat seperti mayat.

“Sebaiknya kau istirahat!” Richard mengabaikan ajakan Rachel untuk berdansa bersama, Richard menghampiri Carol yang kelihatan sudah tidak kuat berdiri. Richard menggenggam bahu Carol erat memapahnya menuju sofa.

“Carol, kau baik-baik saja?” tanya Rachel setengah kecewa gara-gara Carol, Richard menolak ajakannya.

“Rachel, kau bisa mengambilkan minum untuk Carol? aku akan membawanya ke kamar, aku rasa dia sakit.”

“Mmmm… tidak usah aku baik-baik saja.” tolak Carol.

“Kau tidak baik-baik saja Carol!” bentak Richard.

“Apa yang kau lakukan?!” berontak Carol saat Richard menggendongnya, Richard tidak peduli tatapan Rachel yang terlihat ingin menerkam mereka.

“Aku akan memaksamu beristirahat Miss!” Kata Richard sebelum pemuda itu meninggalkan ruang tamu, meninggalkan Rachel yang merah-padam menahan emosinya melihat tunangannya begitu menaruh perhatian terhadap pelayan rumahnya.

***

“Selamat malam nona!” saat Rachel membuka pintu muncul anggota Scotland yard yang semalam datang bersama Carol yang tidak sadarkan diri.

“Selamat malam.” balas Rachel sambil membuka pintu rumahnya sedikit lebih lebar agar beberapa orang petugas Scotland yard itu bisa masuk.

“Kami datang bersama atasan kami, seperti yang aku katakan semalam.” anggota Scotland yard itu nampak bersemangat, Rachel sedikit acuh dengan kedatangan segerombolan Scotland yard ke rumahnya.

“Nona, bukankah kita pernah berjumpa sebelumnya?” Rachel mengerutkan dahinya saat seseorang yang berpenampilan lebih rapi dari pada angota Scotland yard lain menyapanya.

“Kau melupakanku? Bukankah kita pernah berdansa bersama di pesta Viscount Wayne?”

“Oooooooooohh!!!” Rachel berseru senang saat seseorang yang hampir saja ia kira hanya akan menjadi kenangannya kini muncul di depan mata.

Lord Aiden silahkan duduk!” Petugas Scotland yard yang nampak bersemangat tadi mempersilahkan atasannya untuk duduk.

“Terima kasih Nathan!” kata Aiden sebelum pemuda bermantel cokelat muda itu duduk di sofa ruang tamu seperti anggota Scotland yard yang lain.

“Kami kemari untuk menemui Miss Carol.” kata Aiden yang diikuti perubahan ekspresi Rachel yang berubah menjadi lebih masam.

“Sebelumnya bolehkah kami menemui Viscount Walcott untuk meminta ijin?” sambung Aiden, Rachel mengangguk lalu segera beranjak masuk ke dalam untuk mencari orang tuanya.

Selang beberapa menit Viscount Walcott dan istrinya keluar dari dalam, Viscount Walcott nampaknya sedikit terganggu mendapati ada segerombolan Scotland yard di ruang tamunya.

“Selamat malam Sir!”  sapa Aiden sambil berdiri, mengulurkan tangannya.

Viscount Walcott melewati Aiden tanpa menyambut tangan pemuda itu, Viscount Walcott duduk dengan sikap yang dingin.

Sir, kami datang kemari untuk menemui Miss Carol. Kami ingin menanyainya mengenai kejadian tadi malam.” kata Aiden tetap ramah meskipun Viscount Walcott menolak berjabat tangan dengannya.

“Apa kau yakin bisa menyelesaikan kasus ini dengan cepat anak muda? Kau tahukan semua orang mulai resah dengan kasus ini, sudah banyak gadis-gadis muda yang mati di tangan pembunuh sadis itu.” Aiden melihat ada nada meremehkan dari ucapan Viscount Walcott tadi tapi dia tidak terlalu ambil pusing.

“Tentu Sir, kami telah mengantungi sebuah nama yang kali ini tidak akan salah lagi. Aku sendiri kemarin telah menyusup ke sebuah pesta untuk memastikannya.”

Rachel yang duduk disamping ibunya sedikit terkejut. Jadi pesta malam itu merupakan bagian dari penyamaran Aiden untuk kasus ini? Jadi mungkin juga kedekatan mereka malam itu hanya kamuflase untuk menyempurnakan penyamarannya.

“Memastikan apa?” tanya Viscount Walcott penasaran, “Tapi semoga kalian benar kali ini.”

“Tidak Sir, kali ini kami sangat yakin. Kami sudah mengumpulkan bukti-bukti dan sudah sangat cukup untuk membawa Jack The Ripper ke tiang gantungan!” kata Aiden dengan penuh keyakinan.

“Apa kau datang ke pesta Earl Wayne malam itu karena Jack The Ripper ada di pesta itu?” tanya Rachel yang tidak kalah antusias dengan ayahnya.

“Tidak,” jeda Aiden untuk memberikan efek dramatis. “Pelakunya adalah pemeran utama di pesta itu…”

Jantung Rachel yang tadi meletup-letup mendengarkan kata-kata Aiden kini melemah, desiran-desiran aneh tiba-tiba memenuhi dadanya.

“Putera tertua mereka The Courtesy Richard Wayne, kami memeriksa ijazah nya dan kami terkejut saat menemukan bahwa dia tidak sekolah ke dokteran di Amerika dia ada di Inggris, tidak pernah kemana-mana. Dia menamatkan sekolah kedokterannya di Inggris. Baground kedokteran cocok untuk menjelaskan kenapa di setiap korbannya Jack The Ripper menyayat mereka dengan sangat rapi…” Aiden sedikit terkejut mendapati raut wajah keluarga Walcott yang menjadi pucat.

“Tapi semua itu tidak cukup untuk menjerat Richard, kau juga perlu mencurigai dokter-dokter yang lain!”

“Ya Sir, tetapi kejadian semalam memberi kami titik terang.” Aiden memberi kode kepada Nathan untuk mengeluarkan sesuatu. Nathan mengangguk, berdiri lalu mengeluarkan sesuatu berbungkus plastic dari balik mantelnya.

“Kami menemukan cincin bermata Sapphire Blue ini di dekat Miss Carol saat dia di temukan tidak sadarkan diri. Kami datang kemari untuk menanyai Miss Carol apakah dia ingat bahwa Jack The Ripper mengenakan cincin ini semalam. Cincin ini bukan cincin sembarangan, cincin ini dibuat khusus untuk pewaris keluarga Wayne!”

Rachel, ayah dan ibunya saling berpandangan. Mereka tidak pernah mengira Richard tunangan Rachel adalah Jack The Ripper. Jack The Ripper ada di rumah ini!

“CAROL!” jerit Rachel membuat semua orang terkejut.

“Richard ada disini, bersama Carol!” Carol dalam bahaya!

“Nathan!” perintah Aiden dan anggota Scotland yard yang ada disana mulai berpencar ke segala arah untuk menemukan Richard.

“Tidak ada!”

“Tidak ada!”

Seketika kaki Rachel lemas, ia duduk bersimpuh di lantai menatap hampa petugas Scotland yard yang berlalu-lalang di depannya menyampaikan kabar bahwa di sudut manapun di rumah itu mereka tidak menemukan Richard maupun  Carol.

***

Derap kereta kuda beradu dengan deru napas Carol yang sedikit berat karena demam yang perlahan menyeret kesadarannya. Sementara Richard hanya duduk di kusi yang berhadapan dengan Carol menatapnya lekat. Richard membawa gadis itu bersamanya tanpa perlawanan karena gadis itu mengira dia sedang tidur di kasurnya yang nyaman, gadis itu mulai tertidur karena kepalanya sejak tadi sangat pening.

Lord Richard, kita sudah sampai!” kata pelayan Richard yang semenjak tadi duduk di depan kursi kemudi di luar kereta, memastikan kuda-kuda terbaik keluarga Wayne membawa majikannya ke tempat tujuannya dengan benar.

“Terima kasih, setelah ini sebaiknya kau pergi!” Richard membuka pintu kereta lalu menggendong Carol yang berselimut mantelnya keluar. Angin malam berhembus menyapa mereka, dingin. Tapi tidak cukup dingin untuk membuat Richard menggigil karena sejak awal hatinya memang dingin.

Richard melangkahkan kakinya pasti menuju dermaga yang sepi, sengaja ia memilih dermaga di daerah pinggiran agar tidak terlalu banyak orang. Sebuah perahu kecil dan sepasang dayung yang siap di kayuh menunggu untuknya.

“Carol!” Richard menyebut nama Carol dengan sangat lembut, dia tidak tega membangunkan Carol yang masih dengan cantik tertidur di pelukannya.

Carol menggerakkan pelupuk matanya hingga tak beberapa lama matanya perlahan mulai membuka. Carol merasa asing, langit-langit kamarnya kini berganti dengan langit malam luas yang dipenuhi taburan bintang. Kasurnya yang nyaman juga berganti dengan pelukan Richard, tunangan Rachel.

“Aku dimana?” tanya Carol pada pemuda beriris mata abu-abu itu. Richard mengulas senyum yang sangat tipis di bibirnya.

“Dermaga, boleh aku menurunkanmu sekarang?” Carol mengedipkan matanya menyadari bahwa dari tadi Richard menggendongnya. Carol mengangguk. Richard perlahan-lahan menurunkan Carol tapi tidak membiarkan tangannya melepas tangan Carol sama sekali. Tangan Carol terasa panas, mungkin demam Carol belum turun.

“Carol, tolong maafkan aku…” Richard menggenggam tangan Carol erat, ia menatap gadis dihadapannya itu dengan penuh penyesalan.

“Aku tidak mengerti, maaf untuk apa? Lalu kenapa kita ada disini?” Carol merasakan angin dingin berhembus sangat kencang, ia tidak tahu sejak kapan ada mantel yang menyelimuti tubuhnya. Dia tidak punya mantel seperti ini jadi ini pasti milik Richard.

“Maafkan aku karena aku menyukaimu, aku tidak seharusnya menyukaimu…” Richard menundukkan kepalanya menyadari bahwa mencintai Carol adalah kesalahan terbesarnya, bukan karena gadis itu pelayan atau karena gadis itu Richard tidak memiliki hasrat untuk membunuh gadis-gadis muda tuna susila yang di benaknya selama ini di liputi dendam pada gadis-gadis seperti mereka, ibunya menjadi gila karena ayahnya kerap berselingkuh dengan gadis-gadis seperti mereka. Richard menyesali perasaannya karena tidak seharusnya pembunuh berlumur dosa sepertinya mencintai gadis baik-baik seperti Carol.

“Kau…kau menyukaiku?” tanya Carol setengah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.

“Tapi pembunuh berlumur dosa sepertiku tidak seharusnya menyukai gadis baik sepertimu…”

Carol merasa ada yang salah dengan pendengarannya. “Pembunuh?”

Richard tertawa pahit kemudian ia menatap Carol tajam. “Aku Jack The Ripper, orang yang bertanggung jawab atas semua pembunuhan gadis-gadis muda belakangan ini!” Richard sekarang merasa miris mengakui dirinya sebagai Jack The Ripper, tidak seperti yang selama ini ia banggakan jika ia berhasil membunuh korbannya. Richard menyesali dirinya yang selama ini dibutakan oleh dendam yang tidak masuk akal, lalu sekarang saat  dirinya sudah sadar sepenuhnya dia harus meninggalkan gadis yang sangat dicintainya, gadis yang sanggup membuka mata hatinya yang selama ini tertutup dendam.

JackJack The Ripper?” Carol melepaskan genggaman tangan Richard, ia melangkah menjauhi Richard. Jack The Ripper ada disini, dan mungkin berencana menenggelamkannya ataupun menyayat-nyayat Carol seperti gadis-gadis korbannya yang lain untuk  melenyapkannya.

“Aku sudah kehilangan semua hasrat untuk membunuh setelah melihatmu tadi malam, aku selalu terbayang wajahmu yang berbalut ketakutan pada wajah semua wanita. Aku menyesali perbuatanku…” Richard melangkah mendekati Carol tapi Carol melangkah mundur.

“Sepertinya aku benar-benar telah mengecewakanmu…”

Carol merasakan perih dalam hatinya, pemuda yang ia kira berbeda karena tidak seperti bangsawan lainnya yang penuh dengan kepalsuan benar-benar berbeda jauh dengan bayangannya. Meski ia tahu bahwa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan tapi kenyataan bahwa Richard adalah Jack The Ripper membuat hati Carol lebih sakit dari pada sebelumnya, dari pada mengetahui bahwa Richard adalah tunangan Rachel.

“Aku akan pergi dari negeri ini, maafkan keegoisanku yang ingin melihatmu terakhir kalinya sebelum aku pergi. Maafkan aku Carol!” Richard tidak memaksa untuk mendekati Carol lagi, Richard berbalik. Ia mendekat ke arah perahu kecil yang akan membawanya berlayar menyebrangi lautan Inggris menuju kemanapun.

Carol melelehkan air matanya di pipi, dia ingin berlari mencegah pria itu untuk pergi. Memeluknya, memeluknya dengan sangat erat agar pemuda itu tidak pergi tapi dia tidak bisa. Jika Richard tetap di sini akan sangat berbahaya, Scotland yard bisa membawanya ke tiang gantungan atau bahkan memenggal kepala Richard.

Richard mulai ragu saat tinggal selangkah lagi ia mencapai perahu, ia berbalik lari menuju Carol. Meraih pinggang gadis itu lalu menghadiahkan ciuman perpisahan. Carol menangis, ciuman pertama sekaligus terakhir mereka dihiasi oleh air mata Carol yang menganak sungai.

Richard memeluk Carol erat, menempelkan hidungnya ke leher Carol, menghirup wanginya lama. Ia ingin mengingat bau Carol, ia tidak ingin melupakan Carol sedikitpun. Bagaimana wajahnya, sikapnya, aroma tubuhnya, rambutnya. Ternyata Richard memang sangat mencintai gadis itu, Richard menyukai semua tentang Carol. Tidak ada celah yang ia temukan untuk tidak jatuh cinta pada gadis itu.

“Selamat tinggal!” Richard tersenyum untuk terakhir kali, mengucapkan selamat tinggal pada gadis yang sangat dicintainya. Carol melambaikan tangan, melihat Richard sudah duduk di perahu kecil itu mengayuhnya dengan sekuat tenaga. Malam berbintang menemaninya melepas orang yang dicintainya pergi, Richard meninggalkan mantelnya untuk Carol. Carol merapatkan mantel itu ke tubuhnya, rasanya seperti Richard ada disini memeluknya memberinya kehangatan dan perlindungan.

Derap puluhan kaki kuda terdengar, Carol yakin benar itu rombongan Scotland yard yang ingin menangkap Richard. Carol menatap ke arah lautan lepas, perahu Richard sudah tidak terlihat lagi.

“Selamat tinggal…”

***

~END~

***

catatan :

 

Tingkat gelar bangsawan Inggris

  1. Duke (untuk keluarga kerajaan dll)
  2.  Marquess
  3. Earl (setingkat gubernur kerajaan)anak tertuanya mendapat gelar The Courtesy
  4. Viscount
  5. Baron

 

 

Aneh, Gaje, bingungin dan bosen. Huahahha…

Aku udah bisa duga pasti kesan-kesan itu yang kalian dapet dari FF ini, hehhe…

Hmmm… ini genre non full romance yang coba aku bikin, aneh banget yah? Dan musingin?

Oke sama kalau gitu aku juga pusing bikinnya,hehe…

Makasih buat yang mau baca^^

#poppo

[One Shoot] Actually I Love You

Let Me Say Happy B’day To My Favorite author ‘Ijaggys’

Is it Late? kekekeke XD

gak tau juga orangnya baca atau gak, ini FF ‘sisa export’

FF yg gak jadi aku kirim buat ikut lomba ultah dia^^

Dan FF yg aku kirim juga gak menang..fufufu~~

Ok, Happy reading all^^

***

When you feel like there’s no way out

Love is the only way

***

Salju turun lebat diluar sana, membuat jendela nampak berembun. Efek dari kaca-kacanya yang membeku. Cheonsa menghembuskan napasnya pelan, kembali memfokuskan perhatiannya pada suasana kelas yang sedikit gaduh karena teman Turki nya sibuk berdebat dengan guru bahasa Belanda mereka mengenai materi pelajaran, Cheonsa kembali melemparkan fokusnya pada jendela kelas. Dia bosan, teman Turki nya selalu saja menanyakan pertanyaan yang sebenarnya sudah terpecahkan minggu lalu. Cheonsa mungkin harus berterima kasih pada teman Turki nya nanti. Karena berkat dia, mereka -satu kelas- harus mengulang materi yang sama setiap minggunya. Entah temannya itu sedang berusaha mencari perhatian guru atau dia benar-benar tidak tahu tapi yang jelas Cheonsa bosan.

Cheonsa menyelami pikirannya lama, dia sedikit kecewa. Ralat, sangat kecewa mendapati dirinya harus mengikuti winter class bahasa Belandanya di desa terpencil Maasmechellen, kota pinggiran Belgia yang sebagian besar warganya adalah imigran baik gelap maupun terang. Terjebak di St. Barbara Institute yang di dominasi orang Turki dan Maroko, bukan masalah sebenarnya. Bukannya dia antipati dengan kedua Negara itu, hanya saja kebanyakan dari mereka tidak fasih berbahasa Inggris maupun Belanda alhasil dia harus menambah bahasa tubuh dan bahasa kalbu sebagai bahasa tambahan sehari-harinya.

Cheonsa melirik ke depan kelas sebentar, perdebatan itu belum usai. Jadi dia masih ada sedikit waktu untuk menikmati salju yang turun di luar sana. Setidaknya salju bisa menghiburnya dari kebosanan yang hampir membunuhnya itu. Dia merindukan salju yang turun di Seoul, kadang dia bersama teman-temannya keluar membuat boneka salju maupun melakukan perang bola salju. Menyenangkan, dan kadang jika salju tidak turun begitu lebat mereka biasa pergi bermain ski. Ia rindu masa-masa itu, tapi biarlah semua itu ia jadikan penyemangat tujuannya datang jauh-jauh kemari. Maastrich University yang ada di Lanaken, Belgia, yang membuatnya harus menguatkan dirinya untuk tetap ada disini. Sebab penguasaan bahasa Belanda menjadi modal dasar untuk dia dapat masuk ke universitas itu. Dia sedikit iri dengan teman berkebangsaan Jerman, Mexico,Columbia dan Bellarusia nya. Mereka menempuh winter class bahasa Belanda mereka di desa lain, di Lanaken. Hanya sekitar 3 kilometer dari Maastrich University, yang ia tahu di sana sebagian besar muridnya adalah International students yang tentunya fasih berbahasa Inggris. Setidaknya jika dia ada disana dia tidak usah melakukan pantomim saat menugaskan temannya untuk mengantarkan buku ke ruang guru atau mempraktekan gerakan makan saat dia mengajak temannya untuk makan siang.

Tapi nasib malang itu bukan miliknya seorang, ada dua orang lainnya yang harus bersusah payah seperti dia. Seorang gadis berkebangsaan Jepang bernama Haruna Katou dan pria Korea bernama Lee Dong Hae memiliki nasib yang hampir mirip dengannya. Mungkin karena kesamaan nasib itulah yang membuat mereka lebih sering berkomunikasi dan menjadi akrab. Atau mungkin juga karena mereka sama-sama berasal dari bagian timur Asia.

Haruna, bukan orang yang begitu asing bagi Cheonsa. Sebab mereka tinggal di flat yang sama. Kebetulan yang seakan menyatukan mereka dalam takdir. Cheonsa melirik Haruna sebentar, gadis itu menopang dagunya dengan satu tangan. Tertidur, meskipun dengan mata terbuka. Cheonsa juga baru tahu kebiasaan aneh sahabatnya itu setelah sekian lama mereka tinggal di satu atap yang sama.

Dan Lee Dong Hae, Cheonsa melirik sinis pria dengan kepercayaan penuh bahwa dirinya adalah makhluk tertampan di muka bumi. Pria itu terlalu percaya diri untuk ukurannya, sebenarnya dibanding dengan teman-teman mereka yang berasal dari Negara lain pria itu bisa dikatakan pendek. Tapi dia tidak pernah menggubris soal tinggi badannya, dia merasa anugerah wajah tampannya cukup untuk menutupi kekurangan kalsiumnya.Ck..terlalu percaya diri.

***

Haruna melilitkan kembali syal rajutan berwarna putih gading itu kelehernya, hangat. Sedangkan Cheonsa sibuk menghangatkan tangannya dengan menggosok-gosokkan kedua tangannya yang terbalut sarung tangan. Donghae masih di kelas, masih di kelilingi fan girls nya yang biasa mengadakan fanmeeting setelah kelas selesai. Biasanya fanmeeting itu berlangsung lama jadi Cheonsa dan Haruna lebih memilih untuk meninggalkan Pangeran-ikan-playboy itu dari pada ketinggalan bus menuju flat mereka yang ada di Lanaken.

Oh My God Haruna, It’s Sunday!” pekik Cheonsa. Haruna hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.

“Bagaimana jika dia ada di sana?” Cheonsa panik. Dia tertahan di tengah perjalanan mereka menuju halte bus.

Haruna masih tersenyum, dia tahu siapa yang Cheonsa maksud. “Lelaki berkebangsaan Belanda yang setiap minggu sore selalu menunggumu di hatle dekat flat kita?” Cheonsa mengangguk, kemudian bibirnya ia kerucutkan.

“Kenapa tidak kau terima saja lamaran nya? Menjadi istri pria tampan seperti itu bukankah suatu kebanggaan?” canda Haruna sambil terkekeh geli melihat ekspresi Cheonsa.

Cheonsa menyipitkan matanya kearah Haruna, lalu tertawa hambar. “Melamar seorang gadis yang baru dia temui empat kali lalu hanya pernah mengobrol sekali memangnya wajar?”

“Tentu saja tidak. Lalu kau mau kita bagaimana sekarang?” tawa Haruna mulai reda, kini dia serius bertanya pada Cheonsa yang mulai tiga minggu lalu selalu panik jika hari minggu tiba. Karena akan ada pria Belanda yang menunggu di halte mengejar-ngejarnya untuk menikah.

“Memutar lewat Hasselt…” tapi Cheonsa tak meneruskan kata-katanya. Dia ingat tepat minggu lalu dia memaksa Haruna mengikuti idenya untuk memutar lewat kota Hasselt tapi naas mereka yang memang tidak begitu tahu seluk-beluk kota Hasselt jadi tersasar. Alhasil mereka sampai flat larut malam. Dan esoknya Donghae hanya tertawa-tawa mendengar cerita mereka.

“Kita pakai cara yang biasa saja.” tawar Haruna. Cheonsa mengangguk, dia kemudian menatap ke arah bawah, ke kakinya sendiri lalu ke kaki Haruna. Bagus, tidak ada yang memakai boots berhak tinggi jadi mereka bisa lari secepat yang mereka bisa jika pria Belanda itu muncul.

***

I’m still scared of love

So give make me trust you

I said oooh, don’t make me jealous

Oooh, don’t make me become obsessed

Cheonsa sibuk mengaduk hot chocolate-nya di dapur hingga terdengar denting suara sendok dan cangkir yang beradu, sedangkan Haruna berada di sofa futcha berwarna ungu tua yang berada di ruang depan membaca manga kesayangannya.

“Kau mau hot chocolate juga dear?” tanya Cheonsa dari arah dapur.

“Tidak.” jawab Haruna singkat, dia memang tidak suka melakukan aktifitas apapun sambil membaca manga. Ketegangan dan keseruan cerita akan buyar begitu saja jika dia menduakan manga nya dengan hal lain, biarpun itu menyesap hot chocolate.

Cheonsa yang datang dari arah dapur menepuk bahu Haruna, mengisyaratkan gadis itu untuk bergeser karena Cheonsa ingin duduk di sebelahnya. Menimati hot chocolate sambil menonton televisi. Haruna bergeser ke pojok kiri sofa sambil masih terfokus pada manga nya.

Beberapa menit kemudian Haruna sudah selesai membaca, dia ikut menonton televisi seperti yang Cheonsa lakukan. Tapi dia menjadi bosan, karena  discovery channel memang bukan salah satu daftar acara televisi kesukaannya.

“Kau tidak bisa begini terus dear…” Kata Haruna sambil meraih remote dan mengganti saluran televisi. Cheonsa menatap Haruna kesal, tapi detik berikutnya dia mulai menanggapi pembicaraan Haruna. “Maksudmu soal apa?”

“Pria Belanda tadi, untung saja tadi dia tidak berhasil mengejar kita.”

Cheonsa mendadak hilang selera untuk menyeruput hot chocolate nya lagi, topik itu memang sangat sensitif baginya. “Jadi?” Cheonsa menaikkan satu alisnya. Kali ini dia meletakkan cangkirnya di meja dan mulai serius menatap Haruna yang saat ini sama seriusnya dengan dia.

“Kau tidak menyuruhku untuk menerima lamarannya kan?” tanya Cheonsa curiga, jangan-jangan ucapan Haruna tadi siang tentang menerima lamaran pria itu serius.

Melihat ekspresi Cheonsa yang mendadak pucat, Haruna jadi geli. Dia tertawa. “Bukan, bukan itu…” kekeh Haruna.

“Lalu?”

Haruna menarik napas panjang, oke ini bukan saatnya tertawa. “Kau harus mencari perlindungan,” kemudian dia melanjutkan. “Bukan body guard atau semacamnya, tapi maksudku adalah seorang boyfriend. Mungkin saja jika pria Belanda itu tahu kau sudah memiliki seseorang dia akan menjauh dengan sendirinya.”

“Tidak.” Cheonsa menolak ide Haruna mentah-mentah. seorang pacar? yang benar saja!

“Kenapa?”

Cheonsa yang semula menatap dua bola mata Haruna kini memandang berkeliling, masalahnya mencari seseorang itu tidak mudah. Dan dia rasa disini, belum ada seorang pria pun yang menarik baginya.

“Entahlah, hanya aku belum menemukan seseorang yang tepat…”

“Bagaimana dengan Donghae? dia cukup menarik dan kelihatannya dia sangat tertarik padamu.” Cheonsa kembali menatap Haruna, Lee Donghae bahkan mereka tidak pernah bicara berdua saja. Mereka selalu bicara bertiga dengan Haruna, jadi dari mana Haruna menyimpulkan kalau Donghae menyukainya. Dan lagi, pasti fan girls Donghae akan mencakar-cakar wajahnya jika mereka menjalin hubungan. Dan Cheonsa bersumpah lebih memilih berlari tiap minggu sore menghindari pria Belanda itu dari pada menjadi korban cakaran fan girls Donghae.

“Kau tahu dear, kadang aku merasa kau dan Donghae itu seperti satu-satunya Mamoth jantan dan betina yang tersisa dan kalian memiliki tanggung jawab besar untuk kelangsungan spesies kalian kedepan.” Cheonsa menatap Haruna tajam. Cheonsa benar-benar merasa buruk, inilah akibatnya jika sahabatnya itu masih gemar menonton film anak-anak di usia seperti ini.

“Berhenti memfantasikan Ice Age 2 ke dalam hidupku!” Cheonsa mengambil sebuah bantal yang ada di lantai lalu melemparkannya tepat ke wajah Haruna. Haruna hanya terkikik geli mendapati wajah Cheonsa yang merah-padam.

***

All day, I keep thinking about you

All day, I just stare at my phone that’s not ringing

Why don’t you know my heart being like this yet?

I still don’t know your heart either

Cheonsa menarik kursi ke belakang lalu mulai berdiri untuk memasukkan buku-buku nya ke dalam tas. Kelas sudah usai jadi sekarang saatnya untuk kembali ke flat dia yang hangat, karena dari tadi matahari terus bersembunyi di balik awan. Membuat udara menjadi dingin, ditambah hari ini dia harus berangkat sendirian karena Haruna harus menemui seorang kenalannya di Amsterdam yang katanya sedang sakit dan membutuhkan Haruna segera.

“Kemana Haruna?” tanya Donghae sambil membantu Cheonsa untuk memasukkan buku-buku ke dalam tas gadis itu.

“Amsterdam, kenalannya sakit.” jawab Cheonsa ketus. Entah karena saat itu mereka hanya berdua sehingga membuat Cheonsa sedikit grogi atau karena pada dasarnya gadis itu memang tidak terlalu menyukai Donghae jadi dia menjawab dengan nada ketus.

“Kalau begitu ayo kita makan siang dulu nanti akan kuantar pulang.” tawar Donghae, Cheonsa mengangguk setuju.

Donghae menarik napas lega, akhirnya kesempatan untuk berdua saja dengan Cheonsa datang juga. Sudah lama dia ingin berdua saja dengan Cheonsa tapi gadis itu terus saja bersikap dingin padanya jadi Donghae sering merasa ciut, tapi hari ini akhirnya datang dan Donghae merasa sangat senang. Dia berharap ada kemajuan diantara mereka, minimal selanjutnya Cheonsa harus sadar kalau selama ini Donghae menyukainya, entah Cheonsa itu terlalu polos dalam hal seperti ini atau Cheonsa hanya sedang membohongi dirinya sendiri bahwa dia juga merasakan perasaan yang sama seperti yang Donghae rasakan padanya,

Oppa!” teriakkan itu memecah keheningan Cheonsa dan Donghae, fan girls Donghae memanggil dia untuk segera memulai acara fanmeeting mereka.

“Maaf gadis-gadis tidak untuk hari ini!” kata Donghae sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada lalu menunjuk-nunjuk Cheonsa.

“Pergilah, aku bisa pulang sendiri. Lupakan soal makan siangnya.” Cheonsa menarik tasnya lalu segera meninggalkan Donghae. Dia tidak ingin mengganggu acara rutin idola dan penggemarnya itu.

“Han aku mohon, beri aku lima menit untuk mengurus mereka setelah itu kita bisa pergi.” Donghae menahan satu tangan Cheonsa, menahan langkah gadis itu. Kesempatan ini tidak boleh hilang.

Cheonsa melepas genggaman tangan Donghae cepat lalu menatap Donghae dengan galak. “Urus saja fans mu, aku bisa sendiri!”

Donghae lalu hanya mematung di depan pintu kelasnya, menatap sosok Cheonsa yang semakin menjauh sedangkan di belakang suara fans nya masih terdengar memanggil-manggil dia.

***

Cheonsa mengeluarkan OV-Chip card dari dalam tas lalu menempelkannya pada mesin di depan pintu bus setelah bus itu berhenti tepat di halte dekat flat nya. Dia sambil melamun turun dari bus dengan sangat pelan, pikirannya masih terpenuhi oleh Donghae. Pemuda itu entah kenapa selalu saja membuatnya kesal. Dan meskipun bus sudah lama berlalu Cheonsa masih ada disana, masih tidak bisa menghilangkan perasaan kesalnya.

Beautiful lady from heaven standing in front of me!” saat ia mendengar itu Cheonsa menatap lurus pria di hadapannya. Pria Belanda yang selalu menunggunya di halte ini, dan sialnya hari minggu ini dia sendirian. Pujian itu Cheonsa hapal benar, kalimat rayuan pria Eropa macam itu sama sekali tidak membuatnya senang justru malah membuatnya ngeri. Di halte itu hanya ada mereka berdua dan toko-toko di sekitar mereka tak banyak yang buka, suasana kota Lanaken di hari minggu lengang. Aneh memang, seharusnya toko-toko buka saat shopping day tapi hal ini merupakan salah satu kebijakan pemerintah setempat guna meningkatkan religiusitas warganya, karena pada hari minggu penduduknya harus pergi ke gereja.

Excuse me…” Cheonsa menghindar cepat, berusaha kabur dari pria Belanda yang jauh lebih tinggi darinya itu. Tampan, tapi sejujurnya Cheonsa sama sekali tidak tertarik dengan pria barat manapun. Atau mungkin pria manapun kecuali satu orang.

Wait a minute!” pemuda Belanda berusia sekitar dua puluh tahunan lebih itu mencengkram satu tangan Cheonsa, mungkin dia sudah hapal gerak-gerik Cheonsa selama ini jika dia berniat untuk kabur.

Let me go!” Cheonsa mulai histeris. Dia bersumpah, dia tidak pernah merasa lebih takut dari pada sekarang. Dia benar-benar takut, terlebih cengkeraman pria itu sangat kuat, dia takut terjadi hal yang tidak dia inginkan. Cheonsa benar-benar berharap ada seseorang yang menolongnya dari genggaman pria ini, dia takut. Sangat takut.

Pria itu terus saja merayu Cheonsa untuk minum kopi bersamanya, tapi Cheonsa menolak keras. Pergi minum kopi dengan pemuda yang baru di kenalnya bukan ide yang bagus, terlebih dia bisa merasakan niat jahat yang terselubung pada tawaran minum kopi pemuda itu.

Beautiful lady, let’s doing something fun…” Napas Cheonsa tercekat, pikirannya benar. Having fun yang dimaksud pemuda itu adalah having sex dan Cheonsa benar-benar merasa dalam bahaya.

Di tengah keputus asa-an nya meronta agar dilepaskan oleh pemuda itu, pemuda itu malah sibuk berceloteh tentang Cheonsa tidak perlu merasa rugi jika ikut bersamanya karena having sex bersama pria Belanda lebih baik dibanding pria Belgia, dan bla..bla..bla.. sama sekali bukan obrolan yang ingin Cheonsa dengar.

Cheonsa terus mengiba untuk dilepaskan sampai air matanya jatuh dari pelupuk matanya, tapi pemuda itu bagai sebuah patung es yang keras dan tidak berperasaan, kini pemuda itu malah menarik-nariknya. Memaksa Cheonsa untuk ikut secara paksa.

Cheonsa mengerahkan semua tenaganya untuk meronta tapi tentu saja hal itu percuma, tenaganya kalah dibanding tenaga pemuda itu. Kini Cheonsa hanya bisa berharap dalam hatinya bahwa Tuhan akan mengirimkan seseorang untuk menolongnya.

Tiba-tiba kepalanya dipenuhi bayangan wajah Lee Donghae, dia menyesal menjadi seseorang yang keras kepala dan munafik. Dia tidak harus mengalami semua ini jika dia mau bersabar menunggu Donghae yang hanya meminta lima menit padanya untuk menunggu.

Tapi rasa kesal saat fan girls Donghae dapat secara bebas memanggilnya ‘oppa’ itu tidak dapat dia tepis, dan dia benar-benar merasa buruk saat mereka merangkul Donghae, meminta foto atau hanya bicara. Dia cemburu, iya. Kenapa baru sekarang dia menyadari bahwa selama ini kecemburuan yang membuatnya selalu bersikap ketus pada pemuda itu. Kecemburuan yang selama ini selalu menutup mata dan hatinya tentang perasaan sebenarnya yang dia rasakan untuk Donghae. Tapi mungkin saja semua itu terlambat sekarang, dia tidak tahu setelah ini dia dapat menampakkan dirinya di depan pemuda itu lagi atau tidak, bahkan dia berpikir setelah ini dia masih bisa bernapas atau tidak.

“Donghae…” gumam Cheonsa pelan, sambil terus meronta. Dia benar-benar berharap Donghae ada disini, menolong dia dari semua mimpi buruk ini.

BRAAAAAAAAAK!

Cheonsa berlari menjauh dari pria Belanda yang kini tersungkur itu, Cheonsa berlari kearah Donghae yang ajaibnya muncul untuk menolongnya. Cheonsa dibanjiri perasaan lega saat melihat pemuda itu ada di depan matanya, seperti mimpi.

What are you doing?” kata Donghae sambil menendang-nendang bagian perut pemuda Belanda yang sudah tak berdaya akibat pukulan telak di daerah hidungnya tadi, hidungnya mengeluarkan banyak darah akibat tinju Donghae.

Don’t disturb her, she is mine!” Donghae lalu membuat gerakkan dengan dua jarinya seakan dia berkata “I got my eyes on you!” Setelah itu Donghae menarik Cheonsa pergi, menggenggam erat tangan Cheonsa yang bergetar hebat.

***

Donghae menuntun Cheonsa untuk duduk di sofa futcha ruang tamunya sedangkan dia sibuk mondar-mandir mencari kain apapun untuk menyelimuti Cheonsa agar gadis itu berhenti menggigil. Tapi biarpun setumpuk selimut dan sweater yang Donghae lampirkan ditubuhnya gadis itu tidak berhenti menggigil.

Donghae beralih ke dapur, mungkin minuman hangat bisa membantu Cheonsa. Donghae mengambil sebuah cangkir lalu buru-buru membuat teh. Donghae membawa secangkir teh panas itu ke meja. Donghae kemudian duduk di sebelah Cheonsa.

“Ayo minum dulu…” Donghae mengangkat cangkir tadi, berusaha membantu Cheonsa. Tapi gadis itu menggeleng, dia tidak mau minum teh. Dan sesungguhnya gadis itu juga tidak membutuhkan tumpukan selimut dan sweater yang membalut tubuhnya, mungkin yang dia butuhkan hanyalah sebuah pelukan dan seseorang yang berkata bahwa semuanya baik-baik saja.

“Maafkan aku Han, harusnya aku tidak membiarkanmu pergi sendiri. Aku menyesal, aku…aku… tidak akan memaafkan diriku sendiri jika tadi aku datang terlambat. Demi Tuhan, aku tidak bisa membiarkan sesuatu yang buruk menimpamu.” Donghae merasa tenggorokannya tercekat, kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar parau dan dia hampir menangis. Sungguh, dia ingin menangis jika dia melihat wajah Cheonsa.

“Terima kasih karena kau datang…” Donghae merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat ketika Cheonsa mengalungkan tangan ke lehernya. Gadis itu kemudian menenggelamkan kepalanya ke bahu Donghae, gadis itu menangis.

Donghae menatap gadis itu sebentar lalu mengusap puncak kepalanya sayang, dia bersyukur Cheonsa baik-baik saja. “Gwenchana, semuanya sudah lewat Han kau baik-baik saja sekarang dan aku berjanji aku akan selalu melindungimu. Aku janji Han…”

***

Salju mulai menipis di luar sana, mencair karena sebentar lagi musim dingin akan segera berakhir. Cheonsa menatap Haruna jahil, sesekali dia mengganggu jam tidur sahabatnya itu dengan menghembuskan napas kearah mata Haruna yang terbuka. Dan pada percobaan terakhirnya Haruna sudah dalam keadaan bangun maka langsung saja Haruna memencet hidung Cheonsa.

Tak jauh dari dua orang itu berada Donghae tengah menatap dua orang sahabat itu dengan senyum yang mengembang di wajah. Donghae bersyukur Cheonsa bisa ceria kembali, begitupun dengan Haruna. Haruna sempat merasa sangat bersalah karena dia meninggalkan Cheonsa sendirian waktu itu tapi untunglah Cheonsa tidak menyalahkan Haruna. Dan memang bukan salah gadis itu.

Donghae juga lega, pria Belanda itu sudah tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi, dan itu artinya Cheonsa aman.

“Psst~” Cheonsa membuyarkan lamunan Donghae.

“Apa?” tanya Donghae tak mengerti, dia memandang kearah Haruna dan gadis itu mengangkat bahunya, ia juga tak tahu apa yang Cheonsa inginkan. Cheonsa memberi kode agar dua orang itu menunggu sementara dia menuliskan sesuatu pada notes nya.

Dua menit, dan Cheonsa sudah merobek selembar kertas dari notes nya, memberikannya pada Haruna yang saat itu duduk di tengah-tengah antara Donghae dan Cheonsa.

Haruna membuka kertas itu, membacanya bersama Donghae.

Aku benar-benar merasa seperti Mamoth betina yang terpaksa jatuh cinta pada Mamoth jantan…

Kekeke…

Let’s be honest, I really love that Male Mamoth

PS : Oppa, you should lose some weight.. you look like a mamoth now!!!

Haruna dan Donghae tidak bisa menahan tawa mereka, mereka tertawa lepas membaca tulisan Cheonsa. Tapi kemudian Donghae berhenti tertawa, dia menatap dirinya sendiri. Benarkah dia sudah kelebihan berat badan?

“Haruna Katou, Lee Donghae, please come forward!” Ketiga orang itu menatap guru bahasa Belanda mereka yang bersiap memberikan hukuman pada Haruna dan Donghae. Sedangkan teman mereka yang lain merasa sedikit heran, kenapa tiga orang alien di kelas mereka itu sekarang menjadi memiliki ketertarikan yang sama seperti teman Turki mereka untuk membuat gaduh kelas.

Cheonsa menghembuskan napas lega saat menyadari bahwa dirinya tidak ikut dipanggil maju ke depan, dia memang tidak ikut tertawa tadi. Donghae, Haruna menatap Cheonsa sejenak. Cheonsa hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya. Sebentar lagi akan ada tontonan yang menarik, saat guru bahasa Belanda mereka menghukum sahabatnya dan menghukum Donghae, boyfriend nya…

“Harusnya aku bawa popcorn tadi…” runtuk Cheonsa dalam hati.

***

~END~

***

Butuh review dari kalian semua^^

Hope God bless some one who leave a comment here^^

Thanks^^

[One Shoot] Nothing wrong, we just fell in love

Nothing wrong, we just fell in love

~Hyesun’s POV~

Aku merubah posisi bantalku menjadi tegak lalu menyandarkannya pada tembok tak jauh dari kasur gulungku, merebahkan kepalaku disana. Lalu dengan pelan aku mengusap pipi seorang pria yang tidur lelap di sebelahku dengan wajah polos khas anak kecilnya. Aku beruntung dia belum membuka matanya, aku takut. Sebab matanya dapat menenggelamkanku pada berjuta kebahagiaan yang membuatku tak mau berpaling dari dua mata itu.

Aku beralih mengusap rambut yang menghalangi keningnya, aku mengecup kening itu lembut lalu melanjutkan lagi kegiatanku mengagumi wajahnya. Tidak ada kata lain yang bisa ku lontarkan selain sempurna, bukan hanya aku yang jatuh pada pesona wajah ini. Puluhan bahkan ratusan gadis yang ada di universitas kami sangat mengagumi ketampanannya, dia punya julukan ‘wajah karakter manga’ dan ku akui hal itu benar. Namun ada satu hal lagi yang membuatku jatuh hati padanya, kebaikan hatinya.

Dia tipe orang yang tanpa pamrih akan menolong siapapun, dan aku sangat menyukai sifatnya itu. Berkat sifatnya itu aku bisa belajar banyak hal terutama, hidup bukanlah seberapa banyak harta yang kau miliki, atau seberapa cerdasnya dirimu tapi hidup akan lebih berarti saat kau berbagi. Prinsipnya yang sangat aku sukai.

Jari telunjukku mulai menelusuri garis bibirnya, lembut dan terlihat sangat menawan. Bibirnya, salah satu daya tariknya juga. Aku beruntung dapat memiliki bibir ini, dapat memiliki dia.

“Kau nakal!” aku tersentak saat tangannya menghalangi jari telunjukku untuk menelusuri lebih jauh bibir merah alaminya. Matanya saat ini terbuka sempurna, padahal aku yakin tadi masih terpejam.

“Eoohh…” kataku salah tingkah karena dia berhasil menangkap basah kegiatan rahasiaku.

Would you?” dia memajukkan bibirnya dengan sedikit aegyo, bermaksud agar aku mau memberinya morning kiss.

Wajahku memanas, “Kau hampir terlambat Tuan Lee!” Aku bangkit lalu meninggalkannya yang masih nyaman berada di kasur gulung itu, oh percayalah aku sangat tergoda untuk memberinya ciuman selamat pagi tapi yah, aku masih sedikit canggung. Jadi aku memilih untuk menuju dapur kecil kami, bersiap membuatkan sarapan sederhana untuknya sebelum dia berangkat kerja. Aku tidak bisa memasak banyak variasi makanan, hanya nasi goreng, telur mata sapi dan ramyeon. Itu sudah cukup bagus untuk ukuranku. Aku ingin belajar memasak varian yang lain tapi dapur kecil ini tidak memungkinkan, dan sayangnya lagi kami tidak memiliki peralatan dapur yang lengkap.

plaaaak,

Aku menangkupkan kedua tangan ke pipiku sendiri, syukuri apa yang ada sekarang dan berhentilah mengeluh Choi Hyesun!

“Aku mau morning kiss ku…” aku mendengar suara itu tepat di telingaku.

Ya! oppa. Kau mau membuatku terpanggang huh?” aku dengar dia hanya terkekeh. Lalu dia mendekap pinggangku erat sambil menghembuskan napasnya di leherku, membuatku menggelinjang sedikit kehilangan konsentrasi menggoreng telur mata sapi itu, aku berharap telurnya tidak akan gosong.

“Kau jahat Nyonya Lee, kau sudah diam-diam menelusuri wajahku saat aku tidur tapi kau tidak mau bertanggung jawab!” sekarang aku tertawa, ucapannya benar-benar membuatku merasa bahwa aku seorang pemerkosa yang dimintai pertanggung jawaban olehnya. Dasar!

Tapi Nyonya Lee?

Aku merasakan jantungku melompat-lompat gembira, aku sangat menyukai panggilan baruku itu…

Dan, aku rasa pertahanku mulai goyah. Aku memutar badanku lalu mulai memiringkan wajahku. Memberikan haknya yang sedari tadi dia tuntut, dan entah berapa lama. Yang aku tahu setelah itu tercium bau gosong dari telur mata sapiku.

*

***

*

Donghae oppa sedikit tergesa-gesa tadi, dia sarapan kurang dari lima menit. Untungnya dia masih bisa mandi, karna jika tidak dia harus berangkat kerja tanpa mandi. Dia sudah berangkat kerja  jadi di rumah ini tinggal aku seorang.

Sepi, aku tidak seharunya memikirkan ini tapi sekarang aku berpikir alangkah bahagianya jika rumah kami segera terisi oleh tangis dan tawa seorang bayi. Oke, aku rasa aku sudah benar-benar melantur. Kami baru sebulan menikah jadi kehadiran seorang bayi nampaknya masih terlalu dini.

Aku menikmati tugasku sebagai istrinya, membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci baju, semua itu aku lakukan dengan senang hati. Dan aku benar-benar bersyukur meskipun kami hanya tinggal disebuah apartemen kecil dengan fasilitas seadanya, aku yang dulu selalu menganggap orang yang bilang asal dengan cinta semua hal menjadi mungkin adalah seorang pembual.

Tapi nyatanya kini aku merasakannya sendiri, aku bisa hidup pas-pasan begini, tapi aku bahagia. Sebab aku menjalani hari-hariku dengan orang yang kucintai.

Aku mengunci pintu apartemen kami, aku akan keluar sebentar membeli beberapa bahan untuk makan malam kami.

Baiklah aku akan jujur, aku akan masak ramyeon malam ini dan aku kehabisan daun bawang-_-

Aku merapatkan mantelku dan membenarkan posisi syal ku yang sedikit miring, musim gugur di Seoul memang dingin. Aku memperhatikan orang-orang yang berjalan tergesa-gesa lainnya, mereka lebih tergesa-gesa dari pada aku. Ada beberapa anak sekolah yang aku yakin tergesa-gesa menuju tempat kursusnya dan beberapa orang yang terlihat seperti mahasiswa, melihat mereka sekilas seperti melihat bayangan diriku sendiri beberapa bulan yang lalu. Aku juga sama sibuknya seperti mereka, waktu yang berpacu selalu menuntut untuk dikejar. Hingga, sebulan yang lalu aku memutuskan untuk berhenti, aku menemukan seseorang. Seseorang yang membuat hidupku lengkap, Lee Donghae.

Aku menatap langit senja yang terlihat berkilauan, cahaya berwarna jingga membuat suasana terbawa efek romantis. Donghae oppa, apa sekarang kau juga melihatnya? Langit saat ini terlihat sangat indah!

“Hyesun-ah!” aku menghentikan langkahku, lalu menoleh kebelakang.

“Henry!” aku melihat sahabat sejak kecilku itu tergesa-gesa menghampiriku, seakan aku ini hanya fatamorgana yang bisa hilang dengan cepat.

“Sahabatku yang jahat, kau pergi kemana saja huh?” sisa beberapa langkah, dia merubah larinya menjadi langkah-langkah kecil. “Maafkan aku, aku tahu kau merindukanku Henry…hehehe.” candaku, dan dia tertawa mendengar kenarsisanku yang tidak pernah hilang ini.

“Kau tidak tahu, kau tidak tahu seberapa rindunya aku padamu!” Dia menarik bahuku cepat, lalu menenggelamkanku pada pelukannya. Aku hanya bisa mengerjap heran, dia…

“Ya! Kau hanya tak melihatku selama sebulan Henry, tapi kau memelukku seakan-akan aku ini sudah menghilang ratusan tahun!” Aku mendorong tubuhnya, menyudahi pelukan kami. Aku sekarang sudah menikah dan berpelukan dengan seorang laki-laki yang bukan suamiku membuatku tak nyaman meskipun itu adalah Henry.

“Aku tidak bisa menemukanmu di kampus,” aku menatap matanya sebentar lalu dia melanjutkan. “dan ternyata kau sudah lama meninggalkan rumah…”

Aku tersenyum kecil.

“Kenapa? Kenapa harus begini Hyesun-ah?” Aku tersentak, aku benci siapapun yang menanyakan hal itu, kenapa? bagaimana bisa? haruskah?

“Aku mohon Henry, aku tidak ingin kau jadi orang yang aku benci. Jangan menanyakan apapun tentang sesuatu yang tidak ingin kubicarakan.” Henry kaget melihat ekspresi wajahku yang mendadak muram, dia kemudian terdiam. Menyelami pikirannya sendiri, matanya bergerak-gerak seakan tengah memilah kata-kata yang akan dia keluarkan nanti.

“Henry, maaf aku tidak bisa lama-lama. Aku harus memasak makan malam.” Aku mengangkat kantung belanjaanku, berusaha menyakinkan dia bahwa aku benar-benar sibuk.

“Tunggu!” Aku mengerutkan keningku, memiringkan sedikit kepalaku heran.

“Kau benar-benar sudah menikah dengan dia, dengan Donghae sunbae?”

Ne!” aku mengangguk, kemudian tersenyum. Lalu mengangkat tangan kiriku, di jari manisnya tersemat sebuah cincin. Cincin pernikahan kami.

“Kau tidak mengucapkan selamat?” tanyaku heran.

Henry menatapku lama, lalu akhirnya dia mengatakannya. “Cukhae!”

*

***

*

“Selamat datang!” Saat pintu apartemen terbuka terlihat Donghae oppa muncul dari balik pintu, segera saja aku berlari ke arahnya. Memberinya sebuah pelukan selamat datang.

Lama aku tidak merasakan balasan darinya, kemudian aku melepaskan pelukanku. Aku baru sadar kalau Donghae oppa terlihat berbeda tak seperti biasanya, wajahnya seperti tak bergairah dan sedikit pucat.

“Apa yang terjadi oppa? apa terjadi masalah?” tanyaku.

Donghae oppa menggeleng, lalu menatapku. “Kau bahagia menikah denganku?” ada apa? kenapa tiba-tiba menanyakan hal ini. “Tentu saja oppa.” jawabku langsung tanpa ragu.

“Kau tidak sedang berbohongkan?” mataku melebar.

“Kenapa kau berpikir bahwa aku sedang berbohong?” aku menarik napas frustasi, pertemuan dengan Henry tadi benar-benar membuatku merasa buruk dan sekarang bahkan Donghae oppa -suamiku- berpikir bahwa aku tidak bahagia menikah dengannya.

“Maafkan aku, aku hanya…sedang ada masalah di kantor.” Donghae oppa meraih tanganku. Matanya berkilat-kilat, menyisakan sebuah penyesalan.

“Sebaiknya oppa mandi dulu!” aku melepaskan tangannya, beranjak ke dapur untuk mempersiapkan makan malam.

*

***

*

Kami tidak biasa bertengkar lama-lama, nyatanya sekarang kami ada di dapur berdua. Bersama-sama memasak ramyeon, aku memotong-motong daun bawang, sawi dan wortel sedangkan dia sedang menunggu air di panci mendidih.

“Kenapa nasinya dari tadi tidak matang-matang sih?” gumamku heran. Sudah satu jam lebih aku menunggu nasi di rice cooker matang, tapi dari tadi masih berupa beras yang terendam air. Aku memeriksa kabel rice cooker, tertancap tepat ke stop contact. Dan tentu saja saat ini tidak sedang mati lampu.

“Apa rice cooker kita rusak?” Donghae oppa menghampiriku, kami berdiri bingung di depan rice cooker.

“kemarin masih berfungsi dengan baik, lagi pula ini rice cooker baru kan oppa.” kataku, bahkan kami baru membelinya sebulan lalu saat kami pindah kemari.

“Lalu, apanya yang salah?” gumam Donghae oppa sambil membuka-tutup rice cooker, ada uap panas yang keluar tapi tidak begitu panas. Mungkin hanya cukup untuk menghangatkan nasi saja, tidak cukup untuk membuatnya matang.

Aku mengerutkan alisku, apa tadi yang kupikirkan?

Aku memeriksa tombol cooking dan warm di rice cooker, nah benarkan. Aku lupa tidak memencet tombol cooking, pantas saja nasinya tidak matang-matang!

Donghae oppa tersenyum lalu mengacak-acak rambutku gemas. “Dasar pelupa,” aku mengerucutkan bibirku. “Kepalamu itu terlalu banyak berisi aku,hehhe…” kata oppa narsis. Tapi dia memang benar.

“Cissh…Terlalu percaya diri!”

“Benarkah? benar kau tidak memikirkanku setiap saat? aku tahu kau Hyesun-ah, mungkin tiap melihat langit kau akan mengingatku, tiap melihat laut kau mengingatku, disetiap hembusan napasmu kau mengingat diriku.” Aku tersenyum, mengingat bahwa tadi sore saat langit berubah menjadi jingga, aku mengingatnya. Dia benar, disetiap hembusan napasku ada dia. Tidak salah sama sekali.

“Dan seberapa besarnya kau mencintaiku aku lebih mencintaimu Hyesun-ah.” katanya sambil mengerlingkan satu matanya padaku. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum. Dia pintar sekali mengambil hatiku.

Saranghae!” Aku mengecup bibirnya sekilas.

“Bagaimana kalau kita batalkan saja acara makan kita?” katanya kemudian sambil meraih tanganku, menyeretku hingga kepalaku menabrak dadanya yang bidang.

Wae?” kataku sedikit menggerutu.

“Bukankah kita masih pengantin baru?”

Aku menyipitkan mataku, sedang dia ternyata memasang ekspresi tajam seolah aku ini makanan.

Aku mengerti arti tatapan itu.

“Tidak, kau harus makan oppa. Aku tidak mau kau sakit.”

“Aiissshh…”

*

***

*

Aku mengambil dua buah cangkir dari almari dapur yang berisi satu set perlengkapan minum teh, lalu mulai menyeduh teh untuk tamu pertama yang berkunjung ke apartemen kami. Dia, ada di ruang duduk kami yang berukuran lima kali lima meter. Entah apa yang dia pikirkan saat ini tentang apartemen kami, sedikit kecewa mungkin. Lantaran ia harus duduk di sofa yang sama sekali tak empuk atau dia sedang mencemoohku lantaran aku mau hidup dalam dunia yang sama sekali berbeda dengan dunianya. Duniaku yang dulu.

“Ini teh mu Hyunhee-ya.” Aku meletakkan nampan itu di meja. Lalu meletakkan satu cangkir di dekatnya, cangkir yang satunya aku taruh di dekatku.

“Terima kasih.” Hyunhee menatapku lalu tersenyum, tapi dia kelihatan tidak tertarik untuk meminum teh yang ada di hadapannya.

“Bagaimana bisa kau tahu aku tinggal disini? Henry yang memberi tahumu?” tanyaku tanpa mau ambil pusing dengan sikapnya. Dia tidak seburuk kelihatannya. Aku tahu itu.

Hyunhee menatapku dengan lebih lembut, lalu dia menunduk. “Bukan, Henry tidak pernah datang ke rumah lagi semenjak terakhir kali dia mencarimu. Hyesun-ah, aku tahu kau tidak akan menurutiku tapi aku harus mengatakan ini. Kau harus pulang! Kau harus mengakhiri semua ini!”

Aku terkesiap dengan kata-katanya yang frontal. “Jangan mulai lagi Hee-ya. Kau tahu aku tidak mungkin kembali, aku sudah memilih.” Aku meraih ujung kaos yang kukenakan, meremasnya kesal.

“Kau masih bisa kembali, semuanya belum terlambat!” Hyunhee mulai menatapku lagi. Ada sedikit kekhawatiran disana.

“Tidak, aku telah memilih hidup bersama Donghae. Aku tidak keberatan meski mereka menghapusku dari daftar keluarga, sama sekali tak keberatan.”

Hyunhee menarik napas dalam. Mengumpulkan lagi kesabarannya, tapi percuma saja. Aku tidak akan kembali ke rumah.

“Bagaimana bisa kau membuang keluargamu?” nada bicara Hyunhee menjadi lebih tinggi dari sebelumnya.

“Karena keluargaku tidak bisa menerima Donghae.”

“Bodoh!”

Aku tersenyum miris, bagi mereka aku memang bodoh. Melepaskan semua gelar keluarga terpandang demi menjadi istri seorang laki-laki yang sama sekali tidak sederajad. Tapi bagiku itu adalah keputusan yang paling benar, aku tidak mau hidup di tengah-tengah keluarga yang memandang seseorang berdasarkan harta maupun kedudukannya.

“Cukup bodoh untukmu. Tapi aku bahagia.”

“CHOI HYESUN!!!” Hyunhee berdiri, amarah tercetak jelas diwajahnya.

“Ya, sepupu?”

“Jika saat ini kau sedang bermain-main maka kau harus berhenti sekarang,karena mereka bisa merebut mainanmu secara paksa jika mereka mau. Kau bisa lari, tapi kau tidak pernah bisa bersembunyi! Hentikan sebelum keegoisanmu membuat seseorang celaka!” Hyunhee berjalan menuju pintu, membantingnya dengan keras.

*

***

*

~Donghae’s POV~

Hyesun masih asyik bersandar di bahuku sambil tertawa lepas menonton film yang kami sewa tadi di rental film tak jauh dari apartemen. Aku tidak memperhatikan sama sekali film itu sebab dari tadi aku hanya memandangi wajahnya. Dia jarang memperlihatkan wajah murung di depanku, selalu tersenyum. Kadang tertawa lepas, tapi hatiku selalu berkata bahwa dia berpura-pura tabah.

Aku merasa sangat bersalah padanya, demi hidup bersamaku-menjadi istriku-. Dia rela meninggalkan semua kenyamanan, harta, kedudukan, dan keluarganya. Fakta bahwa keluarga Choi menginginkan seorang menantu dari kalangan sederajad-lah yang membuat kami senekat ini. Awalnya tentu saja tak mudah dan jujur saja aku tidak bisa melihatnya harus hidup susah bersamaku. Tapi lagi-lagi dia selalu tersenyum, tidak pernah mengeluh. Hal itu yang membuatku merasa sedikit lega.

Dia tidak protes meski sebagai suaminya aku tidak bisa menghadiahkan honey moon mewah seperti keliling eropa melainkan hanya berlibur ke Mokpo tempat asalku, bahkan apartemen kami tidak bisa dibandingkan dengan kamar pelayan keluarga Choi. Harga diriku sebagai seorang laki-laki terluka, tapi lagi-lagi senyumnya memberiku harapan. Aku tidak sepenuhnya gagal.

Wae?” tanyaku saat dia mulai mengangkat kepalanya, tidak bersandar di bahuku lagi.

Bukannya menjelaskan apa yang terjadi dia malah buru-buru berlari menuju kamar mandi, aku mengikutinya dari belakang. Khawatir terjadi sesuatu.

“Hoooeeeekkkss!” kedua tangan putihnya berpegangan erat pada wastafel, sementara ia sibuk memuntahkan semua isi perutnya.

Gwenchana?” aku memijat tengkuknya pelan dari belakang. Dia mengangguk lemah, menarik napas panjang lalu mulai menyalakan kran untuk berkumur.

“Kau terlalu lelah, jangan memaksakan diri.” kataku sambil memapahnya menuju kamar kami, aku meninggalkannya di depan pintu sementara aku meraih kasur gulung kami, membereskannya agar dia bisa langsung tidur. Sial, lagi-lagi aku kecewa pada diriku sendiri. Harusnya aku bisa memberinya sebuah kasur spring bed dan selimut tebal di saat seperti ini.

Oppa…” panggilnya pelan.

Ne?” aku hampir menyelesaikan semuanya saat dia memanggilku, aku menengok kebelakang. Menengok ke tempatnya berada.

Dia menghampiriku, meraih tanganku lalu menempelkannya ke perutnya kemudian tersenyum.

Aku menautkan kedua alisku tak mengerti.

“Selamat, kau akan menjadi seorang appa!”

“ne…MWO?!”

“Harusnya beberapa hari yang lalu periode mestruasiku oppa, jadi tadi aku mencoba tes kehamilan dan hasilnya positif. Aku hamil!” Hyesun langsung memelukku erat.

Jinjja? Hyesun-ah aku sangat bahagia. Terima kasih, aku benar-benar merasa telah menjadi  lelaki sempurna sekarang. Terima kasih sayang!” Aku mengecup puncak kepalanya. Kemudian merapatkan pelukan kami.

Terima kasih Tuhan!

*

***

*

~Hyesun’s POV~

“Henry?” aku sedikit terkejut saat mendapati Henry ada di luar apartemenku. “Kau tidak ada kuliah saat ini?” mengingat bahwa siang hari seperti ini biasanya dia sedang berada di kelas mengikuti perkuliahan, aku sedikit curiga kalau Henry bolos.

“Aku ingin bicara!” Henry meraih tanganku, menariknya paksa. Aku tidak bisa menolak karena sepertinya ini serius. Henry yang sekarang ada di hadapanku sangat berbeda dengan Henry yang selama ini kukenal. Apa yang telah terjadi padanya?

Henry mulai melongarkan tangannya saat kami sampai di bawah pohon rindang di kompleks taman apartemen, dia beberapa langkah ada di depanku. Membelakangiku sehingga dari tempatku berada aku hanya bisa melihat punggungnya.

“Hyesun-ah, aku minta maaf padamu tapi aku harus mengatakan ini…”

Aku menelan ludah, apa lagi-lagi dia akan mengungkit keluargaku, keluarga yang sudah kutinggalkan. Rasanya ingin kukubur dalam-dalam masa lalu kelam tentang keluarga itu. Sebenarnya mereka tidak pantas disebut sebagai keluarga, hanya sekumpulan orang busuk dengan mindset yang busuk pula.

“Hyesun-ah, aku mencintaimu…”

DEG!

Henry? Mencintaiku?

“Saat orang tuamu menjodohkan kita aku sangat gembira karena akhirnya Tuhan mengabulkan doaku untuk bisa menjadikanmu pendamping hidupku tapi aku benar-benar terluka saat kau kabur sebelum pesta pertunangan kita, dan saat aku menemukanmu ternyata kau sudah menikah dengan orang lain. Maafkan aku karena meskipun saat ini kau sudah menikah aku masih belum bisa melupakanmu, aku tahu harusnya tidak begitu tapi aku rasa kau harus tahu alasannya…”

Aku tidak pernah melihat Henry serapuh ini, aku jadi merasa berdosa telah membuat hatinya terluka sedalam ini. Tapi bagaimana bisa Henry mencintaiku, apa selama ini Henry terlalu pintar menyembunyikan perasaannya. “Tidak Henry, aku yang salah… Aku meninggalkan pesta pertunangan kita begitu saja tanpa memberi tahumu apa-apa. Maafkan aku!” Aku menghampiri Henry. Mencoba memperkecil jarak diantara kami tapi aku menghentikan langkahku saat melihat dua tangan Henry terkepal erat. Dia menangis!

*

***

*

Donghae oppa meraih tubuhku, memeluknya hangat. Aku menenggelamkan kepalaku ke dada bidangnya untuk menghirup aroma tubuhnya yang sangat wangi. Dia mulai mengusap puncak kepalaku sayang dan aku mulai terbuai, dia kemudian meraih daguku. Tinggiku yang lebih pendek darinya membuat keningku yang saat ini ada di depan bibirnya. Dia mengecupnya lama, dan aku benar-benar merasa bahwa dia sangat mencintaiku.

Aku meraih tangannya, menempelkannya di perutku. “Kau ingin anak perempuan atau laki-laki?” Aku menatap wajahnya memperhatikan baik-baik ekspresi wajah apa yang dia berikan, dan dia nampak sangat bahagia. “Aku suka keduanya, yang mana saja boleh.”

Aku tersenyum kecil, dia memang tidak pernah menuntut apa-apa dari orang lain. Tipe yang menerima dengan apa adanya, dan rupanya sifat itu terbawa hingga kepernikahan.

“Aku ingin seorang Donghae junior yang mewarisi wajah tampan ayahnya, tapi aku tidak mau dia pendek seperti ayahnya…” godaku, Donghae oppa tertawa kecil sambil memencet hidungku.

“Hyesun junior mungkin lebih lucu, tapi tentu saja sifatnya harus seperti aku karena sifat 4D ibunya sangat mengkhawatirkan…” Dia membalasku. Saat aku ingin melayangkan sebuah pukulan dia malah menunduk, aku kira awalnya dia melakukan itu untuk menghindari pukulanku tapi aku salah besar. Rupanya dia berjongkong agar tingginya sejajar dengan perutku.

Dia mengusap perutku pelan, “Kau harus lahir dengan sehat dan harus bisa menjaga ibumu.” Bisiknya pada perutku.

“Apa yang kau katakan oppa, kau juga harus menjaga aku dan anak ini!”

“Iya, tentu saja.”

*

***

*

Aku menempelkan ponselku pada telingaku erat, sudah ratusan kali aku mencoba menghubungi Donghae oppa sejak dua hari yang lalu tapi hasilnya masih sama, dia tidak menjawab panggilanku. Sudah dua malam aku tidak bisa tidur karena dia tidak kunjung pulang, aku takut terjadi sesuatu padanya.

“Halo…”

“Halo ini Lee Donghae, saat ini aku sedang sibuk, tolong tinggalkan pesan. Terima kasih.” Lagi-lagi hanya suara mesin penjawab.

“LEE DONGHAE KAU KEMANA?!” Aku menangis, aku hanya tahu menangis beberapa hari ini. Entahlah rasanya saat ini aku tidak bisa melakukan apapun kecuali menangis.

“Kau jahat!!” Aku membiarkan tubuhku merosot kelantai, memukul-mukul lantai kayu itu frustasi. Lee Donghae, kau tega membiarkanku menderita seperti ini!

Ting…tong…

Isakanku berhenti begitu aku mendengar seseorang memencet bel apartemen, oppa?

Tangisanku berganti dengan sebuah senyum yang mengembang, akhirnya kau pulang juga oppa. Aku tidak mempedulikan tubuhku yang lemah karena mengabaikan makan maupun fakta bahwa saat ini aku sedang mengandung. Aku ingin melihat suamiku!

“Henry?” aku hanya bisa kaget saat mendapati pemuda itu yang ada di hadapanku bukannya Donghae oppa.

“Hyesun!” Dia langsung memelukku.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” Aku memukul-mukul tangannya, meronta agar dia melepaskan pelukannya tapi dia bersikeras untuk terus memelukku.

“Hyesun-ah kau harus tabah!”

Wae?”

“Donghae sunbae…”

“Apa yang terjadi dengannya?”

“Dia ada dirumah sakit, sekarat!”

“APA?” Dan rasanya saat ini duniaku seperti runtuh. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, tapi yang jelas aku tidak sadarkan diri.

*

***

*

~Author’s POV~

Suara kardiograf mendominasi ruangan ICU di rumah sakit pusat Seoul itu, Hyesun hanya terpaku di tempat duduknya yang berada di sebelah ranjang Donghae yang masih tidak sadarkan diri sedangkan Henry memilih untuk berdiri di belakang Hyesun, memberikan ketabahan pada gadis yang dicintainya itu dengan meletakkan tangan di bahunya. Tapi ia sadar Hyesun tidak merasakan bahwa ada seseorang yang peduli padanya sedang berdiri di belakangnya, Henry sangat khawatir dengan kondisinya yang jauh dari katabaik. Gadis itu sejak sampai ke ruangan ini hanya terfokus pada Donghae, suaminya. Dan Henry sadar betul, memang ada jarak antara dia dan Hyesun. Sebuah pernikahan.

“Apa yang terjadi padanya?” Tanya Hyesun dengan pandangan yang kosong, meskipun wajahnya menghadap Donghae yang masih terbaring tapi Henry sadar bahwa pikiran Hyesun memang melayang jauh.

“Entahlah, aku tahu dari salah satu suster disini yang melapor ke ayahku -pemilik rumah sakit ini- kalau salah satu pasiennya bernama Lee Donghae, dari kartu mahasiswa yang di temukan di dompetnya suster itu pikir bahwa dia teman kuliahku, atau minimal aku kenal karena sudah beberapa hari dia dirawat di rumah sakit ini tak sadarkan diri.”

“Lee Donghae, buka matamu! Katakan Apa yang telah terjadi padamu!” Hyesun berubah histeris, dia mengguncang-guncangkan tubuh Donghae. Tapi percuma saja, Donghae masih menutup matanya erat.

“Oh iya, katanya ada semacam surat di jaketnya!” Henry berusaha mengalihkan kehisterisan Hyesun, dia teringat pesan seorang suster bahwa ada semacam surat yang di temukan di saku jaket Donghae.

“Aku menyimpannya di laci!” Kata Henry sambil bejalan kearah lemari kecil disudut kamar itu, membuka lacinya lalu menyerahkan amplop putih itu kepada Hyesun.

Hyesun terdiam sejenak, tidak melakukan apapun kecuali menatap amplop putih ditangannya.

“Cek senilai seratus juta won!” kata Hyesun saat membuka amplop itu.

Hyesun menatap Henry dibelakangnya, Henry menaikkan bahunya. “No idea…” kata Henry kemudian.

*

***

*

Tiiiiiiiiiiiiiiit…

Sudah satu minggu Donghae terbaring di rumah sakit, dokter telah melakukan berbagai macam pemeriksaan untuk mengetahui penyebab Donghae kritis. Dokter berkata bahwa Donghae adalah korban dari praktek penjualan organ illegal, karena dokter menemukan bahwa salah satu ginjal Donghae tidak ada.

“Kenapa dia harus melakukan itu?” isak Hyesun saat Henry mendampinginya untuk melihat Donghae untuk terakhir kali.

“Mungkin dia melakukannya karena ingin melihatmu bahagia…”

“Aku sudah cukup bahagia selama dia ada di sisiku Henry, aku bahagia!”

“Tapi dia merasa dia belum cukup memberimu kebahagiaan. Dia melakukannya demi kau dan bayimu!”

“Kau tahu aku hamil?”

“Ne, Donghae sunbae menceritakannya padaku. Aku tahu alamat apartemenmu karena dia yang meneleponku dan memberitahukannya. Dia pernah memintaku untuk membawamu kembali, dia takut kau tak bahagia bersamanya. Tapi aku gagal melakukannya karena kau sangat mencintainya, dia salah. Kau sangat bahagia saat bersamanya!”

“Lee Donghae bodoh!”

“Dia sangat mencintaimu, itulah sebabnya dia melakukan semua ini. Dia dipecat dari perusahaannya dan kau sedang hamil, aku tidak tahu apa yang dipikirkannya saat memutuskan untuk melakukan ini!”

“Dia dipecat?”

“Keluarga Choi yang membuat dia dipecat, intimidasi yang mereka lakukan pada direktur perusahaan tempat sunbae bekerja mau tidak mau mereka harus memecat Donghae jika mereka mau bisnis mereka tetap lancar tanpa sandungan keluarga Choi!”

“Bodoh! Harusnya aku tahu iblis seperti mereka tidak akan tinggal diam! Bahkan Hyunhee sudah memperingatkanku!” Hyesun memukul-mukul kepalanya sendiri, mengutuk kebodohan dirinya.

“Kau tidak boleh menyalahkan dirimu Hyesun-ah. Dia pernah berkata bahwa dia tidak pernah menyesal menikah denganmu. Dia mencintaimu, sangat mencintaimu! Biarkan dia pergi dengan tenang!”

Henry merapatkan pelukannya pada sosok rapuh yang menangis tersedu dipelukannya, gadis itu menangisi kepergian suami yang sangat dia cintai. Suami yang memberikannya sebuah kebahagiaan meskipun singkat. Henry tidak peduli lagi apakah gadis itu mencintainya atau tidak yang jelas Henry merasa bahwa dia tidak bisa pergi sekarang, gadis itu membutuhkannya dan hati kecil Henry berkata bahwa dia harus mendampingi gadis itu agar dia tidak berbuat nekat.

*

***

*

R.I.P

Lee Donghae

Hyesun tak henti-hentinya menyeka air mata yang mengalir dari dua pelupuk matanya saat nisan itu bertuliskan nama suaminya meskipun sudah ratusan kali dia mengerjap dan berdoa dalam hati kalau dia benar-benar salah melihat, tapi nihil. Pusara itu memang, pusara suaminya. Lee Donghae. Mulai saat ini dia harus belajar untuk menghadapi kenyataan bahwa dia akan memulai tugas barunya sebagai seorang ibu tanpa ditemani Donghae.

Hyesun mengusap perut buncitnya pelan, perih. Kenapa semua ini harus terjadi pada dia dan anaknya? Kenapa dunia begitu tidak adil. Saat diluar sana banyak keluarga bahagia yang masih lengkap anggotanya, dengan ayah-ibu dan anak mereka. Kenapa dia dan anaknya harus tertimpa nasib pahit seperti ini. Yah, Semua karena keluarga CHOI!

“Kau mau melakukan apa setelah ini?” Henry yang dari tadi berdiri di samping Hyesun mulai angkat bicara.

“Entahlah…” jawab Hyesun lemah.

“Kau bisa tinggal dirumahku kalau kau mau, aku sudah bicara pada orang tuaku dan mereka mau menerima kehadiranmu jika kau tidak keberatan mereka menjagamu sementara aku kuliah…”

“Tidak, aku tidak mau merepotkan keluargamu. Keluarga Lau dan dirimu sudah terlalu baik padaku, aku tak mau kalau…” Hyesun merasakan tenggorokannya tercekat, dia harus menghindari semua yang mungkin keluarga Choi lakukan pada keluarga Henry jika mereka tahu dirinya dibantu oleh keluarga Henry.

“Kau mencemaskan kami? Tenanglah, kami memang tak sekaya keluargamu di Korea tapi kami jamin kau aman jika kau mau ikut ke China.”

“Tidak, aku akan menangani ini sendirian. Aku bisa!” kata Hyesun sambil terus meyakinkan Henry. Dia tidak boleh melibatkan siapapun kedalam masalahnya, kejadian yang menimpa Donghae merupakan pukulan telak baginya bahwa dia telah salah memilih musuh. Dan kalau setelah ini keluarga Choi belum puas membuat perhitungan dengannya maka dia tidak bisa melibatkan Henry. Pemuda itu terlalu baik untuk terseret pusaran masalahnya. “Carilah gadis lain Henry, kau pantas bahagia. Aku berterima kasih atas kebaikanmu selama ini.”

“Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu!”

“Tolong Henry…” kata-kata Hyesun terputus saat ia menyadari beberapa meter di depan mereka ada serombongan orang yang disertai body guard berbaju hitam-hitam yang mengawal mereka. Keluarga Choi!

Ibu, Ayah, Kakaknya Siwon, Sepupunya Hyunhee dan seorang gadis muda mungkin seusia dirinya yang dia baru lihat saat ini. Tapi dari dandanannya Hyesun seakan tidak asing, entahlah. Dia hanya merasa dandanan gadis itu mirip dengan gaya berpakaiannya saat dia masih tinggal di rumah keluarga Choi, bahkan potongan rambutnya juga mirip.

Ahjuma, Ahjussi, Hyung, Hyunhee, annyeonghaseyo!” kata Henry sopan sambil membungkukan badannya sementara Hyesun menatap sinis kedatangan rombongan keluarga Choi itu.

“Henry, sedang apa kau disini? Menghabiskan waktumu untuk hal yang tak berguna, sebaiknya kau kuliah saja yang benar. Aku khawatir dengan kelangsungan bisinis keluarga Lau dikemudian hari.” Kata Nyonya Choi yang membenarkan posisi kacamata hitamnya.

“Lama tidak bertemu Hyesun…” kata Siwon pada adiknya. Hyesun hanya tersenyum kecut, dia yakin kakaknya terlibat dalam mengintimidasi direktur perusahaan tempat Donghae bekerja, karena selama ini kakaknya itu memang menjadi kaki-tangan orang tuanya yang paling setia sementara ayah atau ibunya hanya tinggal memberi perintah sambil menikmati wine mahal mereka di private island bersama kolega-kolega bisnis mereka.

Hyesun beralih pada Hyunhee, gadis baik sepertinya tidak pantas berada diantara rombongan iblis-iblis itu. Dia harusnya terlahir di keluarga Park, Cho, Lee atau manapun tapi dia sama bernasib buruk seperti Hyesun, terjebak dalam keluarga paling mematikan di dunia. Keluarga Choi. Hanya bedanya Hyesun telah merasakan akibat dari perbuatannya menentang keluarga itu sedang Hyunhee masih nyaman hidup ditengah-tengah mereka. Paling tidak Hyunhee tidak perlu merasakan kepahitan yang Hyesun rasakan.

Hyesun menatap ayahnya sebentar, kemudian dia menggeleng. Ayah dan Ibunya benar-benar keterlaluan. Bagaimana mungkin orang tua bisa membuat hidup anak kandungnya sendiri menjadi berantakan.

“Aku kemari ingin mengenalkan seseorang pada kalian,” gadis yang tidak dikenal Hyesun maupun Henry itu maju, tersenyum pada keduanya.

“Dia anak kami, Choi Hyesun! Choi Hyesun yang baru, dia akan secara resmi diperkenalkan sebagai anak gadis keluarga Choi. Dia penurut, kami menjanjikan hidup mewah padanya asal dia mau menuruti semua kata-kata kami dan dia setuju. Jadi kami kesini hanya untuk meminta Lee Hyesun menandatangani berkas bahwa dia resmi dicoret dari keluarga Choi dan kehilangan haknya atas semuanya, sebut saja kontrak pemutusan hubungan keluarga!” Hyesun dan Henry terpaku ditempatnya, mereka ternyata selama ini tumbuh dilingkungan keluarga iblis. Entah sebutan apa yang cocok untuk keluarga macam ini.

Annyeonghaseyo Choi Hyesun imnida.” Kata gadis itu lalu tersenyum, senyum yang penuh kepalsuan.

“Kalian orang sibuk bukan, karena berkas tidak penting seperti itu kalian jauh-jauh datang kemari? Heh, aku merasa sangat terhormat!” kata Hyesun ketus. Dia melirik ibunya dengan tajam. Dia merasa sangat menyesal pernah mengagumi sosok ibunya, sekarang dia baru sadar bahwa wanita angkuh dihadapannya tak lebih dari iblis betina,ular berbisa.

Pardon, maaf kalau kau jadi berpikiran seperti itu tapi kami kemari hanya ingin melihat pria malang yang harus mati karena keegoisan seseorang. Ini cambuk bagi keluarga Choi yang lain agar mereka tidak menghianati keluarganya!” Hyesun melirik Hyunhee, gadis itu menggigil ketakutan. Dia tahu bahwa ucapan orang tua Hyesun itu ditujukan baginya.

“Baiklah, kami akan meninggalkan berkas ini disini, dua hari lagi akan ada orang yang mengambilnya.” Kata Nyonya Choi sambil memberi kode pada salah satu body guard agar menyerahkan berkas yang dimaksud pada Hyesun.

“Aku punya satu nasehat untukmu,” Ibu Hyesun melirik putrinya sebentar sebelum mereka meninggalkan kompleks pemakaman itu. “Do not start the game if you already know you’re eventually going to lose!” Wanita paruh baya itu tersenyum tipis, membenarkan posisi kacamatanya dengan tangan berbalut kaos tangan hitam lalu kembali berjalan untuk meninggalkan kompleks pemakaman diikuti keluarga Choi yang lain dan bodyguard mereka.

*

***

*

Aku berpikir, seandainya saat itu aku tidak lari dari pesta pertunanganku dengan Henry apa ada akhir yang berbeda untuk kami semua?

Yah, mungkin aku bisa bahagia karena Henry ternyata mencintaiku…

Dan mungkin disudut bumi yang lain Donghae masih hidup, bahagia dengan seorang wanita yang mencintainya.

Keegoisanku untuk bersama dengan seorang yang kucintai membuat semua orang harus menderita.

Anakku…

Anakku harus kehilangan ayahnya bahkan sekalipun, dia belum sempat bertemu dengan ayahnya. Semuanya salahku, aku melanjutkan hidupku dengan penyesalan besar atas semua keegoisanku di masa lalu…

Maafkan aku Lee Donghae, kau telah menjadi korban dari keegoisanku.

Aku merasa tidak pantas untuk berkata aku mencintaimu…

Tapi aku harap kau mau menepati janjimu untuk selalu menjagaku dan anak kita, aku tidak bisa melihatmu bukan berarti aku tak tahu bahwa dari atas sana kau menjaga kami. Terima kasih atas semua kebahagiaan yang kau berikan. Hiduplah disana dengan baik, kami mencintaimu.

 

PS : Donghae junior memiliki wajah tampan seperti ayahnya. Dia harus kuberi nama apa? Kata Henry dia harus memiliki namamu, apa aku boleh memberikan namamu padanya?

***

END

***

Mother of two ‘daughter’

Title                : Mother of two ‘daughter’

Author            : Chocola

Genre              : Humor, comedy, friendship, bro-sis ship *apaan nih-_-*

Length            : One shoot

Cast                 : 1. Choi Hyesun

                          2. Kim Heechul

Sub cast          : rahasia :p

 

 

***

 

 

 

Holla^^

Akhirnya saya PD untuk ngeluarin FF Gaje lagi, yatta^^

Mood harus bener-bener bagus buat ngeluarin FF kayak gini dan akhirnya saat ini-pun tiba

#slap

Dan akhirnya aku nemu‘hiburan’ yang bener-bener bisa bikin aku ketawa biarpun si ikan mokpo mau cipokan ama yeoja manapun-_-

Ok, Happy reading^^

 

 

***

 

 

Heechul menguap pelan lantaran hari ini dia bebas dari tugas wajib militernya, minggu yang tenang seperti ini sangat cocok untuk tidur siang dan menambah keremajaan kulit dia yang mulai dihinggapi keriput samar di usianya yang hampir di awali angka 3 itu.

 

 

Heechul lalu meletakkan remote TV ke atas meja, bersiap merebahkan tubuh  rampingnya  ke sofa living room rumahnya lantaran angin yang berasal dari pintu samping menyapanya dengan sangat ramah. Tidur, satu-satunya yang dia inginkan saat ini. Suasana sepi dan angin sepoi-sepoi membuat kantuknya mengambil kendali atas dirinya. Dua detik, waktu yang dibutuhkan kelopak matanya yang ditumbuhi bulu mata lentik khas barbie itu untuk terkatup.

 

 

“Zzzzzzzzz…” suara dengkuran Heechul beradu dengan suara dengkuran heebum yang sudah terlelap lebih dulu dari pada majikan cantiknya.

 

 

“OPPPPAAAAAA!!!!!!!!!”

 

 

Heechul mengerang sebentar, hening lagi. Matanya seperti terkena lem super yang membuatnya tidak bisa membuka mata meski otaknya sudah memerintahkan indera pengelihatan itu untuk membuka. Heechul memiringkan tubuhnya ke kiri, membuatnya semakin tenggelam ke dalam sofa putih berbulu yang tahun lalu di pilih Heejin –noonanya- untuk rumah mereka yang baru di renovasi.

 

 

“OPPPPAAAAAAAA!!!!!!” suara menggelegar itu kembali terdengar membuat dahinya mengkerut. Suara cempreng nan heboh itu hanya dimiliki oleh adiknya –adik angkat- yang sudah pasti tidak ada di sini karena adik angkatnya itu sudah di kirim jauh ke Amazon untuk summer camp sekolahnya atau Heechul lebih suka menyimpulkan kalau orang tuanya ingin suasana rumah kembali tenang lantaran hobby berteriak dan melebih-lebihkannya yang sering membuat keluarga KIM sakit kepala.

 

 

“KIM HEECHUL PABOOOOOOOOO!!!!!” Heechul langsung membuka matanya. Mirip seperti Bella Swan yang terbaring tiba-tiba membuka mata saat dia akhirnya berubah menjadi vampire di scene terakhir Breaking down.

 

 

“HYESUUUUUUUN!!!!!” teriak Heechul dengan nada tinggi dan melengking.

 

 

Oppa, rupanya kau disana!” dari arah pintu depan yang terbuka lebar muncul sosok seorang yeoja dengan kaos dan celana loreng-loreng serta wajah penuh coretan-coretan hitam. Mirip tentara perbatasan Korea Utara-Korea Selatan.

 

 

“Kau Hyesun?” Heechul memandang yeoja bertinggi 160cm itu takjub, putri manja yang hobby menghabiskan seharian waktunya di salon untuk perawatan hanya butuh waktu dua minggu di Amazon untuk membuatnya menjadi tentara perbatasan Korea Utara-Korea Selatan. Heechul berpikir mungkin dia harus mengucapkan terima kasih pada orang yang dapat membuat Hyesun menjadi seperti itu. Heechul berpikir lagi, mungkin orang yang dapat membuat Hyesun berubah menjadi seperti sekarang patut di hadiahi nobel.

 

 

“Kau habis kembali dari camp militer?” tanya Heechul pada adiknya yang sekarang masih berdiri di depan sofa menjinjing tas ransel besar berwarna hitam, sedang Heechul masih berbaring di sofa mengangkat satu kakinya lalu meletakkan kaki itu di kaki satunya sebagai tumpuan.

 

 

“Ya! Aku menghabiskan summer camp-ku menjadi sukarelawan di sana, kau tahu apa yang sudah aku lakukan disana? Menyelamatkan sekawanan gajah yang menjadi korban perburuan liar, membantu seekor kuda nil melahirkan dan melakukan observasi pada ikan piranha, bagaimana keren kan?” cerita Hyesun dengan semangat 45 dan dengan kilatan-kilatan dari matanya, Hyesun kemudian membusungkan dadanya bangga.

 

 

Heechul membulatkan mulutnya membingkai kata O yang sangat besar, lalu mengangguk.

 

 

“Tidak ada pelukan selamat datang atau upacara penyambutan dengan karpet merah? Oh ayolah sejak kapan Hyesun mendapat perlakuan mirip orang biasa seperti ini?” Heechul memicingkan matanya, ingin rasanya menjejalkan bola tennis ke mulut adiknya. Memangnya dia pikir dia siapa? putri kerajaan inggris? aktris Hollywood? ck.

 

 

“Pelukan? aku tidak mau memeluk seorang yang dua minggu ada di Amazon dan melupakan mandi karena sibuk membantu kuda nil melahirkan!” kata Heechul sambil menutup hidungnya, menghindari bau aneh yang dari tadi menusuk-nusuk hidung mancung kebangaannya.

 

 

“Ya! Tiap hari aku mandi, hanya saja aku mencoba lulur lumpur khas desa di Amazon dan memang baunya tidak enak tapi mereka percaya khasiatnya lebih bagus dibanding lulur lain.Ck~” Hyesun menatap Heechul seolah-olah ia berkata, Oh-ayolah-orang-primitif-mana-yang-tidak-tahu-bahwa-dijaman-ini-lulur-lumpur-merupakan-lulur-terbaik ?

 

 

“Ya…ya…terserah kau tapi aku tetap tidak mau ada skinship diantara kita jika kau belum bersih. Aku minta maaf karena telah memprotes hobby menghabiskan waktu seharian di salonmu dulu, tapi jujur sekarang aku rindu adikku yang seperti itu dari pada adikku yang merupakan tentara perbatasan Korea Utara-Korea Selatan!”

 

 

Hyesun menggeleng-gelengkan kepala sambil mengangkat dua tangannya. “Baiklah, baiklah…aku mandi! Dan oppa-ku sayang, kau tidak perlu meminta maaf.” Hyesun memperpendek jarak dia dan kakaknya dengan membungkukan badan.

 

 

Heechul terkesiap.

 

 

“Chuu~~~” sebuah ciuman mendarat di bibir Heechul yang merah dan besar.

 

 

“Ya! tidak ada skinship sebelum kau mandi itu artinya bahkan aku tidak mengijinkan kau untuk mencolekku! Kenapa kau menciumku?! Ya! Hyesun kemari kau!!!!” Heechul berlari mengejar Hyesun ke kamar mandi dan tepat saat ia hampir meraih tas ransel Hyesun, yeoja itu berhasil masuk dan mengunci diri di kamar mandi.

 

 

“HAHAHAHAHA” Hyesun tertawa puas, suaranya menggema hingga keluar.

 

 

“Cuuuuuuuuuuihhhh…cuuuuuuuuuiiiiiiiihhh…” Heechul buru-buru mengusap mulutnya seakan dia baru saja mendapat ciuman beracun dari seorang nenek sihir atau bahkan ciuman dementor yang siap membimbingnya ke alam kematian.

 

 

“Aku harus buru-buru berkumur! Astaga! Astaga!”

 

 

“Hoooaaaah dan apakah aku perlu berkumur dengan tanah tujuh kali juga…?Shiiiiiiiit~~~”

 

 

 

***

 

 

Heechul menuntaskan permainan pianonya tepat saat Hyesun keluar dari kamar, yeoja itu seperti orang sinting karena tidak berhenti senyum-senyum tak jelas padanya semenjak pintu kamar  terbuka hingga yeoja itu berada di sebelahnya. Adiknya sudah kembali bersih dan wangi.

 

 

Oppa~~” panggil Hyesun manja dan Heechul tahu benar itu artinya yeoja itu menginginkan sesuatu darinya.

 

 

Mwo?” jawab Heechul ketus sambil menekan-nekan tuts piano asal.

 

 

Oppa aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.” Hyesun meraih bahu Heechul, mereka berpandangan sejenak lalu yeoja itu mengisyaratkan agar kakaknya bergeser karena dia juga mau duduk.

 

 

Heechul bergeser ke kanan sehingga kini mereka duduk menghadap grand piano hitam di sudut living room itu berdua.

 

“Apa ini sesuatu tentang seorang namja?” tanya Heechul karena adiknya memang punya hobby membicarakan namja tampan. “Apa di Amazon ada namja tampan?” tanya Heechul dalam hati.

 

 

Aniya…ah oppa bagaimana kalau kau menyanyikanku lagu TRAX-Let You Go yang waktu itu kau nyanyikan untuk Sohee eonni di family outing? Aku kaget suaramu ternyata lumayan bagus juga…” kata Hyesun dengan polosnya padahal Heechul sudah merah-padam menahan emosi. Berarti sebelum itu adiknya berpikir suara Heechul jelek begitu?

 

 

“Ya! Coba pikir, kalau suaraku jelek tidak mungkin SM meloloskan audisiku!”

 

 

Arasseo…”

 

 

“Aiiiiiiiiiisssh…jangan harap aku menyanyikan lagu untukmu terus saja puji ikan melata itu, suaranya bahkan tidak lebih baik dariku!”

 

 

Heechul menghembuskan nafas kesal, mirip seekor banteng yang melihat kibasan kain merah dipelupuk matanya. Kalau saja di kepalanya ada tanduk pasti yeoja di sebelahnya ini sudah terhempas jauh ke kutub utara.

 

 

“Aiiishh… lagi-lagi kau marah, kau harus terima kenyataan bahwa ikan mokpo itu lebih tampan dari pada kau, lebih menarik di mata kebanyakan yeoja dan salah satunya adalah aku…”

 

 

“Jadi ini yang mau kau bicarakan? Kau mau mendongengiku kisah tentang mokpo boy itu? Kalau iya aku memilih tidur, aku sudah kenyang mendengar obsesi-obsesimu tentang namja itu.”

 

 

“Ya! ya! aiiiishhh…aku juga sudah bosan dengan topik itu. Ini tentang hal lain!”

 

 

“Sesuatu yang penting untuk kudengar?” tanya Heechul senewen. Masih belum bisa menurunkan tensi pembicaraannya.

 

 

“Penting, sangat penting!”

 

 

“Bukan tentang Lee Dong Hae?”

 

 

“Bukan, bahkan tidak ada hubungannya dengan namja-namja tampan di dunia!”

 

 

Heechul membuka matanya lebar-lebar sambil mencerna ulang kata-kata Hyesun, adiknya sudah sembuh dari penyakit kronisnya? benar-benar sudah sembuh? THANK YOU AMAZON!!

 

 

Oppa?” Hyesun bergidik ngeri melihat ekspresi Heechul.

 

 

Oppa siap mendengarkanmu Hyesun-ah, adikku yang paling manis~~”

 

 

***

 

 

“Ssssst!!!” kata Hyesun sambil menutup pintu kamarnya diam-diam, sebelumnya dia memastikan bahwa tidak ada siapapun yang mengikuti dia dan Heechul masuk ke kamarnya. Sebenarnya di rumah itu tinggal mereka berdua saja karena orang tua mereka dan Heejin tengah menghadiri pernikahan kenalan mereka di Busan.

 

 

Heechul mengerutkan keningnya, “kau tidak berniat memperkosa kakak angkatmu sendirikan yeoja barbar? begini-begini aku masih cukup tampan…” Heechul mulai ngeri, di Amazon mungkin gangguan jiwa Hyesun bertambah parah sampai-sampai yeoja itu berpikir akan melakukan hal keji padanya malam ini. Dia harusnya curiga semenjak Hyesun memiliki kebiasaan mencium bibirnya beberapa waktu lalu. Bisa saja di Amazon sana dia terlalu banyak melihat monyet, gajah, kuda nil sampai-sampai dia baru sadar bahwa Kim Heechul tentu jauh lebih tampan dari pada makhluk-makhluk itu.

 

 

“Ya! Jangan berpikiran kotor seperti itu!” Hyesun melirik Heechul sebal.

 

 

“Kau adikku, itu yang harus kau ingat!” kata Heechul penuh penekanan.

 

 

“Tenang saja, kau bukan tipeku!” Heechul sedikit lega mendengarnya tapi sekaligus merasa terhina.

 

 

Oppa, aku ingin kau melihat ini!” Hyesun berjalan ke sudut kamarnya, membuka sebuah kain tipis yang menutupi sesuatu.

 

 

Ddangkoma?” saat dilihatnya ada dua kura-kura yang berenang dengan elegant di sebuah aquarium kaca berbentuk bulat.

 

 

“Bukan! Ini aku bawa dari Amazon!”

 

 

“Ooooooh…”

 

 

“Kau harus berjanji tidak memberi tahu tentang mereka pada Heebum!”

 

 

Heechul melirik Hyesun dengan tatapan, kau-sedang-bercanda-padaku-kan?

 

 

“Aku serius!”

 

 

Heechul menghembuskan napas perlahan, “Aku tidak bisa bahasa kucing jadi tenanglah…”

 

 

“Tapi aku tahu Heebum bisa mengerti apa yang kau bicarakan. Jangan bicara apapun tentang mereka di depan Heebum eoh? aku takut Heebum akan memakan mereka.” kata Hyesun khawatir.

 

 

“Astaga!” runtuk Heechul dalam hati.

 

 

“Kau harus berjanji dulu!” rengek Hyesun.

 

 

“Astaga…iya..iya..”

 

 

Gomawo oppa!”

 

 

Hyesun tersenyum kembali, dia ingin memeluk Heechul tapi Heechul menangkisnya lantaran ia takut jika tiba-tiba adiknya memiliki niat untuk melakukan hal terlarang meski dirinya yang lain sadar bahwa Hyesun tidak mungkin melancarkan aksi seperti itu. Yeoja itu terlalu terobsesi dengan mokpo boy-nya.

 

 

Oppa, aku sedang mempertimbangkan nama untuk mereka.” kata Hyesun sambil meletakkan satu tangannya di aquarium itu, dari luar aquarium itu dia mengikuti pergerakan salah satu kura-kura yang hiper aktif sementara kura-kuranya yang satu sangat tenang.

 

 

“Jadi, siapa nama mereka?” tanya Heechul. Lama-lama dia seperti melihat bayangan Jongwoon pada diri Hyesun, tapi bagaimana bisa yeoja itu berkelakuan lebih ajaib dari pada dirinya yang notabene bergolongan darah AB sedangkan adik angkatnya ini bergolongan darah O.

 

 

“Aku terinspirasi dari nama Heebum…”

 

 

“Oooh…”

 

 

“Kau memberi nama kucingmu dengan nama orang-orang terdekatmu kan?”

 

 

Heechul tersenyum kecut, “ Jadi apakah salah satu dari mereka bernama Heechul? atau gabungan dari nama kita?”

 

 

Hyesun berhenti dari aktifitasnya, kemudian menatap Heechul yang berjongkong di belakangnya dengan tatapan yang teduh. Gadis itu menggeleng. “Bukan.”

 

 

“Ooooh…jadi?”

 

 

“Mmmm…entahlah aku takut mereka keberatan jika nama mereka aku berikan pada dua kura-kura lucu ini.”

 

 

“Lee Donghae?” tapi Heechul berpikir lagi, katanya ‘mereka’ jadi ini pasti bukan tentang Lee Donghae saja. “Changmin,Yonghwa,TOP,Minhyuk,Jinyoung,LeeJoon,Luhan…?” Heechul lupa sederetan nama namja tampan lainnya yang sering Hyesun sebut-sebut.

 

 

“BUKAN! Aku senang jika bisa ‘memelihara’ mereka tapi dalam versi asli bukan versi kura-kura. Hahahaha…”

 

 

“Lalu?” kali ini Heechul benar-benar penasaran karena dari tadi tebakannya tidak ada yang benar.

 

 

“Aku ingin menamai si aktif ini dengan nama Ryeona dan si pendiam itu dengan nama Hyunhee, bagaimana menurutmu?”

 

 

Heechul bermimik heran, dia tidak salah dengarkan? Adiknya ingin memberikan nama sahabat-sahabatnya sebagai nama dua kura-kura peliharaannya!

 

 

“Kau yakin?” tanya Heechul kemudian.

 

 

“Yakin, yah meskipun jenis kelamin kura-kura itu jantan tapi aku tetap ingin memberi nama mereka Hyunhee dan Ryeona!”

 

 

Heechul menggelengkan kepalanya, dia berdoa untuk Hyunhee dan Ryeona. Kasihan mereka harus menjadi korban kegilaan adiknya. Semoga Ryeona dan Hyunhee tidak berpikiran akan membunuh Hyesun jika mereka tahu bahwa nama mereka dengan seenaknya telah dijadikan nama peliharaan Hyesun. perlu di garis bawahi dan dicetak tebal…PELIHARAAN!!!

 

 

***

 

 

Epilog

 

 

Jam dinding di kamar Hyesun menunjukkan angka dua dini hari dan gadis itu masih terjaga. Dia ingin sekali tidur pada awalnya tapi sesuatu menahannya untuk tidur, sesuatu yang sangat ia sesali, kenapa sialnya dia harus melihat semua itu?

 

Laptop kesayangannya masih dalam posisi stand by saat Hyesun berjalan ke meja belajarnya, mengambil sekotak tissue untuk membendung hujan air mata yang mendadak menjadi agendanya malam ini.

 

“Bodoh! Kau sudah tahu itu tuntutan drama tapi kenapa kau menangis saat melihat foto Donghae oppa yang mencium seorang yeoja huh?”

 

“Hueeeee…aku tak relaaaaaaaaaaaaaa!!!”

 

“Tidak Hyesun, tidak! Ini drama pertamanya sebagai pemeran utama kau harusnya senang kenapa menangis huh? kau harusnya senang!” Hyesun perlahan-lahan menghentikan tangisnya, ia mencoba tersenyum.

 

“Huaaaaaaaaa…tapi bahkan aku belum pernah merasakan genggaman tangannya kenapa yeoja itu beruntung sekali dapat merasakan bibirnya.Huaaaaaaaaa…” Tangis Hyesun lagi.

 

Hyesun mengambil ponselnya yang ada di bawah bantal, dia padahal sudah berniat tidur tadi tapi sialnya dia tergoda untuk membuka social account-nya dan berakhir dengan hujan air mata lantaran foto update terbaru drama Miss Panda and Mr. Hedgehog yang menjadikan Donghae sebagai pemeran utamanya.

 

Dia berencana mengirimi Hyunhee dan Ryeona sms pengaduan, seperti biasa jika mokpo boy itu lagi-lagi membuatnya patah hati.

 

Hyesun mengetik pesan itu buru-buru sambil diselipi beberapa kata yang bersifat mellow-dramatic. Agar sesi curhat itu berjalan lebih seru.

 

Hyesun teringat sesuatu, dia menghapus sms itu. Meletakan kembali ponselnya kebawah bantal.

 

“Bodoh! Mengganggu jam tidur orang lain dengan kelakuan anak-anakmu? yang benar saja!”

 

Hyesun berjalan kembali ke arah meja belajarnya, kali ini bukan untuk tissue tapi untuk aquarium bundar yang beberapa hari ini selalu menghiasi kamarnya tentunya ditambah dua ekor kura-kura yang hidup di dalamnya. Hyunhee dan Ryeona.

 

“Hyunhee…Ryeona…eottoke? Aku sedih, sangat sedih!” Gumam Hyesun pada kedua kura-kura yang tentu saja tidak mengerti apa yang sedang dia coba katakan pada mereka. Ryeona menampakkan kepala kecilnya keluar dari dalam air sedang Hyunhee lebih memilih bersembunyi di dekat filter aquarium.

 

“Huaaaaaaaaa…” tangis yeoja itu memecah keheningan malam.

 

 

***

 

 

END

 

 

***

 

 

Gagal?-_-

Udah pasti deh gagal total, jujur aja aku bikinnya gak ketawa jadi udah pasti readers nya gak ketawa.

Hohoho…gomawo Hyunhee,Ryeona kalian udah mau aku bully XD

Appa katanya mau beliin lagi semoga kali ini betina, ntar aku namain Kyuhyun ama Jongjin deh buat kalian XD

Hahahaha…ada yang mau request namanya aku jadiin nama kura-kura aku? Oh ayolah, gratis kok XD

kekeke

Gomawo for read, gomawo for all, gomawo for everything^^

{SunMin couple} First Meet

~Hyesun’s POV~

 

“Hyesun ah!” panggil Seung hoon oppa dari halaman rumah kami sambil melambaikan tangannya cepat.Wajahnya terlihat sangat cerah.

 

“Ada apa oppa?” tanyaku sambil berlari perlahan menuruni anak tangga yang tersusun rapi dari pintu utama rumah kami sampai ke halaman depan tempat Seunghoon oppa berada.

 

“Kita punya tetangga baru!” seru Seunghoon oppa.

 

Jeongmal?”

 

***

 

Seunghoon oppa berjalan terlebih dahulu memasuki pelataran rumah yang berada tepat disebelah rumah kami. Dulunya ada sepasang suami istri yang tinggal disini tapi beberapa bulan yang lalu mereka pindah rumah karena suaminya mendapat tugas dinas di Incheon. Rumah ini sempat terbengkalai beberapa bulan tapi tadi oppa memberitahuku bahwa kami punya tetangga baru itu artinya rumah ini tak akan menganggur lagi.

 

Rumah bercat coklat muda itu memiliki dua lantai, dilantai dua terdapat balkon yang memiliki pemandangan langsung ke taman kompleks. Gaya arsitektur-nya minimalis namun sangat khas korea di bagian dalamnya itu yang terakhir kali kutahu, entahlah penghuni baru rumah ini akan mengubahnya atau tidak.

 

“Hyesun ah ppaliwa!” Seunghoon oppa menarik tanganku, memintaku lebih cepat berjalan. ”Oppa kalau kau mau aku berjalan secepat dirimu kenapa kau tidak gendong saja aku dipunggungmu?” bujukku manja, aku sangat menyukai punggung Seunghoon oppa. Rasanya sangat nyaman dan hangat.

 

“Aiiiissshh….kau itu sudah kelas 3 SD mau sampai kapan kau bermanja-manja pada oppa?” Seunghoon oppa berhenti sejenak tepat didepan pintu, dia tersenyum kearahku. Lalu kedua tangannya ditempelkannya pada kedua pipiku yang sudah ratusan kali bahkan ribuan kali dia sentuh seperti ini. Aku sudah hafal benar apa yang terjadi setelah ini “Hyesun ah kau tahu? Pipimu itu membuatku gemas” Seunghoon oppa menekan, mmm…Lebih tepatnya mencubit pipiku sedikit. Tapi tentu saja bagiku itu terasa sakit meskipun sedikit.

 

Kajja!” Seunghoon oppa berjongkok dihadapanku, menyodorkan punggungnya yang nyaman untukku. Dugaanku tepat, aku memberikan pipiku untuknya dan dia memberikanku punggungnya,punggungnya yang selalu kurindukan.

 

Gomawo oppa.” kataku sambil melompat kegirangan menaiki punggung Seunghoon oppa. “Aigoo, yeosaeng-ku ternyata bertambah berat.”godanya.

 

“Tapi oppa tak akan menolakku kan meskipun beratku menjadi seberat gunung?” kataku penuh percaya diri.

 

Oppa mana yang sanggup menolak yeosaeng semanis kau princess.”

 

“Kekekekeke…” kekehku pelan.Aku memang sangat beruntung memiliki oppa seperti Seunghoon oppa, oppa saranghae.

 

***

 

Seunghoon oppa menahan tubuhku dengan satu tangannya sedangkan tangan yang satunya ia gunakan untuk membuka pintu rumah tetangga baru kami, aku melilitkan erat kedua tangan mungilku kelehernya agar tak jatuh.

 

Pintu terbuka dan terlihatlah sepatu appa dan eomma yang terpampang manis di ruang depan rumah tetangga baru kami. “Jatuhkan saja sandalmu Hyesun ah!” kata Seunghoon oppa dan aku menurutinya, sandal Hello Kitty ku mendarat dilantai tak beraturan sedangkan Seunghoon oppa sibuk mengganti sepatunya dengan sandal rumah yang disediakan di dekat pintu depan-mereka belum punya rak sepatu sepertinya-tapi ada sepatu yang ukurannya hampir sama dengan ukuran kakiku meski dari modelnya aku tahu pasti itu sepatu anak laki-laki. “Sepertinya kau akan punya teman baru.” Seunghoon oppa menolehkan sedikit kepalanya kearahku yang ada dipunggungnya, rupanya Seunghoon oppa juga berpikiran sama denganku.

 

“Aku akan punya teman baru, pasti menyenangkan.” benakku.

 

Seunghoon oppa menaikkan tubuhku yang mulai merosot dan terus menggendongku berjalan tak tentu arah mencari orang tua kami yang sudah pasti sedang beramah-tamah dengan tetangga baru, kami melewati sebuah ruangan yang penuh dengan rak-rak berisi buku. Perpustakaan?

 

Pasti pemilik rumah yang baru sangat menyukai buku sampai-sampai mereka meletakkan perpustakaan di depan. Bukannya ruang tamu seperti kebanyakan rumah lain, aku bersyukur keluargaku tergolong dalam kategori normal.

 

Aigoo~ Hyesun ah kau jangan terus-terusan meminta Seunghoon untuk menggendongmu seperti itu…” kami ada di ruang tamu setelah kami melewati perpustakaan tadi, berbeda dengan perpustakaan tadi yang terbilang cukup luas ruang tamu ini malah terlihat sedikit sempit. Kami benar-benar memiliki tetangga yang unik rupanya.

 

“Kemari” eomma melambaikan tangannya kearah kami menandakan bahwa aku sudah harus turun dari punggung Seunghoon oppa. Seunghoon oppa perlahan-lahan berjongkok untuk menurunkanku, aku menapakkan kakiku satu persatu kelantai dan mulai menekuk wajahku. Aku memang tak suka saat diminta turun dari punggung Seunghoon oppa, semua pasti tahu itu.Aku ralat, tetangga baru kami tentu belum tahu.

 

“Ini putriku satu-satunya namanya Choi Hyesun yang itu putraku satu-satunya Choi Seunghoon” eomma menyambutku lalu bicara kepada sepasang suami istri yang duduk tak jauh dari appa dan eomma, mereka kelihatan sedikit lebih muda dari appa dan eomma. Suami-istri itu nampak antusias menyambutku yang dari tadi hanya mematung berdiri didepan mereka tak tahu apa yang harus dilakukan.

 

Kyeoppta,” kata ahjuma itu sambil tersenyum, ahjuma ini manis sekali saat tersenyum meski dengan kacamata yang bertengger dihidungnya. “Siapa namamu tadi anak manis?” tanya ahjussi disebelah ahjuma tadi, mereka sama-sama berkacamata. Aku sedikit ngeri, melihat tebalnya kacamata mereka dan perpustakaan tadi aku bisa menyimpulkan mereka sekeluarga adalah kutu buku. Tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri, aku tak siap bergaul dengan orang-orang kutu buku seperti mereka.Pasti aku mati kebosanan karena setiap waktu hanya menghabiskan waktu didepan buku.”Choi Hyesun imnida.

 

“Hyesun? wah, nama yang bagus!”

 

Kamshahamnida.”

 

“Kau kelas berapa?”

 

“Kelas 3“

 

Jinjjayo?”

 

Ne.”

 

“Kalau begitu yeobo berarti dia seumuran dengan anak kita!” seru ahjuma itu pada suaminya.

 

Ne…” jawab suaminya, benarkah dia seumuran denganku? Tadinya aku sangat antusias menyambut tetangga baru kami yang ternyata memiliki anak yang sebaya denganku, tapi melihat latar belakang keluarga mereka yang bersahabat erat dengan buku rasanya semua keantusiasanku hilang, kalau bisa sekarang aku ingin berlari pulang kerumah mengunci diri dikamar bermain bersama koleksi boneka-bonekaku yang lebih menarik dari pada buku. Aku benci buku!

 

“Changmin ah, kemari nak!” panggil ahjuma itu dengan suaranya yang bervolume besar. Beberapa menit berlalu namun tak ada yang datang.

 

“Changmin ah!!” kali ini ahjuma itu sedikit berteriak. Aku melirik ahjuma itu sekilas, apa semua ibu-ibu memang sama seperti ini. Mereka bisa kelihatan lembut namun juga bisa terlihat menakutkan, sama seperti eomma kalau aku tak menurutinya untuk tidur siang.

 

Ne…” ada suara menyahut, lalu ada suara derap langkah yang terburu-buru menuruni anak tangga.

 

Dari dalam rumah muncul sosok anak laki-laki yang sebaya denganku namun wajahnya terlihat tidak seperti orang korea kebanyakan, dia memakai T-shirt cream dengan celana hitam. Dia memegang buku ditangannya-sudah kuduga mereka sekeluarga memang memiliki hobby yang sama-tapi aku bersyukur dia tidak berkacamata, dia terlihat lumayan normal. Tidak seperti orang tuanya yang terlihat sangat kutu buku.

 

“Kau akan punya teman baru, namanya Choi Hyesun!” ahjuma itu memegang bahuku, mereka memintaku untuk mendekat kearah dia,siapa namanya tadi? Changmin?

 

Annyeong…” sapaku ragu sambil menggoyangkan tanganku pelan sejenis lambaian tangan tapi aku rasa itu tidak mirip lambaian tangan sama sekali karena aku sedikit memaksakan diri. Aku tak tahan dengan tatapan Changmin yang seakan ingin menelanku bulat-bulat, bahkan bibir sebelahnya nampak sedikit terangkat membuat wajahnya terlihat penuh dengan protes.

 

“Choi Hyesun imnida.” aku mendekatinya. Mencoba meraih tangannya untuk bersalaman, paling tidak aku bisa pulang setelah aku menjabat tangan bocah tengik ini.

 

Don’t touch me!” katanya sambil mundur beberapa langkah.Tatapannya seakan-akan aku ini wabah penyakit menular.

 

Ne?” dia bicara sesuatu yang tidak aku mengerti.

 

Pabo! Aku tadi bilang jangan sentuh aku! Eomma aku tidak mau berteman dengan orang yang bodoh seperti dia, aku ke kamar lagi ya eomma aku belum selesai membaca buku ini.” kata Changmin sambil menggoyang-goyangkan buku ditangannya.

 

“Aiiiisssh…kau itu selalu saja bicara seenaknya. Jeosonghamnida!” ahjuma itu meminta maaf kepada appa dan eomma.

 

“Cisshh..lagi pula siapa yang mau berteman denganmu” aku menjulurkan lidahku pada namja sombong itu. Apa hanya karena dia bisa berbicara dengan bahasa asing itu keren? Apa itu bisa disebut pintar? Kau namja tengik!

 

***

 

“Hyesun ah ireona!” suara Seunghoon oppa yang memiliki khas sedikit berat itu selalu menyapa pagiku, dia yang selalu membangunkanku dan mengurusiku tiap pagi karena appa dan eomma pasti sudah berangkat kerja. Ah, kenapa hari minggu itu singkat sekali aku masih ingin dirumah bersama appa, eomma dan tentu saja kakak kesayanganku Seunghoon oppa.”Kali ini kita hanya sarapan toast, gwenchana?”tanya Seunghoon oppa sambil berjalan kearah kasurku dengan mengenakan celemek birunya.

 

Gwenchana oppa.” kataku sambil sedikit menggeliat dikasur meregangkan sedikit otot-otot di pagi hari, sesekali mulutku menguap menandakan aku masih ingin tidur lebih lama, tapi tentu saja Seunghoon oppa akan marah kalau aku bolos sekolah. Aku tak suka oppa marah.

 

“Segeralah mandi, oppa menunggumu untuk sarapan. Setelah itu kita bersama-sama berangkat ke sekolah,” Seunghoon oppa berjalan kesudut kamarku, mengambil handuk lalu kembali kehadapanku sambil menyerahkan handuk ditangannya. ”Kajja!” katanya sambil mencubit pipiku gemas.

 

***

 

Aku memasukkan buku-buku yang berserakan di meja belajar kedalam tas ransel hitamku, aku sudah selesai mandi dan berganti baju. Setelah menyusun jadwal untuk hari ini hanya tinggal sarapan saja jadi aku bisa berangkat kesekolah bersama dengan Seunghoon oppa, tiap pagi berjalan kaki sambil bergandengan tangan dengan oppa-mu kesekolah bukan kah itu terdengar sangat menyenangkan?

 

Usia kami memang terpaut lumayan jauh, sekitar tujuh tahun. Sekarang Seunghoon oppa sudah berada di kelas 1 SMU sedang aku kelas 3 SD. Tapi kami tak pernah merasakan usia kami yang terpaut jauh itu sebagai halangan, justru aku sangat nyaman karena Seunghoon oppa dapat menjagaku dengan baik. Aku akan memberinya gelar ‘Oppa terbaik di dunia’ jika memang ada kontes seperti itu.

 

“Akhirnya, ayo cepat nanti kita bisa terlambat !” Seunghoon oppa sudah duduk manis di kursi ruang makan kami, dia sudah rapi dengan seragam SMU yang sangat cocok ditubuhnya yang tinggi.

 

“Kenapa dia ada disini oppa?” tanyaku sinis sambil mengerucutkan bibirku menatap seorang bocah yang tengah asyik makan bersama Seunghoon oppa, dia terlihat seperti iblis kecil dimataku.

 

Morning.” kata namja tengik itu sambil terus menyantap toast dengan saus maple-nya. Lagi-lagi bicara bahasa asing, kau itu pamer sekali iblis kecil.

 

“Changmin akan berangkat sekolah bersama kita, tadi ahjuma dan ahjussi mengantarkannya kemari. Kau harus baik padanya, diakan belum hafal jalanan disini jadi mulai sekarang kau harus menemaninya kemana-mana , arraseo?” mataku membelalak lebar, aku harus menemaninya kemana-mana? bukankah itu artinya aku menjadi pelayannya? Oppa, aku sungguh tak menyangka kau akan bicara seperti itu. Kau menyerahkan adikmu sendiri kepada iblis kecil seperti dia.

 

“Duduklah, oppa sudah mengoleskan strawberry jam di toast mu”

 

***

 

Iblis kecil itu membuatku kehilangan kesempatan pagi ini untuk menggandeng tangan Seunghoon oppa seperti biasanya, Seunghoon oppa menyuruhku untuk berjalan di depan sendirian sedangkan iblis kecil itu yang mendapat posisi kehormatan menggandeng tangan Seunghoon oppa. Aku semakin bertambah sebal saat menengok kearah belakang dan mendapati iblis kecil itu bisa tertawa begitu lepas bersama Seunghoon oppa, bagus. Sekarang aku merasa seperti seorang adik tiri yang kesepian sedang berjalan sendiri di tengah kebahagiaan dua orang saudara kandung yang berjalan di belakangnya.

 

Aku bisa terima jika Changmin berangkat ke sekolah bersama kami karena dia pasti belum tahu dimana sekolahnya berada, tapi… KENAPA HARUS BERGANDENGAN TANGAN DENGAN SEUNGHOON OPPA???

 

“Awas!”

 

Butuh waktu dua detik bagiku untuk kemudian menyadari bahwa ada tong sampah yang hampir kuseruduk karena terlalu asik menyemburui kedekatan dua namja di belakangku, tapi beruntungnya aku. Seunghoon oppa sempat menarikku hingga aku tidak perlu terjerembab masuk ke dalam tong sampah yang melekat kuat ke trotoar jalan itu, mengingat ukuran tubuhku yang hampir sepadan dengan tong sampah itu.

 

Gwenchana?” Seunghoon oppa menyeka debu yang kini ada di kedua tanganku karena setelah oppa menarikku agar tak terjerembab masuk ke dalam tong sampah tadi aku jadi terjatuh kebelakang, menghantam tubuh Seunghoon oppa hingga dia terhempas jatuh ke trotoar jalan yang keras.

 

Aku menatap dua manik mata Seunghoon oppa yang setengah mati mencemaskanku, tubuhku jatuh diatas pelukannya tentu saja aku baik-baik saja. Kenapa oppa-ku bodoh sekali, tentu saja dia harus mencemaskan dirinya sendiri yang jatuh di trotoar yang keras itu.

 

Princess, kau benar-benar baik-baik sajakan?” Seunghoon oppa memapahku untuk berdiri, perlahan-lahan oppa mengusap puncak kepalaku kemudian membersihkan debu-debu yang menempel di seragam sekolahku, aku sendiri hanya mengucek mataku sambil menahan butiran air mata yang tanpa aba-aba membasahi kedua mataku.

 

Uljima, mana yang sakit?” Seunghoon oppa berhenti melakukan aktifitas membersihkan seragam sekolahku tadi, kini dia berjongkok. Mensejajarkan tubuhnya setinggi tubuhku yang pendek.

 

Oppa mianhae!” aku langsung memeluknya, karena kebodohanku oppa jadi begini. Dan bukannya memeriksa dirinya sendiri apakah dia tidak terluka atau minimal membersihkan debu-debu di seragamnya dia malah sebegitunya mengkhawatirkanku.

 

Gwenchana Hyesun ah, semua baik-baik saja. Gwenchana…” kata-kata Seunghoon oppa tidak membuat tangisku reda tapi malah membuat air mataku terus mengalir meskipun aku terus berusaha untuk menahan nya.

 

“Kita terlambat!” Seunghoon oppa melepaskan pelukanku dan membuat kami menyudahi mellow-drama tanpa skenario tadi. Seunghoon oppa dengan cepat membersihkan debu-debu yang menempel di seragamnya lalu berdiri kembali.

 

“Nah, ayo berangkat!” Seunghoon oppa kembali menggandeng tangan Changmin yang dari tadi hanya terpaku, berperan sebagai penonton drama singkat kakak-adik keluarga Choi itu.

 

“Ulurkan tanganmu princess!” kata Seunghoon oppa yang seketika menghancurkan tembok kecemburuan di hatiku yang mendadak muncul lagi tadi, kali ini Seunghoon oppa menggandeng Changmin di sebelah kanan nya, sedangkan aku berada di sebelah kiri. Cukup adil, dan sekarang aku merasa sangat bahagia meskipun harus berbagi uluran tangan kakakku dengan bocah iblis itu.

 

Aku cukup menikmati perjalanan kami sampai, “Psst~” panggil Changmin si bocah iblis, aku hanya menatapnya sinis. Sedangkan Seunghoon oppa masih fokus pada lampu lalu lintas dihadapan kami yang tak kunjung berwarna hijau untuk pejalan kaki itu.

 

“Apa?”

 

“Tadi harusnya kau berendam dengan sampah-sampah itu, itu akan lebih menarik dari pada sekedar adegan menangis…kekeke.” bocah iblis itu terkekeh.

 

***

-THE END-

Aku pengen punya Oppa!!! >,<

Gak sabar buat nulis couple ini lagi^^

Choi Seunghoon oppa saranghaeyo, oh iya tolong bayangin dia berwajah Jang Geun Suk pas masih muda

Sampai ketemu di FF selanjutnya^^

#tebar poppo:*

{Ficlet} PAIN

 

Title                : Pain

Author          : Chocola

Length           : Ficlet

Genre              : Suffer

Cast                 : Choi Hyesun, Lee Dong Hae(?)

OST                : Park Bom – Don’t Cry

***

~Author’s POV~

Gadis itu mematung ditempatnya beberapa saat menatap beranda diluar dari sudut kamarnya yang remang. Beranda kamarnya yang berada dilantai dua itu begitu gelap,dingin udara malam pasti akan menusuk kulitnya jika ia keluar terlebih saat ini dia hanya mengenakan gaun tidur tipis yang sudah tentu tidak banyak membantu.

Wajah pucat dan cekung, lingkaran hitam di mata serta rambutnya yang acak-acakan menggambarkan hatinya yang kini juga sedang tak karuan. Resah,lelah,gundah,sedih,cemas, perasaan-perasaan seperti itu yang tengah berkecamuk didalam dirinya yang tak dapat dipungkiri menggerogoti setiap perasaan bahagianya. Seakan ia adalah manusia yang telah bertemu dementor dan kehilangan semua kenangan kebahagiaannya.

Gadis itu lalu berjalan terhuyung-huyung menuju satu-satunya pembatas antara dirinya dengan beranda yang gelap dan dingin itu. Ia membuka tautan dua jendela besar yang menahannya menuju beranda, jendela-jendela besar itu terbuka dan angin malam yang berhembus tak dapat terelakan lagi. Sebagian angin-angin itu menyusup kedalam gaun tidurnya dan menyapa kulit hingga kedalam tulang-tulangnya, tapi reaksi gadis itu nihil. Ia seakan kehilangan inderanya untuk merasakan hawa dingin, meski gontai ia secara pasti terus melangkah menuju ujung berandanya.

Sebagian angin menyapu rambut panjangnya yang dia biarkan tergerai, rambutnya kadang melayang. Namun kadang menjadi tenang jika angin-angin itu sudah bosan untuk mempermainkannya. Gadis itu menghentikan langkahnya, tangannya ia gunakan untuk menahan berat tubuhnya. Ia menengok sebentar kebawah dari tembok pembatas diujung beranda yang berdiri kokoh sebatas dadanya. Ia baru sadar bahwa selama ini dia menempati kamar yang begitu tinggi, tanah begitu jauh dari tempatnya kini berpijak. Kakinya yang bertumpu pada lantai-lantai dingin mulai kehilangan kekuatannya, ia rasakan kakinya mulai lemah dan mungkin saja setelah ini dia ambruk.

Gadis itu kembali diam,kali ini matanya menerawang. Ia berkutat dengan pikirannya sendiri, ia tak yakin akan melakukan ini semua tapi dirinya yang lain berkata bahwa ini adalah satu-satunya cara agar penderitaannya berakhir. Satu-satunya cara agar hatinya tidak akan sakit maupun tergores lagi.

Ia menaikkan tubuhnya perlahan keatas tembok pembatas berandanya, terakhir ia merentangkan tangannya bersiap untuk terjun dari berandanya ke tanah yang ada puluhan meter dibawah. Ia siap mati, memang itu yang dia inginkan. Ia ingin mati agar ia tak merasa sakit lagi, ia ingin hatinya tak rapuh lagi. Mati, mungkin akan ada kedamaian abadi setelah ia melompat. Ia ingin mati saja agar semua penderitaannya berakhir.

“Selamat tinggal dunia, selamat tinggal Lee Dong Hae……”

***

Park Bom – Don’t Cry

Romaji

sarangeun neomu swibge byeonhaeman gatjyo
seoro yogsim soge apeun sangcheoman nama GOTTA LET YOU GO
(and please don’t cry)
naraneun saram cham geudaeegen motdwaetjyo
babo gateun nae mameul motjabgo neol apeuge haetjyo
(and please don’t cry)
yeogi kkajiga uri durui kkeutingayo
sesangi uril heoraghalttae geuddae kkajiman
IT’S OKAY BABY PLEASE DON’T CRY
ginagin yeohaengi kkeutnatjiman
tto eonjengan majuchigetji
daeum sesangeseo kkog dasi manna
haruga meolge urin maeil datwojyo
geuddaen mwoga geuri bonhaetdeonji maeil bameul oreotjyo
(Baby I cried)
neoraneun saram cham naegen musimhaetjyo
gilgo ginagin bameul jisaeneun nal hollo dueotjyo
(Baby I cried)
yeogikkajiga uri durui kkeutingayo
sesangi util heoraghal ttae geuddae kkajiman
IT’S OKAY BABY PLEASE DON’T CRY
ginagin yeohaengi kkeutnatjiman
ddo eonjengan majuchigetji
daeum sesangeseo kkog dasi manna
gakkeum nunmuri nal chajaol ddaemyeon
areumdawotdeon uril gieog halgeyo
geudaedeo isang apeuji marayo jebal
And please don’t cry
IT’S OKAY BABY PLEASE DON’T CRY
ginagin yeohaengi kkeutnatjiman
ddo eonjengan majuchigetji
daeum sesangeseo kkog dasi manna

Hangul

사랑은 너무 쉽게 변해만 갔죠
서로 욕심 속에 아픈 상처만 남아 GOTTA LET YOU GO
(and please don’t cry)
나 라는 사람 참 그대에겐 못됐죠
바보 같은 내 맘을 못 잡고 널 아프게 했죠
(and please don’t cry)
여기까지가 우리 둘의 끝인가요
세상이 우릴 허락할 때 그때 까지만
IT’S OKAY BABY PLEASE DON’T CRY
기나긴 여행이 끝났지만
또 언젠간 마주치겠지
다음 세상에서 꼭 다시 만나
하루가 멀게 우린 매일 다퉜죠
그땐 뭐가 그리 분했던지 매일 밤을 울었죠
(Baby I cried)
너 라는 사람 참 내겐 무심했죠
길고 기나긴 밤을 지새는 날 홀로 두었죠
(Baby I cried)
여기까지가 우리 둘의 끝인가요
세상이 우릴 허락할 때 그때 까지만
IT’S OKAY BABY PLEASE DON’T CRY
기나긴 여행이 끝났지만
또 언젠간 마주치겠지
다음 세상에서 꼭 다시 만나
가끔 눈물이 날 찾아 올 때면
아름다웠던 우릴 기억 할게요
그대 더 이상 아프지 말아요 제발
And please don’t cry
IT’S OKAY BABY PLEASE DON’T CRY
기나긴 여행이 끝났지만
또 언젠간 마주치겠지
다음 세상에서 꼭 다시 만나

Translation

LOVE seems to change so easily,
In place of our own greed, a painful scar is left,
Gotta let you go
And please don’t cry
I guess I was not really the person for you
I couldn’t hold back my stupid heart
Which pained you
And please don’t cry
Refrain:
Here is the end for the both of us,
And until the world would allow our love then,
Chorus:
It’s okay baby please don’t cry,
This long journey is about to end.
But someday, we will meet again,
In the next life, we will see each other again
Verse Two:
Everyday, we are blinded by our anger,
What we were fighting about every minute,
I cried every night,
Baby I cried
All the long nights
I stayed up late crying,
I spent them all alone
Baby I cried
Refrain:
Here is the end for the both of us,
And until the world would allow our love then,
Chorus:
It’s okay baby please don’t cry,
This long journey is about to end.
But someday, we will meet again,
In the next life, we will see each other again
Bridge:
Sometimes, when tears come to me,
I remember our beautiful memories
I hope that you won’t be hurt more,
And please don’t cry
Chorus:
It’s okay baby please don’t cry,
This long journey is about to end.
But someday, we will meet again,
In the next life, we will see each other again

***

Gadis itu mencondongkan tubuhnya kedepan, ia terlihat sangat siap untuk melompat dan mengakhiri hidupnya. Ia menutup matanya, membiarkan kematian secara cepat menjemputnya. Inilah akhir hidupnya, sebentar lagi dia akan mati dan semuanya akan usai. Termasuk perasaan-perasaan yang setiap hari menggerogotinya. Hidupun percuma sebab dia tidak pernah merasa hidup lagi semenjak ia mengenal laki-laki bernama Lee Dong Hae. Ia sadar mencintai seseorang yang tak pernah menyadari keberadaannya adalah kesalahannya yang paling fatal, menggilai laki-laki itu hingga hidupnya seperti neraka adalah sebuah mala petaka. Jadi lebih baik dia mati.

Geumanhae..

Gadis itu membuka matanya, ia mengurungkan niatnya untuk melompat. Ia mendengar suara itu dengan sangat jelas.

“Andweeeee!!!” raung gadis itu.”Aku akan melompat,aku akan melompat!!” Gadis itu kini bukan hanya meraung, ia mulai meneteskan air matanya.

Geumanhae..

“Suara ini jelas suara Lee Donghae tapi tidak mungkin dia ada disini! Tidak mungkin, jangan membuatku bertambah sengsara lagi, tolong biarkan aku mati!!”Gadis itu meraung-raung seperti kesetanan, ia menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangannya berharap suara itu akan menghilang agar ia bisa melanjutkan aksi bunuh dirinya.

Geure, aku memang bukan Lee Dong Hae.
Tapi aku adalah suara hatimu yang tergambar sebagai suara Lee Dong Hae karena kau sangat mencintai laki-laki itu.
Choi Hyesun, jangan lakukan itu!Jangan mati!

“Aku sudah tidak tahan! Tolong biarkan aku mati! Biarkan aku mati!” Hyesun mencoba melompat lagi, ia sudah siap untuk terjun dengan merentangkan kedua tangannya lagi. Ini saatnya, dia harus mati sekarang.

Baik,lakukanlah jika memang kau merasa mati itu lebih baik.
Lakukanlah, aku tak akan menahanmu lagi!

Hyesun memejamkan matanya, ia yang tadi berjongkok kini mulai berdiri pelan-pelan. Tangannya sudah membentang lebar mengisyaratkan dirinya sudah siap menghadapi kematian.

Satu…

Dua….

Tii…………

Kau pikir kau sudah tidak punya masa depan?
Bagaimana kalau seandainya dengan kau mati kau benar-benar telah menutup jalanmu sendiri.
Bagaimana jika ternyata setelah ini kau akan benar-benar bertemu dengan Lee Dong Hae, dia akan menyukaimu…..
Kau tidak pernah memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan itu?

“Jangan bicara tentang seandainya denganku! Aku muak berada dalam dunia palsu berisi harapan-harapan sampah yang dipenuhi kata SEANDAINYA!!!”

“SEANDAINYA dia bukan Lee Dong Hae super junior yang digilai banyak gadis!”

“SEANDAINYA aku bukan fans dan dia bukan idola melainkan manusia biasa sama sepertiku!”

“SEANDAINYA kami saling mengenal sejak awal…”

“Sampai kapan aku harus berada dalam dunia hayal seperti itu hah? Aku muak,aku lelah!”

Tubuh Hyesun menggigil hebat, bukan saja karena udara malam yang menusuk tulangnya namun juga kini dia tengah berdebat hebat dengan dirinya sendiri.

Kau bodoh…
Kenapa hanya karena seorang laki-laki kau memilih mati huh?
Pabo! Pabo! Pabo!

Kalimat itu telak menohok Hyesun, ia tersenyum pahit. Terdengar sangat bodoh bukan? mati karena seorang laki-laki…

Hidupmu masih sangat panjang Hyesun-ah…
Rasa sakit yang kau rasakan saat ini mungkin akan hilang terhapus oleh waktu, seseorang akan datang membantumu menghapus semua rasa sakit itu…
Percayalah, sebab tidak ada kesedihan yang abadi di dunia ini…
Begitu pula dengan kebahagiaan, tak ada yang abadi..
Kau hanya perlu berdiri, bertahan di tengah ombak yang terus berusaha menenggelamkanmu. Bertahan dari angin yang terus menghempasmu…
Hidupmu terlalu berharga untuk kau akhiri sekarang!
CHOI HYESUN! Teruslah Hidup!

Hyesun menangis hebat sambil menggigit bibir bagian bawahnya hingga suara tangisannya tidak dapat terdengar. Ia berjongkok, perlahan-lahan menurunkan tubuhnya dari tembok di tepi berandanya. Ia merasa malu pada dirinya sendiri. Benar-benar pikiran yang sangat bodoh !

Sekarang tidurlah…
Kau perlu mengistirahatkan tubuhmu…
Bimbing rasa sakitmu kedalam mimpi.
Hanya malam ini saja kau boleh meratapi semua itu, saat kau bangun nanti kau akan menjadi jiwa yang baru. Hyesun yang baru, Hyesun yang lebih tegar…

Gadis itu berusaha berjalan masuk kedalam kamar tidurnya dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Ia akan menuruti kata hatinya, tidur. Dia sangat benar, mati? Bukankah Tuhan tidak akan menerima manusia yang mati karena bunuh diri? Dia harus tetap hidup!

Hyesun menarik selimutnya, lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang ukuran king size nya. Ia berusaha memejamkan matanya sambil menghimpun semua rasa sakitnya. Malam ini adalah saat terakhir dirinya merasakan hal ini, esok akan lahir Hyesun yang baru. Yang lebih tegar menghadapi rasa sakitnya sendiri.

Jaljjayo~~

***

Saat dirimu berada diambang kepedihan yang dalam.
Hanya tersisa suara hatimu yang akan membimbingmu melakukan hal yang benar.
Berhati-hatilah sebab bersama datangnya suara hatimu terdengar pula rayuan yang sesejuk angin sore membuai manusia jatuh kejurang kesengsaraan yang dalam…
Dengarkan suara hatimu, sebab dia tidak akan menjerumuskanmu.

***

FF bukan yah?-_-
Maaf lagi-lagi saya curhat 😀
Sebelum muncul berbagai pertanyaan saya mau bilang. Semua ini fiksi belaka, gak pernah terjadi di dunia nyata…
Cuma pernah terjadi dalam otak saya.
Inspirasi ini dateng setelah sekian lama terombang-ambing(?) galau berkepanjangan, pas moment masang pager di beranda atas kepikiran kalau aku lompat enak kali ya?
#stress T.T
Tapi tentu aja cuma pikiran, saya tidak mungkin mewujudkannya. Maaf FF nya gaje-_-
Makasih udah mau baca^^
Bye2
Sampai ketemu di FF saya yang lebih waras
#bow

***

{SunMin couple} Teaser- First Meet

Title : {Sun-Min couple} First Meet

Author : Chocola (Choi Hyesun )

Genre : Family,Friendship,Life, etc

Length : one shoot-continue

Cast :

1. Shim Changmin (DBSK)
2. Choi Hyesun (OC)
3. Jang Geun Suk as Choi Seunghoon
4. Changmin’s parent
5. Hyesun’s parent

***

ada yang bingung sama oneshoot-continue?
Mian, itu aku yg gak tau
#author dibakar readers
Maksud aku disetiap FF SunMin(Hyesun-Changmin) diusahain bakal selalu one shoot tapi ceritanya berlanjut/berhubungan dengan one shoot yang sebelumnya.Hehehe XD

***

Hyesun’s POV~

 

“Hyesun ah!” panggil Seung hoon oppa dari halaman rumah kami sambil melambaikan tangannya cepat.Wajahnya terlihat sangat cerah.

“Ada apa oppa?” tanyaku yang tengah berlari perlahan menuruni anak tangga yang tersusun rapi dari pintu utama rumah kami sampai ke halaman depan tempat Seunghoon oppa berada.

“Kita punya tetangga baru!” seru Seunghoon oppa.

“Jeongmal?”

***

Seunghoon oppa berjalan terlebih dahulu memasuki pelataran rumah yang berada tepat disebelah rumah kami. Dulunya ada sepasang suami istri yang tinggal disini tapi beberapa bulan yang lalu mereka pindah rumah karena suaminya mendapat tugas dinas di Incheon. Rumah ini sempat terbengkalai beberapa bulan tapi tadi oppa memberitahuku bahwa kami punya tetangga baru itu artinya rumah ini tak akan menganggur lagi.

Rumah bercat coklat muda itu memiliki dua lantai, dilantai dua terdapat balkon yang memiliki pemandangan langsung ke taman kompleks. Gaya arsitektur-nya minimalis namun sangat khas korea di bagian dalamnya itu yang terakhir kali kutahu, entahlah penghuni baru rumah ini akan mengubahnya atau tidak.

“Hyesun ah ppaliwa!” Seunghoon oppa menarik tanganku, memintaku lebih cepat berjalan.”Oppa kalau kau mau aku berjalan secepat dirimu kenapa kau tidak gendong saja aku dipunggungmu?”bujukku manja, aku sangat menyukai punggung Seunghoon oppa. Rasanya sangat nyaman dan hangat.

“Aiiiissshh….kau itu sudah kelas 3 SD mau sampai kapan kau bermanja-manja pada oppa?” Seunghoon oppa berhenti sejenak tepat didepan pintu, dia tersenyum kearahku. Lalu kedua tangannya ditempelkannya pada kedua pipiku yang sudah ratusan kali bahkan ribuan kali dia sentuh seperti ini. Aku sudah hafal benar apa yang terjadi setelah ini “Hyesun ah kau tahu? Pipimu itu membuatku gemas” Seunghoon oppa menekan,mmm…Lebih tepatnya mencubit pipiku sedikit. Tapi tentu saja bagiku itu terasa sakit meskipun sedikit.

“Kajja!” Seunghoon oppa berjongkok dihadapanku, menyodorkan punggungnya yang nyaman untukku. Dugaanku tepat, aku memberikan pipiku untuknya dan dia memberikanku punggungnya,punggungnya yang selalu kurindukan.

“Gomawo oppa.” kataku sambil melompat kegirangan menaiki punggung Seunghoon oppa. “Aigoo, yeosaeng-ku ternyata bertambah berat.”godanya. “Tapi oppa tak akan menolakku kan meskipun beratku menjadi seberat gunung?”kataku penuh percaya diri.

“Oppa mana yang sanggup menolak yeosaeng semanis kau princess.”

“Kekekekeke”kekehku pelan.Aku memang sangat beruntung memiliki oppa seperti Seunghoon oppa, oppa saranghae.

***

Seunghoon oppa menahan tubuhku dengan satu tangannya sedangkan tangan yang satunya ia gunakan untuk membuka pintu rumah tetangga baru kami, aku melilitkan erat kedua tangan mungilku kelehernya agar tak jatuh.

Pintu terbuka dan terlihatlah sepatu appa dan eomma yang terpampang manis diruang depan rumah tetangga baru kami “Jatuhkan saja sandalmu Hyesun ah!”kata Seunghoon oppa dan aku menurutinya, sandal Hello Kitty ku mendarat dilantai tak beraturan sedangkan Seunghoon oppa sibuk mengganti sepatunya dengan sandal rumah yang disediakan di dekat pintu depan-mereka belum punya rak sepatu sepertinya-tapi ada sepatu yang ukurannya hampir sama dengan ukuran kakiku meski dari modelnya aku tahu pasti itu sepatu anak laki-laki. “Sepertinya kau akan punya teman baru.” Seunghoon oppa menolehkan sedikit kepalanya kearahku yang ada dipunggungnya, rupanya Seunghoon oppa juga berpikiran sama denganku.

“Aku akan punya teman baru,pasti menyenangkan.”benakku.

Seunghoon oppa menaikkan tubuhku yang mulai merosot dan terus menggendongku berjalan tak tentu arah mencari orang tua kami yang sudah pasti sedang beramah-tamah dengan tetangga baru, kami melewati sebuah ruangan yang penuh dengan rak-rak berisi buku.Perpustakaan?

Pasti pemilik rumah yang baru sangat menyukai buku sampai-sampai mereka meletakkan perpustakaan di depan. Bukannya ruang tamu seperti kebanyakan rumah lain, aku bersyukur keluargaku tergolong dalam kategori normal.

“Aigoo Hyesun ah kau jangan terus-terusan meminta Seunghoon untuk menggendongmu seperti itu…” Kami ada di ruang tamu setelah kami melewati perpustakaan tadi, berbeda dengan perpustakaan tadi yang terbilang cukup luas ruang tamu ini malah terlihat sedikit sempit. Kami benar-benar memiliki tetangga yang unik rupanya.

“Kemari” Eomma melambaikan tangannya kearah kami menandakan bahwa aku sudah harus turun dari punggung Seunghoon oppa. Seunghoon oppa perlahan-lahan berjongkok untuk menurunkanku, aku menapakkan kakiku satu persatu kelantai dan mulai menekuk wajahku. Aku memang tak suka saat diminta turun dari punggung Seunghoon oppa, semua pasti tahu itu.Aku ralat, tetangga baru kami tentu belum tahu.

“Ini putriku satu-satunya namanya Choi Hyesun yang itu putraku satu-satunya Choi Seunghoon”Eomma menyambutku lalu bicara kepada sepasang suami istri yang duduk tak jauh dari appa dan eomma, mereka kelihatan sedikit lebih muda dari appa dan eomma. Suami-istri itu nampak antusias menyambutku yang dari tadi hanya mematung berdiri didepan mereka tak tahu apa yang harus dilakukan.

“Kyeoppta,”kata ahjuma itu sambil tersenyum, ahjuma ini manis sekali saat tersenyum meski dengan kacamata yang bertengger dihidungnya. “Siapa namamu tadi anak manis?”tanya ahjussi disebelah ahjuma tadi, mereka sama-sama berkacamata. Aku sedikit ngeri, melihat tebalnya kacamata mereka dan perpustakaan tadi aku bisa menyimpulkan mereka sekeluarga adalah kutu buku. Tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri, aku tak siap bergaul dengan orang-orang kutu buku seperti mereka.Pasti aku mati kebosanan karena setiap waktu hanya menghabiskan waktu didepan buku.”Choi Hyesun imnida”

“Hyesun? wah, nama yang bagus!”

“Kamshahamnida!”

“Kau kelas berapa?”

“Kelas 3 “

“Jinjjayo?”

“Ne”

“Kalau begitu yeobo berarti dia seumuran dengan anak kita” seru ahjuma itu pada suaminya.

“Ne..”jawab suaminya, benarkah dia seumuran denganku? Tadinya aku sangat antusias menyambut tetangga baru kami yang ternyata memiliki anak yang sebaya denganku, tapi melihat latar belakang keluarga mereka yang bersahabat erat dengan buku rasanya semua keantusiasanku hilang, kalau bisa sekarang aku ingin berlari pulang kerumah mengunci diri dikamar bermain bersama koleksi boneka-bonekaku yang lebih menarik dari pada buku. Aku benci buku!

“Changmin ah, kemari nak!” panggil ahjuma itu dengan suaranya yang bervolume besar. Beberapa menit berlalu namun tak ada yang datang.

“Changmin ah!!”Kali ini ahjuma itu sedikit berteriak. Aku melirik ahjuma itu sekilas, apa semua ibu-ibu memang sama seperti ini. Mereka bisa kelihatan lembut namun juga bisa terlihat menakutkan, sama seperti eomma kalau aku tak menurutinya untuk tidur siang.

“Ne…” ada suara menyahut, lalu ada suara derap langkah yang terburu-buru menuruni anak tangga.

Dari dalam rumah muncul sosok anak laki-laki yang sebaya denganku namun wajahnya terlihat tidak seperti orang korea kebanyakan, dia memakai T-shirt cream dengan celana hitam. Dia memegang buku ditangannya-sudah kuduga mereka sekeluarga memang memiliki hobby yang sama-tapi aku bersyukur dia tidak berkacamata, dia terlihat lumayan normal. Tidak seperti orang tuanya yang terlihat sangat kutu buku.

“Kau akan punya teman baru, namanya Choi Hyesun !” Ahjuma itu memegang bahuku, mereka memintaku untuk mendekat kearah dia,siapa namanya tadi? Changmin?

“Annyeong..” sapaku ragu sambil menggoyangkan tanganku pelan sejenis lambaian tangan tapi aku rasa itu tidak mirip lambaian tangan sama sekali karena aku sedikit memaksakan diri. Aku tak tahan dengan tatapan Changmin yang seakan ingin menelanku bulat-bulat, bahkan bibir sebelahnya nampak sedikit terangkat membuat wajahnya terlihat penuh dengan protes.

“Choi Hyesun imnida”aku mendekatinya.Mencoba meraih tangannya untuk bersalaman, paling tidak aku bisa pulang setelah aku menjabat tangan bocah tengik ini.

“Don’t touch me!” Katanya sambil mundur beberapa langkah.Tatapannya seakan-akan aku ini wabah yang menular.

“Ne?” dia bicara sesuatu yang tidak aku mengerti.

“Pabo ! Aku tadi bilang jangan sentuh aku ! Eomma aku tidak mau berteman dengan orang yang bodoh seperti dia, aku ke kamar lagi ya eomma aku belum selesai membaca buku ini.”kata Changmin sambil menggoyang-goyangkan buku ditangannya.

“Aiiiisssh………………kau itu selalu saja bicara seenaknya. Jeosonghamnida!” Ahjuma itu meminta maaf kepada appa dan eomma.

“Cisshh..lagi pula siapa yang mau berteman denganmu” Aku menjulurkan lidahku pada namja sombong itu. Apa hanya karena dia bisa berbicara dengan bahasa asing itu keren? Apa itu bisa disebut pintar? Kau namja tengik !

***

“Hyesun ah ireona!” suara Seunghoon oppa yang memiliki khas sedikit berat itu selalu menyapa pagiku, dia yang selalu membangunkanku dan mengurusiku tiap pagi karena appa dan eomma pasti sudah berangkat kerja. Ah, kenapa hari minggu itu singkat sekali aku masih ingin dirumah bersama appa,eomma dan tentu saja kakak kesayanganku Seunghoon oppa.”Kali ini kita hanya sarapan toast, gwenchana?”tanya Seunghoon oppa sambil berjalan kearah kasurku dengan mengenakan celemek birunya.

“Gwenchana oppa” kataku sambil sedikit menggeliat dikasur meregangkan sedikit otot-otot di pagi hari, sesekali mulutku menguap menandakan aku masih ingin tidur lebih lama, tapi tentu saja Seunghoon oppa akan marah kalau aku bolos sekolah. Aku tak suka oppa marah.

“Segeralah mandi, oppa menunggumu untuk sarapan. Setelah itu kita bersama-sama berangkat ke sekolah,” Seunghoon oppa berjalan kesudut kamarku, mengambil handuk lalu kembali kehadapanku sambil menyerahkan handuk ditangannya.”Kajja!”katanya sambil mencubit pipiku gemas.

***

Aku memasukkan buku-buku yang berserakan di meja belajar kedalam tas ransel hitamku, aku sudah selesai mandi dan berganti baju. Setelah menyusun jadwal untuk hari ini hanya tinggal sarapan saja jadi aku bisa berangkat kesekolah bersama dengan Seunghoon oppa, tiap pagi berjalan kaki sambil bergandengan tangan dengan oppa-mu kesekolah bukan kah itu terdengar sangat menyenangkan?

Usia kami memang terpaut lumayan jauh, sekitar tujuh tahun. Sekarang Seunghoon oppa sudah berada di kelas 1 SMU sedang aku kelas 3 SD. Tapi kami tak pernah merasakan usia kami yang terpaut jauh itu sebagai halangan, justru aku sangat nyaman karena Seunghoon oppa dapat menjagaku dengan baik. Aku akan memberinya gelar Oppa terbaik di dunia jika memang ada kontes seperti itu.

“Akhirnya, ayo cepat nanti kita bisa terlambat !” Seunghoon oppa sudah duduk manis di kursi ruang makan kami, dia sudah rapi dengan seragam SMU yang sangat cocok ditubuhnya yang tinggi.

“Kenapa dia ada disini oppa ?” tanyaku sinis sambil mengerucutkan bibirku menatap seorang bocah yang tengah asyik makan bersama Seunghoon oppa, dia terlihat seperti iblis kecil dimataku.

“Morning” kata namja tengik itu sambil terus menyantap toast dengan saus maple-nya. Lagi-lagi bicara bahasa asing, kau itu pamer sekali iblis kecil.

“Changmin akan berangkat sekolah bersama kita, tadi ahjuma dan ahjussi mengantarkannya kemari. Kau harus baik padanya, diakan belum hafal jalanan disini jadi mulai sekarang kau harus menemaninya kemana-mana , arraseo?” Mataku membelalak lebar, aku harus menemaninya kemana-mana? bukankah itu artinya aku menjadi pelayannya ? Oppa, aku sungguh tak menyangka kau akan bicara seperti itu. Kau menyerahkan adikmu sendiri kepada iblis kecil seperti dia.

“Duduklah, oppa sudah mengoleskan strawberry jam di toast mu”

***

T.B.C

***

Namanya juga teaser pasti pendek 😀
sebenernya emang belum lanjut lagi..
Lanjutannya diatas tanggal 5 agustus ya XP
Oh iya, mohon komen yang membangun buat tulisan author karna author lagi belajar memperbaiki tulisan author, ada typo,bahasanya aneh, gak ada Feel?
Author tunggu beta-readers sekalian 😀