[Teaser] For A While This FF is Untitled

Title                : –

Author            : Chocola

Genre              : Fantasy, Romance, AU

Ratings           : PG- 15

Length            : Series

Cast                 : 1. Lee Hyuk Jae as Spencer Barnett

                          2. Park Sangra as Elizabeth Aster

                          3. Cho Kyuhyun as A. V Marcus

                          4. Choi Hyesun as Rachelle Rosenfelt

                         

Sub cast          : 1. Shindong as Matthew

                         2. Lee Ryeona as Elenna

                         3. Kai EXO as Ian

 

***

BRITAIN, 740 AD

 

Musim semi di kota London yang penuh hingar-bingar berbanding terbalik dengan sebuah desa kecil di pinggiran London yang amat sunyi dan damai. Houndswoth village, desa yang masih sangat alami dengan aliran sungai jernih, area persawahan juga padang bunga Azelia yang membuat Houndswoth semarak di tiap musim semi. Houndswotrh bukan desa yang dipadati oleh banyak penduduk, mungkin hanya ada sekitar dua puluh kepala keluarga di sana tetapi Houndsworth tidak pernah terasa sepi karena penduduk Houndsworth sangat ramah dan memiliki kepedulian tinggi satu sama lainnya.

Lord Spencer!” seorang gadis berumur sepuluh tahunan dengan pakaian lusuh menjuntai sebatas lutut berlarian di sekitar halaman Mansion keluarga Barnett yang dipenuhi bunga Azelia, Mansion keluarga Barnett merupakan yang termegah diantara penduduk desa lainnya. Padang bunga Azelia mereka juga merupakan yang terluas, kekayaan mereka merupakan salah satu faktor keluarga ini sangat disegani. Disamping tugas yang keluarga ini emban secara turun-temurun.

“Lizzy!” seru Spencer yang tengah bersantai menikmati waktu siangnya untuk berjemur ditemani beberapa orang pelayan yang siap melayani semua kebutuhannya. Lizzy, panggilan yang orang-orang berikan pada gadis sepuluh tahun bernama asli Elizabeth itu. Elizabeth kehilangan orang tuanya karena tragedi ‘berdarah’ beberapa tahun lalu, keluarga Spencer mengangkat Lizzy sebagai pelayan. Namun Spencer sangat menyayangi Lizzy, ia menganggap Lizzy sebagai adiknya.

Lord Spencer, Lord Matthew memberi perintah kepada hamba untuk membawa anda ke balai pertemuan…” kata Lizzy tersengal-sengal, gadis itu tidak suka berlari tapi saat ini dia tidak punya pilihan lain.

“Pak tua bertubuh besar seperti beruang itu? huh…katakan aku sibuk!” Spencer tersenyum pahit, dia memang tidak pernah menyukai tetua desa mereka, terutama Lord Matthew yang dinilainya terlalu aneh untuk seorang tetua desa.

Lord…Spencer…” kali ini suara Lizzy sedikit bergetar, beberapa saat kemudian gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk membendung tangisnya yang mendadak pecah.

“Lizzy!” Spencer tersentak oleh Lizzy yang tiba-tiba saja menangis, dia bangkit dari kursi malasnya lalu berjalan perlahan mendekati Lizzy. Spencer meraih bahu gadis kecil itu lalu memeluknya. Ia melingkarkan tangannya erat, entah kenapa dia merasa hatinya teriris tiap kali melihat Lizzy menangis. “Ada apa? kenapa menangis?” tanya Spencer lembut. Tapi bukannya berhenti tangisan Lizzy malah semakin menjadi.

***

Spencer melangkahkan kakinya menuju balai pertemuan yang ada di tengah Houndsworth, Lizzy mengikutinya dari belakang sambil sesekali mengusap air matanya yang kadang jatuh. Matanya sekarang menjadi bengkak dan merah. Spencer menghela napasnya pelan sebelum kakinya benar-benar menginjak tangga batu yang ada di depan balai pertemuan. Hari ini benar-benar seperti mimpi buruk yang selama ini selalu ia takutkan, bukan berarti dia tidak pernah menduga bahwa semua ini akan terjadi. Semua orang di keluarganya pasti pernah menghadapi situasi macam ini, tidak mustahil lebih buruk dari pada dirinya, setidaknya yang berbeda adalah Spencer telah menyiapkan mental untuk menghadapi situai semacam ini. Dia siap menghadapi kenyataan yang menyakitkan ini.

Pintu dari kayu ek itu berderik saat Spencer membukanya, bagian dalam rumah berbahan utama batu itu kosong. Hanya ada beberapa orang tetua desa yang nampak beradu argumen ditemani temaram lilin-lilin yang ditempel di tembok, tak ada meja. Mereka berdiri, tengah mengelilingi sesuatu.

Lord Spencer…” seru Lord Matthew, seorang pria keriput berjanggut putih dan bertubuh tambun saat menyadari Spencer kecil masuk, hal itu sontak membuat adu argumen para tetua desa terhenti.

“Aku sudah mendengarnya dari Lizzy.” Spencer memberi isyarat pada mereka agar mereka tak usah mengungkit lagi masalah itu. Ia tidak ingin pertahanannya runtuh, meski ia seorang laki-laki tapi ia yakin dia akan menangis jika kabar itu dia dengar sekali lagi.

“Aku turut menyesal, kami semua berduka…” Lord Matthew tidak meneruskan kata-katanya lagi, dia hampir lupa bahwa Spencer tidak ingin mendengar hal ini lebih jauh. Spencer anak yang berbeda dari anak yang lainnya, setidaknya ia percaya itu sebelum hari ini. Sebelum semua ini terjadi, yang ia lihat saat ini adalah Spencer yang merupakan anak kecil biasa yang terlihat sama seperti anak kecil lainnya ketika mengetahui kenyataan bahwa kedua orang tuanya baru saja meninggal dunia.

Para tetua desa menyingkir dari jalan Spencer, membiarkan anak itu untuk mendekat ke arah dua peti mati yang sedari tadi mereka kerubungi. Dua orang tetua dengan inisiatif membuka tutup peti mati itu, membuat Spencer dapat melihat mayat kedua orang tuanya dengan jelas. Mr dan Mrs. Barnett nampak begitu kaku dan pucat.

“Ini ulah mereka.” ujar Lord Matthew lirih saat Spencer berada dekat dengannya. Spencer hanya mengangguk seraya terus berjalan mendekat ke arah peti kedua orang tuanya.

Spencer berdiri di samping peti mati ibunya, meraih pipi ibunya lalu membelainya lembut. Tidak akan ada dongeng sebelum tidur lagi.

Setelah puas memandangi sosok ibunya, Spencer mendaratkan sebuah ciuman perpisahan di bibir ibunya yang kaku. Selamat tinggal ibu.

Spencer beralih pada peti mati ayahnya, berbeda dengan peti mati ibunya yang bisa dibilang mungil. Peti mati ayahnya jauh lebih besar, Spencer merasakan perih di ulu hatinya saat melihat bagaimana keadaan ayahnya sekarang. Tubuhnya penuh dengan bekas-bekas makhluk kegelapan itu. Bekas taring-taring mereka yang tajam nampak mendominasi luka ditubuh ayahnya, bukan luka fatal memang. Penyebab kematian ayahnya bukanlah gigitan makhluk-makhluk itu namun tusukan telak kearah jantungnya, yang otomatis membuat kehidupannya terhenti seketika. Spencer hanya memandangi ayahnya dari tepi peti mati, menundukkan kepalanya. Tidak ada lagi orang yang akan mengajariku bagaimana seorang laki-laki seharusnya bersikap, ayah….

Semua orang hanya bisa membisu, mereka ikut larut dalam duka yang Spencer rasakan. Kehilangan orang tua di usia sedini ini pasti tidak mudah, masih banyak hal-hal bahagia yang harusnya Spencer dapatkan dari kedua orang tuanya. Kematian menjemput orang tuanya terlalu cepat.

Di sudut ruangan yang termakan bayangan temaram lilin-lilin yang menempel di dinding Lizzy merapatkan tubuh mungilnya ke dinding yang dingin, pikirnya cukup dia saja yang merasakan kehilangan orang tuanya. Dia tidak ingin Spencer merasakan hal yang sama seperti yang Lizzy rasakan, tapi takdir berkata lain. Mereka sama-sama harus kehilangan orang tua di usia muda. Kehilangan orang tua itu berarti banyak, bukan hanya mereka kehilangan kehangatan keluarga saja. Melainkan mereka juga kehilangan tumpuan hidup mereka, Lizzy yang paling tahu bagaimana kekejaman dunia yang sesungguhnya sejak orang tuanya meninggal. Hidupnya menjadi tidak berharga, yang biasanya dia menghabiskan sepanjang hari dengan bermain. Sekarang dia harus mengerjakan pekerjaan kasar demi makanan, dia beruntung dia tidak harus meminta-minta di pasar lagi demi santap malamnya. Karena kebanyakan hanyalah sisa-sisa makanan dari piring para bangsawan yang seharusnya berada di tempat sampah. Terdengar hina memang, tapi itulah realita kehidupnya.

Hidupnya sebagai pelayan di keluarga Spencer memang lebih baik namun bukan berarti dia bahagia, hidup sebagai pelayan tidak pernah terlintas di benaknya. Dunianya hancur seketika, itu kenyataan pahit yang terpatri jauh dalam hatinya.

Di luar ruangan itu awan gelap berarak membawa wangi tanah yang khas, sebentar lagi akan turun hujan. Langit akan melepas kepergian pasangan Barnett dengan butir-butir air matanya.

***

Dua pusara putih menjadi pusat perhatian semua orang yang saat ini tengah berkumpul di kompleks pemakaman Houndsworth, tiap orang maju bergantian meletakkan bunga Azelia yang mereka tanam di halaman rumah masing-masing untuk moment seperti ini. Bunga Azelia merupakan simbol cinta yang bahagia, mereka berharap pasangan Barnett dapat memperoleh kebahagiaan di dunia mereka yang baru.

Spencer nampak berada di barisan paling depan dengan jubah berwarna hitam menyelimuti hampir seluruh tubuhnya, jubah yang ia kenakan memiliki tudung yang menutup sebagian wajahnya. Para tetua desa berdiri di belakangnya membentuk sederet barisan putih dari jubah yang mereka kenakan.

Tidak ada ungkapan bela sungkawa apapun, semua berlangsung dalam kebisuan. Hanya terdengar suara angin yang menggesek dedaunan di pohon, setelah itu suasana sunyi kembali. Bunga Azelia berwarna putih tersusun rapi di kedua pusara, lalu secara perlahan warga desa berangsur meninggalkan kompleks pemakaman, meninggalkan Spencer yang hanya di temani tetua desa. Lizzy ada dirumah, Spencer sengaja tak membiarkannya ikut karena Lizzy tidak bisa berhenti menangis.

Lord Spencer.” Lord Matthew maju dari barisannya, meletakkan satu tangan di pundak Spencer kecil yang menunduk, menyembunyikan tetesan air matanya sejak tadi. Ia tak mau siapapun bisa melihat air matanya, air mata satu-satunya keluarga Barnett yang tersisa.

“Ya?” jawab Spencer singkat, menghapus air mata yang tersisa disudut matanya.

“Kita harus memulainya sekarang, secepatnya.” ujar Lord Matthew. Spencer hanya mengangguk, dia tahu sekarang dia yang harus mengambil alih tanggung jawab yang selalu diemban oleh keluarganya. Melindungi Houndsworth.

“Seberapa cepat?” tanya Spencer kemudian, sejujurnya saat ini dia masih ingin berada di pusara kedua orang tuanya.

“Sekarang!”

“Bisakah kalian memberiku waktu beberapa menit lagi, aku janji setelah itu aku akan ikut dengan kalian.”

Tiba-tiba saja para tetua desa mulai berdebat, beberapa diantara mereka ada yang mendukung Spencer dan ingin membiarkan anak itu untuk berada lebih lama di pusara kedua orang tuanya, namun beberapa dari mereka terus mendesak bahwa nasib Houndsworth tidak bisa dianggap remeh, mereka harus mengakui bahwa nyawa semua penduduk ada di tangan Spencer.

“Baiklah, kami akan lebih dulu menuju balai pertemuan. Aku harap kami tidak perlu menunggu terlalu lama.” Lord Matthew menengahi, tetua desa yang lain diam tidak berdebat lagi mereka tunduk dengan ketua mereka. Mereka hanya berharap dalam hati bahwa Spencer tidak akan melupakan tanggung jawabnya.

“Aku berjanji tak akan lama….” kata Spencer sebelum para tetua desa meninggalkannya sendirian di pusara kedua orang tuanya.

***

Kabut tipis menghalangi cahaya bulan yang saat itu memasuki fase purnama, Houndsworth gelap gulita. Semua meringkuk dalam rumah, tak ada yang berani keluar rumah. Mereka semua takut sesuatu akan menerkam mereka di luar sana, menjadikan mereka sebagai santap malam. Terlebih setelah pelindung mereka pasangan Barnett tewas, hal ini menambah keresahan tiap orang jika malam hari datang.

Dua siluet manusia nampak berjalan menembus kegelapan dengan berbekal sebuah obor di tangan seorang yang nampak lebih tinggi dari yang satunya, mereka bergerak perlahan menembus belantara hutan pinggiran Houndsworth.

Dua orang itu terus berjalan masuk ke tengah hutan, menembus semak belukar dan rerimbunan pohon. Tepat saat mereka sampai di depan sebuah gua yang terhalang sulur mereka berhenti.

“Jadi ini tempatnya?” tanya seseorang berjubah hitam dengan tudung yang masih menutupi sebagian wajahnya. Dia melangkah mendekati mulut gua, namun ia tidak meneruskan langkahnya, hanya diam meresapi semua yang ada disana. Ketakutan, gelisah, rasa ingin tahu, juga suatu perasaan yang tidak bisa dia gambarkan. Sebuah intuisi yang dari tadi terus menyita perhatiannya.

“Ya, dulu para pendahulumu membuka takdirnya di sini.” kata pria berjubah putih dengan tubuh tambunnya. Pria itu melangkah mendekati seseorang berjubah hitam di depannya, seseorang yang sebentar lagi akan menjadi pelindung Houndsworth yang baru.

Pemuda bertudung hitam itu, membuka tudungnya. Matanya menerawang jauh ke dalam gua yang gelap itu mengira-ngira apa yang akan menunggunya disana. “Apa seseorang pernah gagal sebelumnya? bagaimana kalau aku gagal?” ada seraut kecemasan di wajahnya.

Pria berjubah putih itu tersenyum sekilas, “Jika kau gagal melaluinya, tentu saja kau akan mati.” pemuda berjubah hitam itu mendadak pucat, mati?

Bukan hal baru lagi tentunya, meskipun dia hidup dia tetap harus mengorbankan nyawanya. Jadi sama saja, hanya masalah waktu untuk dia menemui ajal.

“Tapi darah Barnett tidak pernah berbohong…”

Pemuda berjubah hitam itu mengerjapkan matanya sekali, ia seperti mendapat angin segar. “Maksudmu?”

“Keluarga Barnett tidak pernah gagal melaluinya, itulah sebabnya keluargamu yang mendapat tugas besar ini. Beberapa orang dari keluarga lain pernah mencoba dan semuanya gagal, hanya keturunan langsung Lord Leonard Barnett yang mampu bertahan.” Pemuda berjubah hitam itu tersenyum, ia bangga mewarisi darah Lord Leonard Barnett pendiri Houndsworth. Dan sekaranglah saatnya dia mengambil tanggung jawab sebagai satu-satunya keluarga Barnett yang tersisa.

“Kau yang termuda yang pernah datang kemari,” pria berjubah putih itu mundur beberapa langkah. Saatnya hampir tiba, Spencer harus segera masuk untuk membuka takdirnya. “Masuklah dan cepatlah kembali, Houndsworth menunggu pelindung baru mereka…”

“Aku mengerti.” Spencer menarik napas sebentar, dada kirinya riuh dengan debaran-debaran jantungnya yang tak teratur. Debaran jantungnya semakin keras saat kakinya mulai menapaki mulut gua, gelap. Tidak ada apapun yang bisa dia lihat kecuali hitam.

***

Lizzy terus gelisah di kamarnya, malam ini adalah waktu yang tetua desa mereka putuskan untuk Spencer. Dia tidak habis pikir, tanggung jawab sebesar itu dibebankan pada anak berusia tiga belas tahun? Pasti tetua desa mereka sudah gila!

“Lizzy, kau belum tidur?” Lizzy memalingkan wajahnya dari jendela kamar, di depan pintunya berdiri wanita paruh baya yang telah mengabdikan separuh usianya untuk keluarga Barnett.

“Belum… kau sendiri belum Lilia?” Lizzy kembali menatap jendela, ia berharap tadi saat melepas Spencer pergi bersama Lord Matthew bukanlah kali terakhirnya ia melihat Spencer.

“Kau mencemaskan Lord Spencer?” Lilia kemudian duduk di sebelah Lizzy, meletakkan kepala gadis itu kepelukannya. Lilia dulu punya seorang anak, seorang anak perempuan yang manis seperti Lizzy, namun ‘mereka’ membuat dia harus kehilangan anaknya. Dan semenjak Lizzy hadir, dia seperti mendapatkan kembali sosok anaknya yang telah lama pergi.

Lizzy mengalihkan perhatiannya dari jendela ke iris mata abu-abu milik Lilia. Dia merasa damai, pelukan yang Lilia berikan sama hangatnya dengan pelukan ibunya. Meski dia tidak bisa ingat dengan jelas seberapa hangat pelukan ibunya dulu, namun ia bersyukur selama ini Lilia selalu menyayanginya seperti anaknya sendiri.

“Aku tidak pernah berhenti mencemaskannya, aku tidak tahu kenapa…” Lizzy menghembuskan napasnya perlahan mencoba menenangkan hatinya sendiri, dia harus percaya bahwa Spencer akan baik-baik saja. Spencer sudah berjanji akan kembali, harusnya itu cukup untuk membuat hatinya tenang.

“Karena kau menyayanginya dan begitupun dengan dia. Dia menyayangimu seperti keluarganya sendiri.” Lilia membelai lembut puncak kepala Lizzy, gadis itu mulai memejamkan matanya.

Lilia menatap gadis yang terlelap di pelukannya dengan tatapan yang menyejukkan, dia kagum dengan lika-liku kehidupan gadis itu. Gadis itu sangat kuat menghadapi semuanya, meski Lizzy mudah menangis tapi hatinya sangat kuat. Dia sangat kuat menghadapi dunia yang hitam dan mengerikan ini.

***

Spencer melangkah ragu memasuki gua yang gelap itu, Lord Matthew berkata bahwa keberanian yang akan menyinari langkahnya sehingga Spencer tidak dibekali obor. Spencer merasa ada yang janggal, bukankah dia masuk ke dalam sebuah gua?

Harusnya kakinya berkali-kali terpeleset karena tidak bisa melangkah dengan benar diantara batu-batu yang tersusun tak rapi atau dia menabrak bongkahan batu besar yang bisa kapan saja membuat kepalanya benjol. Tapi gua ini terasa begitu aneh. Jika memang aneh bisa mewakili kata terlalu datar untuk lantai gua dan terlalu luas untuk ukuran sebuah gua.

“Siapa kau?” Spencer tidak meneruskan langkahnya saat ia mendengar suara seseorang menggema di dalam sana.

“Aku? Aku Spencer…Spencer Barnett!” teriak Spencer tak tentu arah, karena dia tidak bisa melihat lawan bicaranya. Hanya hitam, seperti pertama kali menjejakkan kakinya masuk.

“Barnett?” suara itu sedikit menggantung, kemudian hening. Spencer sempat mengira bahwa orang-jika memang ada manusia yang hidup disini-itu sudah pergi karena sejak tadi tidak ada suara apapun lagi, Spencer hanya dapat mendengar deru napasnya sendiri yang berpacu dengan detak jantungnya.

“Kau…berapa umurmu?” Suara itu terdengar lagi.

“Tiga belas tahun.” jawab Spencer mantap, masalah umur bukan hal penting lagi sekarang. Spencer memang sudah matang dari segi berpikir, jauh diatas anak-anak seusianya.

“Kau masih terlalu muda.” kata suara itu lagi.

“Aku siap, usia bukan masalah. Yang terpenting aku sudah memahami tugasku dengan baik!”

Mata Spencer tiba-tiba tersentak oleh kilatan cahaya putih yang membuat pupil matanya tidak siap harus menyempit dalam tempo waktu sepersekian detik, lama kelamaan Spencer dapat membiasakan matanya setelah mengerjap-ngerjap beberapa kali. Dia mulai bisa melihat dengan jelas bahwa ini bukanlah gua seperti kebanyakan gua yang dia tau, lantainya terbuat dari kayu, ada beberapa meja di sudut-sudut ruangan yang di penuhi tumpukan buku. Ruangan itu mirip seperti ruang kerja, hanya saja atapnya masih asli atap gua.

Spencer merasakan ada hawa dingin di bahu kanannya, dia menatap kearah bahunya dan ia mendapati ada tangan yang sangat putih disana. Spencer menengok kebelakang, kearah orang yang memegang bahunya.

“Kau siapa?” tanya Spencer kepada wanita muda berumur sekitar dua puluhan tahun, menggengam erat bahunya dengan tangannya yang dingin.

“Aku tinggal di gua ini, namaku Elenna!” kata wanita itu sambil tersenyum, dia mengangkat sedikit rok putih yang dia kenakan sebatas mata kaki itu untuk kemudian melangkahi buku-buku yang tercecer di dekat meja.

“Apa kau bisa membantuku untuk membuka takdirku?” tanya Spencer langsung. Elenna masih menghindari buku-buku terinjak kaki telanjangnya untuk bisa mencapai kursi di balik meja yang lumayan kosong dari tumpukan buku.

“Semua keluargamu datang kepadaku untuk melakukannya.” jawab Elenna datar, memang tidak pernah ada orang lain yang datang untuk hal lain.

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” tanya Spencer sambil berusaha mendekat ke arah Elenna, tapi wanita itu mengayunkan tangannya mencegah Spencer mendekat.

“Aku tidak akan menyulitkanmu, karena kau yang terakhir dan masih sangat muda aku memberimu pengecualian.” Elenna menatap Spencer dengan tatapan yang teduh kemudian Ellena menundukkan kepalanya, mengepal dua tangannya erat diatas meja.

Spencer mengernyitkan dahinya, tak mengerti apa yang Elenna lakukan.

Beberapa menit kemudian Spencer melihat pendaran cahaya hijau dari dahi Elenna, wanita itu terpejam dengan rambut panjang keemasannya yang berkibar seperti tertiup angin padahal Spencer bersumpah dia sama sekali tidak merasakan adanya angin sama sekali.

Booooooooooom

Sebuah benda keluar dari tumpukan buku yang berada di meja sudut gua bagian belakang, sebuah kotak persegi dari bahan kayu ek!

Boooooooooooom

Bukan hanya satu ataupun dua, tapi ada sekitar lima kotak yang keluar dari masing-masing tumpukan buku di tempat berbeda. Ke semua kotak itu berderet rapi beterbangan kearah meja di depan Elenna, membentuk sederet barisan.

“Kemarilah, dan pilihlah takdirmu sendiri!”

 

***

Namanya juga Teaser

XD

Bingung ini FF enaknya dilanjut atau gak tapi nanggung udah dapet segini XD

Oh iya, silahkan menebak ‘mereka’ itu makhluk apa..yang bener dapet poppo author XD

Park Sangra…kau muncul lagi^^

Makasih buat Elenna yang udah mau berperan sebagai makhluk gua^^

Ah, belum sempet bikin cover>,<

Ada yang mau bikinin?

Kekeke…

Ya udah ya saya mau bertapa lagi silahkan meninggalkan jejak biar ide aku bertambah subur>~<

{SunMin couple} First Meet

~Hyesun’s POV~

 

“Hyesun ah!” panggil Seung hoon oppa dari halaman rumah kami sambil melambaikan tangannya cepat.Wajahnya terlihat sangat cerah.

 

“Ada apa oppa?” tanyaku sambil berlari perlahan menuruni anak tangga yang tersusun rapi dari pintu utama rumah kami sampai ke halaman depan tempat Seunghoon oppa berada.

 

“Kita punya tetangga baru!” seru Seunghoon oppa.

 

Jeongmal?”

 

***

 

Seunghoon oppa berjalan terlebih dahulu memasuki pelataran rumah yang berada tepat disebelah rumah kami. Dulunya ada sepasang suami istri yang tinggal disini tapi beberapa bulan yang lalu mereka pindah rumah karena suaminya mendapat tugas dinas di Incheon. Rumah ini sempat terbengkalai beberapa bulan tapi tadi oppa memberitahuku bahwa kami punya tetangga baru itu artinya rumah ini tak akan menganggur lagi.

 

Rumah bercat coklat muda itu memiliki dua lantai, dilantai dua terdapat balkon yang memiliki pemandangan langsung ke taman kompleks. Gaya arsitektur-nya minimalis namun sangat khas korea di bagian dalamnya itu yang terakhir kali kutahu, entahlah penghuni baru rumah ini akan mengubahnya atau tidak.

 

“Hyesun ah ppaliwa!” Seunghoon oppa menarik tanganku, memintaku lebih cepat berjalan. ”Oppa kalau kau mau aku berjalan secepat dirimu kenapa kau tidak gendong saja aku dipunggungmu?” bujukku manja, aku sangat menyukai punggung Seunghoon oppa. Rasanya sangat nyaman dan hangat.

 

“Aiiiissshh….kau itu sudah kelas 3 SD mau sampai kapan kau bermanja-manja pada oppa?” Seunghoon oppa berhenti sejenak tepat didepan pintu, dia tersenyum kearahku. Lalu kedua tangannya ditempelkannya pada kedua pipiku yang sudah ratusan kali bahkan ribuan kali dia sentuh seperti ini. Aku sudah hafal benar apa yang terjadi setelah ini “Hyesun ah kau tahu? Pipimu itu membuatku gemas” Seunghoon oppa menekan, mmm…Lebih tepatnya mencubit pipiku sedikit. Tapi tentu saja bagiku itu terasa sakit meskipun sedikit.

 

Kajja!” Seunghoon oppa berjongkok dihadapanku, menyodorkan punggungnya yang nyaman untukku. Dugaanku tepat, aku memberikan pipiku untuknya dan dia memberikanku punggungnya,punggungnya yang selalu kurindukan.

 

Gomawo oppa.” kataku sambil melompat kegirangan menaiki punggung Seunghoon oppa. “Aigoo, yeosaeng-ku ternyata bertambah berat.”godanya.

 

“Tapi oppa tak akan menolakku kan meskipun beratku menjadi seberat gunung?” kataku penuh percaya diri.

 

Oppa mana yang sanggup menolak yeosaeng semanis kau princess.”

 

“Kekekekeke…” kekehku pelan.Aku memang sangat beruntung memiliki oppa seperti Seunghoon oppa, oppa saranghae.

 

***

 

Seunghoon oppa menahan tubuhku dengan satu tangannya sedangkan tangan yang satunya ia gunakan untuk membuka pintu rumah tetangga baru kami, aku melilitkan erat kedua tangan mungilku kelehernya agar tak jatuh.

 

Pintu terbuka dan terlihatlah sepatu appa dan eomma yang terpampang manis di ruang depan rumah tetangga baru kami. “Jatuhkan saja sandalmu Hyesun ah!” kata Seunghoon oppa dan aku menurutinya, sandal Hello Kitty ku mendarat dilantai tak beraturan sedangkan Seunghoon oppa sibuk mengganti sepatunya dengan sandal rumah yang disediakan di dekat pintu depan-mereka belum punya rak sepatu sepertinya-tapi ada sepatu yang ukurannya hampir sama dengan ukuran kakiku meski dari modelnya aku tahu pasti itu sepatu anak laki-laki. “Sepertinya kau akan punya teman baru.” Seunghoon oppa menolehkan sedikit kepalanya kearahku yang ada dipunggungnya, rupanya Seunghoon oppa juga berpikiran sama denganku.

 

“Aku akan punya teman baru, pasti menyenangkan.” benakku.

 

Seunghoon oppa menaikkan tubuhku yang mulai merosot dan terus menggendongku berjalan tak tentu arah mencari orang tua kami yang sudah pasti sedang beramah-tamah dengan tetangga baru, kami melewati sebuah ruangan yang penuh dengan rak-rak berisi buku. Perpustakaan?

 

Pasti pemilik rumah yang baru sangat menyukai buku sampai-sampai mereka meletakkan perpustakaan di depan. Bukannya ruang tamu seperti kebanyakan rumah lain, aku bersyukur keluargaku tergolong dalam kategori normal.

 

Aigoo~ Hyesun ah kau jangan terus-terusan meminta Seunghoon untuk menggendongmu seperti itu…” kami ada di ruang tamu setelah kami melewati perpustakaan tadi, berbeda dengan perpustakaan tadi yang terbilang cukup luas ruang tamu ini malah terlihat sedikit sempit. Kami benar-benar memiliki tetangga yang unik rupanya.

 

“Kemari” eomma melambaikan tangannya kearah kami menandakan bahwa aku sudah harus turun dari punggung Seunghoon oppa. Seunghoon oppa perlahan-lahan berjongkok untuk menurunkanku, aku menapakkan kakiku satu persatu kelantai dan mulai menekuk wajahku. Aku memang tak suka saat diminta turun dari punggung Seunghoon oppa, semua pasti tahu itu.Aku ralat, tetangga baru kami tentu belum tahu.

 

“Ini putriku satu-satunya namanya Choi Hyesun yang itu putraku satu-satunya Choi Seunghoon” eomma menyambutku lalu bicara kepada sepasang suami istri yang duduk tak jauh dari appa dan eomma, mereka kelihatan sedikit lebih muda dari appa dan eomma. Suami-istri itu nampak antusias menyambutku yang dari tadi hanya mematung berdiri didepan mereka tak tahu apa yang harus dilakukan.

 

Kyeoppta,” kata ahjuma itu sambil tersenyum, ahjuma ini manis sekali saat tersenyum meski dengan kacamata yang bertengger dihidungnya. “Siapa namamu tadi anak manis?” tanya ahjussi disebelah ahjuma tadi, mereka sama-sama berkacamata. Aku sedikit ngeri, melihat tebalnya kacamata mereka dan perpustakaan tadi aku bisa menyimpulkan mereka sekeluarga adalah kutu buku. Tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri, aku tak siap bergaul dengan orang-orang kutu buku seperti mereka.Pasti aku mati kebosanan karena setiap waktu hanya menghabiskan waktu didepan buku.”Choi Hyesun imnida.

 

“Hyesun? wah, nama yang bagus!”

 

Kamshahamnida.”

 

“Kau kelas berapa?”

 

“Kelas 3“

 

Jinjjayo?”

 

Ne.”

 

“Kalau begitu yeobo berarti dia seumuran dengan anak kita!” seru ahjuma itu pada suaminya.

 

Ne…” jawab suaminya, benarkah dia seumuran denganku? Tadinya aku sangat antusias menyambut tetangga baru kami yang ternyata memiliki anak yang sebaya denganku, tapi melihat latar belakang keluarga mereka yang bersahabat erat dengan buku rasanya semua keantusiasanku hilang, kalau bisa sekarang aku ingin berlari pulang kerumah mengunci diri dikamar bermain bersama koleksi boneka-bonekaku yang lebih menarik dari pada buku. Aku benci buku!

 

“Changmin ah, kemari nak!” panggil ahjuma itu dengan suaranya yang bervolume besar. Beberapa menit berlalu namun tak ada yang datang.

 

“Changmin ah!!” kali ini ahjuma itu sedikit berteriak. Aku melirik ahjuma itu sekilas, apa semua ibu-ibu memang sama seperti ini. Mereka bisa kelihatan lembut namun juga bisa terlihat menakutkan, sama seperti eomma kalau aku tak menurutinya untuk tidur siang.

 

Ne…” ada suara menyahut, lalu ada suara derap langkah yang terburu-buru menuruni anak tangga.

 

Dari dalam rumah muncul sosok anak laki-laki yang sebaya denganku namun wajahnya terlihat tidak seperti orang korea kebanyakan, dia memakai T-shirt cream dengan celana hitam. Dia memegang buku ditangannya-sudah kuduga mereka sekeluarga memang memiliki hobby yang sama-tapi aku bersyukur dia tidak berkacamata, dia terlihat lumayan normal. Tidak seperti orang tuanya yang terlihat sangat kutu buku.

 

“Kau akan punya teman baru, namanya Choi Hyesun!” ahjuma itu memegang bahuku, mereka memintaku untuk mendekat kearah dia,siapa namanya tadi? Changmin?

 

Annyeong…” sapaku ragu sambil menggoyangkan tanganku pelan sejenis lambaian tangan tapi aku rasa itu tidak mirip lambaian tangan sama sekali karena aku sedikit memaksakan diri. Aku tak tahan dengan tatapan Changmin yang seakan ingin menelanku bulat-bulat, bahkan bibir sebelahnya nampak sedikit terangkat membuat wajahnya terlihat penuh dengan protes.

 

“Choi Hyesun imnida.” aku mendekatinya. Mencoba meraih tangannya untuk bersalaman, paling tidak aku bisa pulang setelah aku menjabat tangan bocah tengik ini.

 

Don’t touch me!” katanya sambil mundur beberapa langkah.Tatapannya seakan-akan aku ini wabah penyakit menular.

 

Ne?” dia bicara sesuatu yang tidak aku mengerti.

 

Pabo! Aku tadi bilang jangan sentuh aku! Eomma aku tidak mau berteman dengan orang yang bodoh seperti dia, aku ke kamar lagi ya eomma aku belum selesai membaca buku ini.” kata Changmin sambil menggoyang-goyangkan buku ditangannya.

 

“Aiiiisssh…kau itu selalu saja bicara seenaknya. Jeosonghamnida!” ahjuma itu meminta maaf kepada appa dan eomma.

 

“Cisshh..lagi pula siapa yang mau berteman denganmu” aku menjulurkan lidahku pada namja sombong itu. Apa hanya karena dia bisa berbicara dengan bahasa asing itu keren? Apa itu bisa disebut pintar? Kau namja tengik!

 

***

 

“Hyesun ah ireona!” suara Seunghoon oppa yang memiliki khas sedikit berat itu selalu menyapa pagiku, dia yang selalu membangunkanku dan mengurusiku tiap pagi karena appa dan eomma pasti sudah berangkat kerja. Ah, kenapa hari minggu itu singkat sekali aku masih ingin dirumah bersama appa, eomma dan tentu saja kakak kesayanganku Seunghoon oppa.”Kali ini kita hanya sarapan toast, gwenchana?”tanya Seunghoon oppa sambil berjalan kearah kasurku dengan mengenakan celemek birunya.

 

Gwenchana oppa.” kataku sambil sedikit menggeliat dikasur meregangkan sedikit otot-otot di pagi hari, sesekali mulutku menguap menandakan aku masih ingin tidur lebih lama, tapi tentu saja Seunghoon oppa akan marah kalau aku bolos sekolah. Aku tak suka oppa marah.

 

“Segeralah mandi, oppa menunggumu untuk sarapan. Setelah itu kita bersama-sama berangkat ke sekolah,” Seunghoon oppa berjalan kesudut kamarku, mengambil handuk lalu kembali kehadapanku sambil menyerahkan handuk ditangannya. ”Kajja!” katanya sambil mencubit pipiku gemas.

 

***

 

Aku memasukkan buku-buku yang berserakan di meja belajar kedalam tas ransel hitamku, aku sudah selesai mandi dan berganti baju. Setelah menyusun jadwal untuk hari ini hanya tinggal sarapan saja jadi aku bisa berangkat kesekolah bersama dengan Seunghoon oppa, tiap pagi berjalan kaki sambil bergandengan tangan dengan oppa-mu kesekolah bukan kah itu terdengar sangat menyenangkan?

 

Usia kami memang terpaut lumayan jauh, sekitar tujuh tahun. Sekarang Seunghoon oppa sudah berada di kelas 1 SMU sedang aku kelas 3 SD. Tapi kami tak pernah merasakan usia kami yang terpaut jauh itu sebagai halangan, justru aku sangat nyaman karena Seunghoon oppa dapat menjagaku dengan baik. Aku akan memberinya gelar ‘Oppa terbaik di dunia’ jika memang ada kontes seperti itu.

 

“Akhirnya, ayo cepat nanti kita bisa terlambat !” Seunghoon oppa sudah duduk manis di kursi ruang makan kami, dia sudah rapi dengan seragam SMU yang sangat cocok ditubuhnya yang tinggi.

 

“Kenapa dia ada disini oppa?” tanyaku sinis sambil mengerucutkan bibirku menatap seorang bocah yang tengah asyik makan bersama Seunghoon oppa, dia terlihat seperti iblis kecil dimataku.

 

Morning.” kata namja tengik itu sambil terus menyantap toast dengan saus maple-nya. Lagi-lagi bicara bahasa asing, kau itu pamer sekali iblis kecil.

 

“Changmin akan berangkat sekolah bersama kita, tadi ahjuma dan ahjussi mengantarkannya kemari. Kau harus baik padanya, diakan belum hafal jalanan disini jadi mulai sekarang kau harus menemaninya kemana-mana , arraseo?” mataku membelalak lebar, aku harus menemaninya kemana-mana? bukankah itu artinya aku menjadi pelayannya? Oppa, aku sungguh tak menyangka kau akan bicara seperti itu. Kau menyerahkan adikmu sendiri kepada iblis kecil seperti dia.

 

“Duduklah, oppa sudah mengoleskan strawberry jam di toast mu”

 

***

 

Iblis kecil itu membuatku kehilangan kesempatan pagi ini untuk menggandeng tangan Seunghoon oppa seperti biasanya, Seunghoon oppa menyuruhku untuk berjalan di depan sendirian sedangkan iblis kecil itu yang mendapat posisi kehormatan menggandeng tangan Seunghoon oppa. Aku semakin bertambah sebal saat menengok kearah belakang dan mendapati iblis kecil itu bisa tertawa begitu lepas bersama Seunghoon oppa, bagus. Sekarang aku merasa seperti seorang adik tiri yang kesepian sedang berjalan sendiri di tengah kebahagiaan dua orang saudara kandung yang berjalan di belakangnya.

 

Aku bisa terima jika Changmin berangkat ke sekolah bersama kami karena dia pasti belum tahu dimana sekolahnya berada, tapi… KENAPA HARUS BERGANDENGAN TANGAN DENGAN SEUNGHOON OPPA???

 

“Awas!”

 

Butuh waktu dua detik bagiku untuk kemudian menyadari bahwa ada tong sampah yang hampir kuseruduk karena terlalu asik menyemburui kedekatan dua namja di belakangku, tapi beruntungnya aku. Seunghoon oppa sempat menarikku hingga aku tidak perlu terjerembab masuk ke dalam tong sampah yang melekat kuat ke trotoar jalan itu, mengingat ukuran tubuhku yang hampir sepadan dengan tong sampah itu.

 

Gwenchana?” Seunghoon oppa menyeka debu yang kini ada di kedua tanganku karena setelah oppa menarikku agar tak terjerembab masuk ke dalam tong sampah tadi aku jadi terjatuh kebelakang, menghantam tubuh Seunghoon oppa hingga dia terhempas jatuh ke trotoar jalan yang keras.

 

Aku menatap dua manik mata Seunghoon oppa yang setengah mati mencemaskanku, tubuhku jatuh diatas pelukannya tentu saja aku baik-baik saja. Kenapa oppa-ku bodoh sekali, tentu saja dia harus mencemaskan dirinya sendiri yang jatuh di trotoar yang keras itu.

 

Princess, kau benar-benar baik-baik sajakan?” Seunghoon oppa memapahku untuk berdiri, perlahan-lahan oppa mengusap puncak kepalaku kemudian membersihkan debu-debu yang menempel di seragam sekolahku, aku sendiri hanya mengucek mataku sambil menahan butiran air mata yang tanpa aba-aba membasahi kedua mataku.

 

Uljima, mana yang sakit?” Seunghoon oppa berhenti melakukan aktifitas membersihkan seragam sekolahku tadi, kini dia berjongkok. Mensejajarkan tubuhnya setinggi tubuhku yang pendek.

 

Oppa mianhae!” aku langsung memeluknya, karena kebodohanku oppa jadi begini. Dan bukannya memeriksa dirinya sendiri apakah dia tidak terluka atau minimal membersihkan debu-debu di seragamnya dia malah sebegitunya mengkhawatirkanku.

 

Gwenchana Hyesun ah, semua baik-baik saja. Gwenchana…” kata-kata Seunghoon oppa tidak membuat tangisku reda tapi malah membuat air mataku terus mengalir meskipun aku terus berusaha untuk menahan nya.

 

“Kita terlambat!” Seunghoon oppa melepaskan pelukanku dan membuat kami menyudahi mellow-drama tanpa skenario tadi. Seunghoon oppa dengan cepat membersihkan debu-debu yang menempel di seragamnya lalu berdiri kembali.

 

“Nah, ayo berangkat!” Seunghoon oppa kembali menggandeng tangan Changmin yang dari tadi hanya terpaku, berperan sebagai penonton drama singkat kakak-adik keluarga Choi itu.

 

“Ulurkan tanganmu princess!” kata Seunghoon oppa yang seketika menghancurkan tembok kecemburuan di hatiku yang mendadak muncul lagi tadi, kali ini Seunghoon oppa menggandeng Changmin di sebelah kanan nya, sedangkan aku berada di sebelah kiri. Cukup adil, dan sekarang aku merasa sangat bahagia meskipun harus berbagi uluran tangan kakakku dengan bocah iblis itu.

 

Aku cukup menikmati perjalanan kami sampai, “Psst~” panggil Changmin si bocah iblis, aku hanya menatapnya sinis. Sedangkan Seunghoon oppa masih fokus pada lampu lalu lintas dihadapan kami yang tak kunjung berwarna hijau untuk pejalan kaki itu.

 

“Apa?”

 

“Tadi harusnya kau berendam dengan sampah-sampah itu, itu akan lebih menarik dari pada sekedar adegan menangis…kekeke.” bocah iblis itu terkekeh.

 

***

-THE END-

Aku pengen punya Oppa!!! >,<

Gak sabar buat nulis couple ini lagi^^

Choi Seunghoon oppa saranghaeyo, oh iya tolong bayangin dia berwajah Jang Geun Suk pas masih muda

Sampai ketemu di FF selanjutnya^^

#tebar poppo:*

[MULTI CHAPTER] Love In The Ice Chapter 1

 

 

Author :

Choi Hye Sun ( Citra IU Cassielfishy )

Title :

Love In The Ice

Genre :

Romance, Family

Length :

One Shoot

PG :

General

Cast :

1. Lee Ryeona ( Karina Citra Ayu )
2. Kim Jong Woon aka Yesung
3. Oh Se Hun EXO
4. Choi Hye Sun ( Citra IU Cassielfishy )
5. LeeTeuk as Ryeona’s father
6. Lee So Ra as Ryeona’s Mothers
7. Choi Si Won as coach
8. Sully F(X)

Note :

Tribute to Everyone who have a dream…. I say… Catch it !! And be brave

Disclaimer :

Cast belong to God…. This FF belong to author….. Cerita murni hasil pemikiran author, please don’t be a plagiator, take out with full credits*biarpun aku juga gak ngerti*, jangan share/bagikan FF ini tanpa seijin author. Please RCL if you done to read it…

OST :

Love In The Ice (DBSK), It Has To Be You (Yesung),

****************************

~Author POV~

Flash back

 

“Ayo…Ryeona….kau pasti bisa….” Appa Ryeona terus menyemangati anaknya yang saat ini masih berpegangan erat pada pagar ice rink, kakinya tidak mau ia gerakkan sedikitpun karena ia takut jatuh menghantam padatan es licin yang kini menjadi pijakkannya.Berjalan diatas pisau-pisau yang tertaut disepatu luncurnya memang bukan perkara mudah.

“Appa… aku takut…..appa…..” rengek Ryeona kecil yang tahun ini baru masuk sekolah dasar.

Ryeona baru kali ini diajak appa-nya ke gelanggang Ice skate untuk belatihnya Ice Skating, meski appanya adalah seorang pelatih Ice Skating professional tapi appa-nya tidak pernah mau membawa Ryeona ke gelanggang, menurut appa-nya Ryeona masih terlalu muda untuk berlatih Ice Skating, namun gadis kecil itu terus merengek untuk dilatih alhasil appa-nya tidak bisa menolak lagi.

Appa Ryeona yang semenjak tadi duduk diantara kursi penonton kini mulai sibuk memakai ice skates*sepatu luncur*, Apanya mulai memasuki ice rink dan meluncur perlahan mendekati Ryeona, gadis itu kini sudah berlinangan air mata. Matanya terlihat sembab dan dia sesenggukan.

“Coba kau angkat kakimu satu persatu…kau coba berjalan seperti biasa…..ara?” Appa Ryeona mepraktekan cara berjalan kepada putri mungilnya itu.

Ryeona memperhatikan baik-baik cara berjalan ayahnya yang tiap langkahnya menyerupai garis putus-putus.

“Arraseo?” Ayah Ryeona berbalik cepat meluncur kearah putrinya.

“Arraseo appa………..” Ryeona mengusap airmatanya dengan sarung tangan yang melekat di tangan kanannya, Ryeona mulai mengangkat kaki kanannya hati-hati sambil terus berpegang erat pada pagar ice rink.

 

BRAAAAAAAAKK…….

 

Tubuh mungil itu jatuh diatas padatan es keras…….

“Huuuaaaaaaaaaa………………..” Ryeona yang jatuh telungkup menangis sejadi-jadinya.

“Gwenchanayo?”Appa-nya meluncur cepat untuk melihat keadaan Ryeona.

“Appo………”

“Gwenchana……. ayo berdiri lagi !” Appanya mengulurkan tangan.

“Shireeooo………appa……..”

“Ryeona…. tidak ada satupun Ice Skaters yang tidak pernah jatuh di arena Skate-nya..percayalah pada appa………”

“Jinjja?”

“Ne, bahkan atlet professional yang appa latih masih sering terjatuh…. Ryeona… tidak ada kesuksesan tanpa kau mengerti bagaimana pedihnya terjatuh.. bagaimana remuknya badanmu karena kau menginginkan sesuatu melebihi apapun… Jadi, Ryeona ku sayang.. Jangan pernah menyerah…..”

 

Fash back end

************************

~Ryeona POV~

 

“Appa……………..”Tanpa sadar aku berteriak keras karena hari ini aku memimpikan appa lagi.

Kenangan masa kecilku dengan appa saat appa melatihku Ice Skating merupakan kenangan terindah sekaligus yang terakhir. Sejak appa meninggal sepuluh tahun silam aku memang sering memimpikan appa, appa adalah sosok panutan dalam hidupku. Sayang sekali appa meninggalkan aku dan eomma begitu cepat, aku juga kurang jelas apa penyebab kematian appa sebab hingga saat ini eomma tidak pernah memberi tahuku apa-apa. Semenjak appa meninggal kami juga sering pindah-pindah rumah, kami pernah tinggal di Daegu, Gwangju, Busan,Ulsan dan baru-baru ini kami pindah ke Incheon.

Aku turun dari ranjang menuju meja belajar yang letaknya ada disebelah ranjangku, aku meraih foto keluarga kami yang saat itu masih lengkap dengan appa,aku dan eomma. “Appa….. neomu bogoshippo………” Aku sering menitikan air mata jika mengenang masa-masa itu, saat itu keluarga kami sangat bahagia meskipun tinggal secara sederhana dirumah kecil kami di Seoul, appa dan eomma sering mengajakku pergi ketaman hiburan, kebun binatang maupun ke gelanggang Ice Skating untuk melihat atlet-atlet asuhan appa berkompetisi dikejuaraan daerah maupun nasional.

Aku ingat senyum appa tiap kali aku merengek minta diajarkan ice skating, bagaimana appa terus menyemangatiku jika akhirnya aku ketakutan untuk mencoba berjalan diatas es-es dingin itu.

 

Tok….tok….tok…………….

 

“Lee Ryeona !!!” Eomma mengetuk-ngetuk pintu kamarku.

“Ne eomma…………???”

“Buka pintunya….!!”

“Ne…” Aku menaruh kembali foto keluarga kami ke tempatnya semula dan mulai melangkah menuju pintu kamarku yang terkunci, setelah aku membuka pintu itu eomma masuk dengan tergesa-gesa. Dari raut wajah eomma yang kusut itu aku bisa menebak pasti pagi ini aku akan sarapan omelan eomma lagi.

“Kau mau bangun jam berapa? ini sudah hampir telat……..”

“Arasseo eomma……”Aku panik mencari-cari handuk supaya aku bisa langsung meluncur ke kamar mandi.

“Lee Ryeona !!!!” Eomma membentakku.

“Ne….??” Aku mengurungkan niatku mencari handuk lalu kembali kehadapan eomma, eomma sudah rapi dengan baju kerjanya. Eomma memang tulang punggung keluarga kami semenjak appa meninggal, aku tahu tanggung jawab eomma sekarang lebih besar, eomma berperan ganda menjadi seorang ibu dan juga seorang ayah untukku.

“Lee Ryeona katakan apa ini???”Eomma mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Omona….eomma sudah menemukannya, matilah aku………..

“Ryeona…………….. kenapa kau masih menyimpan benda seperti ini? Sudah eomma bilang eomma tidak mau melihat benda apapun yang berhubungan dengan Ice Skating!! Ice Skates ini eomma sita!!!”

Eomma membanting pintu kamarku dengan kasar, eomma sangat tegas kalau dia bilang dia menyita sepatu luncurku itu artinya aku tidak akan pernah menjumpai lagi benda, itu………..hiks……. ini sudah kesekian kalinya eomma menyita sepatu luncurku, selama ini aku nekat untuk terus ber-Ice Skating karena di Ice rink lah aku bisa merasakan bayangan appa dengan jelas, di Ice Rink aku merasakan appa selalu disana, dia tersenyum padaku sambil berharap aku bisa meluncur lebih baik lagi.

##########

 

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…………………………….

 

Ya, bel sekolahku berbunyi dan aku masih berlari-lari untuk mencapai gerbang…. Hari pertama disekolah baru dan aku terlambat, bagus sekali Lee Ryeona.

“Maaf semua…………kalian terlambat………..” Seorang guru wanita berkacamata tebal mencegatku dan beberapa orang disana, nampaknya kami akan mendapat hukuman. Dari dandanan guru ini yang sama sekali tidak membuat orang tertarik, aku tahu pasti guru ini termasuk salah satu guru Killer disini.

Kami digiring ketengah lapangan dengan sebelumnya kami menyisihkan tas yang kami bawa dipingir lapangan. Guru killer tadi menyipitkan matanya lalu menatap kami satu-satu dengan tatapan yang……meremehkan(?)

“Well………..kalian rupanya tidak jera dan lebih suka menerima hukuman dariku pagi-pagi begini….” Guru itu entah dari mana sekarang membawa tongkat kecil ditangan kirinya, mengayun-ngayunkannya ketelapak tangan kanannya.

“Aku sangat prihatin pada kalian yang sering terlambat seperti ini, mau jadi apa generasi muda………….bla..bla….bla…………” Itu yang aku tangkap dari sini, tentulah seperti siswa SMU yang terlambat pada umumnya kami akan disuguhi makanan pembuka yaitu ceramah, bla…bla…bla…. tentang bagaimana seharusnya generasi muda korea itu, bagaimana efeknya kalau kami terlambat masuk ke kelas, tentang ruginya kalau kami ketinggalan pelajaran………yah……aku memang sering terlambat di sekolah-sekolahku dulu. Jangan tanya sekolahku yang dulu ada berapa, aku tidak hafal sudah beberapa kali aku pindah sekolah di masa SMU-ku ini.

“Hahaha………..sudah jangan membuatku geli lagi…………….” Aku mengalihkan fokusku dari guru killer tadi ke dua orang yang saat ini sedang asyik bercanda. Mereka tepat ada disebelahku, seorang yeoja bermata coklat dengan rambut coklat ikal panjang tergerai, dia menurutku sangatlah cantik. Dan disebelahnya ada namja yang sedang memegangi perutnya karena yeoja tadi terus menggelitiki perutnya. Namja itu tidak tampan tapi lumayanlah………

“Hye Sun-ah…………. sudah……..” Namja itu menangkap kedua tangan yeoja itu dan itu membuat yeoja yang dipanggil Hye Sun tadi sedikit kaget, dia oleng kebelakang dan……….

“Ooouuuchhh………….” Kakiku terinjak kakinya. Awww……..appo…….

“Heee……….mianhae………….” Kata yeoja itu padaku.

“Gwenchana…………” kataku sambil tersenyum padanya.

“Aku benar-benar menyesal………mianhae……..gwenchanayo??” Dia dengan tatapan cemasnya melihat kebawah, kearah kakiku yang tadi dia injak.

“Gwenchana………….”kataku, padahal kakiku ini berdenyut-denyut karena insiden terinjak tadi. Aaaaww~~

“Oh iya kenalkan aku Choi Hye Sun…………” Yeoja itu mengulurkan tangannya.

“Ah… Lee Ryeona imnida…….” Aku menyalami tangannya, wow….tangannya lembut.

“Oh iya, kenalkan ini sahabatku……… Ini Jong Woon….” Hye Sun menarik namja disebelahnya, memaksanya untuk berkenalan.

“Kim Jong Woon imnida…………….” Kata namja itu.

“Lee Ryeona imnida………….”

“Oh iya Lee Ryeona kau mau ikut kami??” Hye Sun itu tanpa canggung menggantungkan satu tangannya kepundakku. Yah aku tidak keberatan sih, aku justru senang belum ada satu jam disekolahan baru aku sudah mendapat teman. Dan menurutku mereka teman yang ‘sealiran’ karena kami sama-sama terlambat.

“Kemana?”

“Sudah ikut saja……….” Hye Sun meraih tanganku, dia mengisyaratkan kami untuk menunduk dan perlahan-lahan mengendap meninggalkan barisan. Ckckck…wajahnya pasti telah menipu banyak orang, dia bukan yeoja baik-baik. Tukang bolos……..tapi aku senang………….

“He……………tas kita?”pekikku saat kami sudah ada didepan gedung besar, tapi gedung itu masih ada dilingkungan sekolah kami.

“Itu urusan gampang………………. Akan ada yang mengambil………” Hye Sun melirik Jong Woon yang ada disebelahnya.

“Apaaa?? Kenaaaapaaaa? Akuuuuuuuu?”

“Iya,kau………….cepatlah…………” Bentak Hye Sun.

“Aiiissshhh……………” Tapi Jong Woon tidak menolak ia menuruti kata-kata Hye Sun.

“Nah, Selamat datang !!!” Hye Sun membuka pintu gedung itu dan udara menjadi dingin seketika.

Bau ini………….suasana ini……………………

Aku ada digelenggang Ice Skating !!!

Aku melihat kesekeliling. sepi………hanya ada satu orang yang sedang meluncur di Ice Rink, seorang namja yang berseluncur dengan santai mengikuti tiap gerakan yang ia inginkan. Ia melakukan toe loop*gerakan memutar tubuh diudara dengan tumpuan satu kaki dan mendarat dengan kaki tumpuan lagi* sesekali, lalu mulai melucur lagi dengan santai mengelilingi ice rink bergantian antara kaki kiri dan kanan, aku tidak pernah melihat orang seserius itu ia sangat menikmati tiap detiknya saat meluncur, meski ekspresi wajahnya tidak menunjukkan suatu kebahagian-dia tidak tersenyum- tapi aku tahu dia sangat menikmati kegiatan meluncurnya itu.

“Wooooow……….nampaknya kau tertarik pada ketua club kami……” Hye Sun sekarang sedang cengengesan menatap wajahku yang…aku tahu aku tadi sedikit terpana…aku ralat…aku benar-benar terpana.

“Dia ketua club…….”kata Hye Sun. ya…harusnya aku tahu dari skill-nya…dia ketua club.

“Aku akui seleramu bagus, dia ice skaters terbaik di club kami. Dan tentu saja kami mengangkatnya menjadi ketua karena kemampuannya itu……….” kata Hye Sun sambil mengangguk-nganguk.

“Oh…ok….lalu siapa namanya?” Hooooaaaahh………kenapa denganku ini, aku bukan tipe yeoja blak-blakan seperti ini………

“Hahaha…aku tahu kau tertarik padanya…namanya Se Hun…Oh Se Hun…ingat namanya baik-baik..kekeke…….” Hye Sun tertawa lagi.

“Oh Se Hun…………..”gumamku pelan, ya…namanya bagus.

“Jadi??”

“Jadi??”kataku mengulang pertanyaan Hye Sun.

“Kau mau tetap disini atau kau mau ikut meluncur kesana……..???” “Come on……” Hye Sun menarik tanganku meninggalkan tempatku terpaku tadi, Tubuhku dipaksa menjauh tapi mataku terus melihat kearah Se Hun yang masih meluncur dengan indah di Ice Rink.

Aku harap eomma tidak tahu jika disekolahan baruku ada club Ice Skating, jika iya dia pasti akan memindahkanku ke sekolah lain. Aku harus berusaha lebih keras untuk menyembunyikan semua ini dari eomma…….

 

###########

 

“Se Hun kenalkan……….ini Ryeona……….” Hye Sun membawaku ke Ice Rink, dan dia mengenalkanku pada namja itu. Namja yang meluncur dengan indah dan nampak berkilauan dengan tekhnik meluncurnya, dia hebat. Sangat hebat.

“Maaf aku ada kelas setelah ini……………” Dia mengabaikanku………..iya dia mengabaikanku, bahkan dia tidak memandangku sama sekali. Yah tatapan matanya memang sedingin es, aku baru sadar saat melihatnya dari dekat seperti ini.

Aku melihat Se Hun itu duduk ditepi Ice Rink, melepas ice skates-nya lalu menghilang kedalam ruang loker laki-laki. Namja sedingin es, itu yang bisa aku deskripsikan tentangnya.

“Gwenchana ryeona-ya, itu memang sifatnya tidak usah terlalu dipikirkan…………”Hye Sun menepuk bahuku ringan.

“Hmmm………………”

“Ya sudah ayo kita mulai, kau bisa meluncurkan?”

“Hmmm…..ne………………”

Kami, aku dan Hye Sun meluncur dengan tertawa riang. Dia bercerita tentang pengalaman bodohnya saat pertama kali meluncur, jatuh dengan muka mendarat lebih dulu dan rok tersingkap itu sukses membuatku tertawa lebar. Oh iya, dia juga cerita tentang Jong Woon. Menurutku dia lebih parah, jatuh saat pertama kali menapakkan satu kakinya di Ice Rink,lalu dirawat dirumah sakit selama 3 bulan. Itu cukup menghibur.Hahaha…………..

“Ryeona-ya…kau mau bergabung dengan club kami?”Hye Sun menekan gigi disepatunya, otomatis ia berhenti. Aku ikut mengerem.

“Hmmm…tapi aku tidak punya sepatu luncur, dan lagi ibuku melarangku untuk meluncur………..”

“Kau bisa menggunakan sepatu luncur yang sekarang kau pakai jika kau mau, tenang saja itu sepatuku yang sudah tidak terpakai………dan soal ibumu, kau tahukan sedikit memberontak itu menyenangkan……”dia tersenyum jail sambil mengerlingkan satu matanya.

“Hahaaha……….kau benar……………” Aku melengkungkan senyum terindahku padanya. Aku kembali meluncur, kali ini pikiranku berisi hal-hal indah yang akan aku lakukan jika bergabung dengan club Skate, aku bisa meluncur di ice rink kapan saja.

Aku senang…..

Appa…….

Aku berjanji aku akan meluncur dengan baik…..

Appa, neomu bogoshippo………..

 

##########

 

~Author POV~

 

“Ryeona-ya………..makan dulu…………..” Eomma-nya memanggil Ryeona untuk makan malam. Mereka memang biasa makan malam bersama, mereka tentu tidak ingin kehilangan momen berkumpul layaknya keluarga lain biarpun anggota keluarga mereka tidak lengkap lagi.

“Ne, eomma……….” derap langkah terdengar kemudian. Ryeona menuruni tangga dilantai dua untuk segera menghampiri eommanya diruang makan yang ada dilantai satu. Rumah mereka memiliki dua lantai, namun tidak terlalu luas.

“Bagaimana sekolahmu?” Tanya eommanya sambil menyodorkan satu piring padanya.

Ryeona sedikit tersentak, dia benci berbohong tapi dia juga tidak mungkin jujur. Eommanya tidak akan setuju jika ia bergabung dengan club Skate.

“Baik…semua baik…………..”

“Syukurlah…………….” Eommanya menghela nafas lega. Lima menit kemudian mereka sudah duduk dan menikmati makan malam mereka.

 

#####

 

~Ryeona POV~

 

“Annyeong………………”

“Hwaaaaaaaaa………………” pekikku karena tiba-tiba Hye Sun muncul saat aku membuka pintu kelasku, aku memang dapat jatah piket hari ini dan semua yang bertugas piket sudah pulang kecuali aku TT________TT

“Annyeong…”balasku sambil mengelus dadaku. Aku masih kaget……….

“Kau sudah ditunggu……..”

“Nugu-ya?”

“Kau…ditunggu kami….anggota club tentu saja,babo!” Aiiissh….tidak ada orang yang menyebalkan seperti dia, baru kenal satu hari dia sudah berani memanggilku babo. Dasar……….

“Sudah,tidak ada waktu lagi……….kita harus segera latihan sekarang…”

Hye Sun menarikku langsung dengan kasar,

“Ya ! Aku bahkan meninggalkan tasku didalam kelas………………….” Protesku.

“Biar nanti Jong Woon yang mengambilkannya, dia juga belum selesai dari mata pelajaran tambahannya…nanti setelah dia selesai biar dia yang mengambil……………”

“Hooo….dia sunbae………”

“Iya tentu saja…apa aku belum cerita..dia satu tingkat diatas kita…sebentar lagi dia ada ujian Negara……”

“Belum………………………”

“Lho? Aku belum cerita ya…… jangan-jangan aku juga belum cerita kalau Jong Woon itu hyungnya Se hun…………….”

“Mwoooooooooooooo?????” Apa…?apa….????…….Jong Woon dan Se Hun mereka……bersaudara? Bahkan wajah mereka tidak mirip sama sekali, seperti langit dan bumi.

“Kau pasti berpikir mereka tidak mirip, kau benar………karena mereka memiliki ayah yang berbeda…….”

“Jinjja?”

“He’em……..” kata Hye Sun sambil menganggukkan kepalanya satu kali. Jadi, Jong Woon dan Se Hun itu kakak adik, aku baru tahu……….

Apa sikap dingin Se Hun ada hubungannya dengan semua ini?

 

###############

 

Gelanggang yang kemarin aku datangi saat membolos sekarang dipenuhi banyak orang, hampir ada belasan namja dan yeoja yang sedang meluncur di ice rink, tapi diantara mereka aku tidak melihat Se Hun.

“Se Hun tidak suka meluncur jika banyak orang……..dia…tipe penyendiri…….” Hye Sun seolah bisa membaca pikiranku, jadi aku tidak perlu bertanya apa-apa lagi.

“Ayo kita temui pelatih kita……” Hye Sun mengajakku mendekat kearah seorang ahjussi yang dari tadi mengamati tiap-tiap orang yang ada di ice rink sambil sesekali mencatat sesuatu di notesnya.

“Annyeong Siwon-jussi……ini anak baru yang aku ceritakan kemarin” Ahjussi tadi berbalik badan, dia ahjussi? Masih sangat muda dan tampan, kaos ketat yang ia pakai membuat lekuk tubuh terutama abs-nya keliahatan.Omona…jadi seperti inilah namja atletis itu…….

“Annyeong Hye Sun-ssi…jadi ini anggota baru kita……..mmm…maaf aku lupa namanya……………”

“Annyeonghaseyo Lee Ryeona imnida………..” kataku memeperkenalkan diri.

“Ryeona……nah Ryeona, bisakah kau memperlihatkan padaku kemampuan seluncurmu?”

“Ne?”

“Aku tidak meragukan kemampuan Hye Sun dalam merekrut anggota baru, tapi bukankah kau memang harus menunjukkan sedikit kemampuanmu?”

“Ne, arasseo ahjussi……….”

 

#####

 

~Author POV~

 

Ryeona yang sudah mengganti bajunya dengan kaos dan celana training resmi club berjalan dengan perlahan dari pinggiran ice rink menuju ketengah. Siwon-jussi dari pinggir lapangan menginstruksikan supaya anggota lain menyingkir dan hasilnya hanya ada Ryeona disana. Ryeona memandang wajah Hye Sun sekilas, yeoja itu balas menatap Ryeona lalu dengan refleks Hye Sun mengepalkan dua tangannya sambil berteriak ‘Hwaiting’ padanya.

Perlahan-lahan ada alunan musik bertempo sedang membahana didalam gelanggang, rupanya Siwon-jussi menginginkan ia untuk menyatukan gerakkan luncurnya dengan musik yang mengalun. Ryeona tak bergerak meresapi musik itu sesaat, ia tidak asing dengan musik ini Haydn-Symphony no.8

Ryeona mulai, ia meluncur riang dengan tangan dibelakang. Kiri….kanan……..kadang dia melayang-layangkan kedua tangannya diudara sambil membuat gerakan ringan. Saat suara gesekan biola menjadi lebih intens sesekali ia melakukan toe loop, kembali ia meluncur pelan sambil menikmati tiap alunan musik. Tiba disaat musik menjadi lebih cepat temponya, ia mengambil ancang-ancang untuk melakukan lutz*gerakan memutar tubuh diudara dengan satu kaki sebagai tumpuan dan kaki lain sebagai kaki pendaratan*

Semua orang bersorak sambil bertepuk tangan dengan riuh, nampaknya ada tontonan yang sangat menarik hari ini. Anggota baru club skate benar-benar menyita banyak perhatian.

“Apa aku terlambat?” Jong Woon terengah-engah sambil menggotong tiga tas. Ya, satu tasnya, satu tas Ryeona dan satu tas Hye Sun.

“Yeah………tontonan menarik baru saja berakhir………….” Jawab Hye Sun.

 

#########

 

“Kau..perfect dear………..” Hye Sun langsung berhamburan memeluk Ryeona saat yeoja itu menghampiri semua orang dibangku penonton.

“Selamat bergabung di club !!” Siwon-jussi mengulurkan tangannya, Ryeona meraih tangan itu dengan perasaan campur aduk. Dia senang, terharu juga tidak percaya. Dia memang belum pernah melakukan skate dengan musik, belum sempat. Mungkin kalau appanya masih ada dia bisa menjadi Skaters professional sekarang.

“Cukhae!! permainan bagus……..” Jong Woon menepuk-nepuk punggung gadis itu. Hal itu membuat Ryeona tersipu, terlebih anggota club yang lain sedang bedecak kagum pada kerja bagus Ryeona tadi.

“Jong Woon……….bahkan kau tidak melihat apapun… kau terlambat……..” kata Hye Sun sinis.

“Paling tidak dia tidak terluka sama sekali……….masih lebih baik dari pada aku…” Semua orang yang ada disana menertawakan kepolosan Jong Woon, ya memang semua anggota club pasti tau siapa orang paling tidak berbakat disini, semua pasti setuju orang yang dimaksud adalah Jong Woon.

“Puas menertawaiku???”tanya Jong Woon sinis, terutama pada Hye Sun yang sekarang hampir keram perutnya saking asiknya yeoja itu tertawa.

“Beluuuuuuuuuuuuuuuuum………………………….”

“Hahahahaha…………”

 

################

-TBC-

Gimana, puas gak?
Mian banyak typo
sayakan author yg bangga dengan typo-nya
hahaha..
FF ini aku persembahin buat Karina eonni
gomawo eonni,maap FF-nya ngaret
:p