[Teaser] For A While This FF is Untitled

Title                : –

Author            : Chocola

Genre              : Fantasy, Romance, AU

Ratings           : PG- 15

Length            : Series

Cast                 : 1. Lee Hyuk Jae as Spencer Barnett

                          2. Park Sangra as Elizabeth Aster

                          3. Cho Kyuhyun as A. V Marcus

                          4. Choi Hyesun as Rachelle Rosenfelt

                         

Sub cast          : 1. Shindong as Matthew

                         2. Lee Ryeona as Elenna

                         3. Kai EXO as Ian

 

***

BRITAIN, 740 AD

 

Musim semi di kota London yang penuh hingar-bingar berbanding terbalik dengan sebuah desa kecil di pinggiran London yang amat sunyi dan damai. Houndswoth village, desa yang masih sangat alami dengan aliran sungai jernih, area persawahan juga padang bunga Azelia yang membuat Houndswoth semarak di tiap musim semi. Houndswotrh bukan desa yang dipadati oleh banyak penduduk, mungkin hanya ada sekitar dua puluh kepala keluarga di sana tetapi Houndsworth tidak pernah terasa sepi karena penduduk Houndsworth sangat ramah dan memiliki kepedulian tinggi satu sama lainnya.

Lord Spencer!” seorang gadis berumur sepuluh tahunan dengan pakaian lusuh menjuntai sebatas lutut berlarian di sekitar halaman Mansion keluarga Barnett yang dipenuhi bunga Azelia, Mansion keluarga Barnett merupakan yang termegah diantara penduduk desa lainnya. Padang bunga Azelia mereka juga merupakan yang terluas, kekayaan mereka merupakan salah satu faktor keluarga ini sangat disegani. Disamping tugas yang keluarga ini emban secara turun-temurun.

“Lizzy!” seru Spencer yang tengah bersantai menikmati waktu siangnya untuk berjemur ditemani beberapa orang pelayan yang siap melayani semua kebutuhannya. Lizzy, panggilan yang orang-orang berikan pada gadis sepuluh tahun bernama asli Elizabeth itu. Elizabeth kehilangan orang tuanya karena tragedi ‘berdarah’ beberapa tahun lalu, keluarga Spencer mengangkat Lizzy sebagai pelayan. Namun Spencer sangat menyayangi Lizzy, ia menganggap Lizzy sebagai adiknya.

Lord Spencer, Lord Matthew memberi perintah kepada hamba untuk membawa anda ke balai pertemuan…” kata Lizzy tersengal-sengal, gadis itu tidak suka berlari tapi saat ini dia tidak punya pilihan lain.

“Pak tua bertubuh besar seperti beruang itu? huh…katakan aku sibuk!” Spencer tersenyum pahit, dia memang tidak pernah menyukai tetua desa mereka, terutama Lord Matthew yang dinilainya terlalu aneh untuk seorang tetua desa.

Lord…Spencer…” kali ini suara Lizzy sedikit bergetar, beberapa saat kemudian gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk membendung tangisnya yang mendadak pecah.

“Lizzy!” Spencer tersentak oleh Lizzy yang tiba-tiba saja menangis, dia bangkit dari kursi malasnya lalu berjalan perlahan mendekati Lizzy. Spencer meraih bahu gadis kecil itu lalu memeluknya. Ia melingkarkan tangannya erat, entah kenapa dia merasa hatinya teriris tiap kali melihat Lizzy menangis. “Ada apa? kenapa menangis?” tanya Spencer lembut. Tapi bukannya berhenti tangisan Lizzy malah semakin menjadi.

***

Spencer melangkahkan kakinya menuju balai pertemuan yang ada di tengah Houndsworth, Lizzy mengikutinya dari belakang sambil sesekali mengusap air matanya yang kadang jatuh. Matanya sekarang menjadi bengkak dan merah. Spencer menghela napasnya pelan sebelum kakinya benar-benar menginjak tangga batu yang ada di depan balai pertemuan. Hari ini benar-benar seperti mimpi buruk yang selama ini selalu ia takutkan, bukan berarti dia tidak pernah menduga bahwa semua ini akan terjadi. Semua orang di keluarganya pasti pernah menghadapi situasi macam ini, tidak mustahil lebih buruk dari pada dirinya, setidaknya yang berbeda adalah Spencer telah menyiapkan mental untuk menghadapi situai semacam ini. Dia siap menghadapi kenyataan yang menyakitkan ini.

Pintu dari kayu ek itu berderik saat Spencer membukanya, bagian dalam rumah berbahan utama batu itu kosong. Hanya ada beberapa orang tetua desa yang nampak beradu argumen ditemani temaram lilin-lilin yang ditempel di tembok, tak ada meja. Mereka berdiri, tengah mengelilingi sesuatu.

Lord Spencer…” seru Lord Matthew, seorang pria keriput berjanggut putih dan bertubuh tambun saat menyadari Spencer kecil masuk, hal itu sontak membuat adu argumen para tetua desa terhenti.

“Aku sudah mendengarnya dari Lizzy.” Spencer memberi isyarat pada mereka agar mereka tak usah mengungkit lagi masalah itu. Ia tidak ingin pertahanannya runtuh, meski ia seorang laki-laki tapi ia yakin dia akan menangis jika kabar itu dia dengar sekali lagi.

“Aku turut menyesal, kami semua berduka…” Lord Matthew tidak meneruskan kata-katanya lagi, dia hampir lupa bahwa Spencer tidak ingin mendengar hal ini lebih jauh. Spencer anak yang berbeda dari anak yang lainnya, setidaknya ia percaya itu sebelum hari ini. Sebelum semua ini terjadi, yang ia lihat saat ini adalah Spencer yang merupakan anak kecil biasa yang terlihat sama seperti anak kecil lainnya ketika mengetahui kenyataan bahwa kedua orang tuanya baru saja meninggal dunia.

Para tetua desa menyingkir dari jalan Spencer, membiarkan anak itu untuk mendekat ke arah dua peti mati yang sedari tadi mereka kerubungi. Dua orang tetua dengan inisiatif membuka tutup peti mati itu, membuat Spencer dapat melihat mayat kedua orang tuanya dengan jelas. Mr dan Mrs. Barnett nampak begitu kaku dan pucat.

“Ini ulah mereka.” ujar Lord Matthew lirih saat Spencer berada dekat dengannya. Spencer hanya mengangguk seraya terus berjalan mendekat ke arah peti kedua orang tuanya.

Spencer berdiri di samping peti mati ibunya, meraih pipi ibunya lalu membelainya lembut. Tidak akan ada dongeng sebelum tidur lagi.

Setelah puas memandangi sosok ibunya, Spencer mendaratkan sebuah ciuman perpisahan di bibir ibunya yang kaku. Selamat tinggal ibu.

Spencer beralih pada peti mati ayahnya, berbeda dengan peti mati ibunya yang bisa dibilang mungil. Peti mati ayahnya jauh lebih besar, Spencer merasakan perih di ulu hatinya saat melihat bagaimana keadaan ayahnya sekarang. Tubuhnya penuh dengan bekas-bekas makhluk kegelapan itu. Bekas taring-taring mereka yang tajam nampak mendominasi luka ditubuh ayahnya, bukan luka fatal memang. Penyebab kematian ayahnya bukanlah gigitan makhluk-makhluk itu namun tusukan telak kearah jantungnya, yang otomatis membuat kehidupannya terhenti seketika. Spencer hanya memandangi ayahnya dari tepi peti mati, menundukkan kepalanya. Tidak ada lagi orang yang akan mengajariku bagaimana seorang laki-laki seharusnya bersikap, ayah….

Semua orang hanya bisa membisu, mereka ikut larut dalam duka yang Spencer rasakan. Kehilangan orang tua di usia sedini ini pasti tidak mudah, masih banyak hal-hal bahagia yang harusnya Spencer dapatkan dari kedua orang tuanya. Kematian menjemput orang tuanya terlalu cepat.

Di sudut ruangan yang termakan bayangan temaram lilin-lilin yang menempel di dinding Lizzy merapatkan tubuh mungilnya ke dinding yang dingin, pikirnya cukup dia saja yang merasakan kehilangan orang tuanya. Dia tidak ingin Spencer merasakan hal yang sama seperti yang Lizzy rasakan, tapi takdir berkata lain. Mereka sama-sama harus kehilangan orang tua di usia muda. Kehilangan orang tua itu berarti banyak, bukan hanya mereka kehilangan kehangatan keluarga saja. Melainkan mereka juga kehilangan tumpuan hidup mereka, Lizzy yang paling tahu bagaimana kekejaman dunia yang sesungguhnya sejak orang tuanya meninggal. Hidupnya menjadi tidak berharga, yang biasanya dia menghabiskan sepanjang hari dengan bermain. Sekarang dia harus mengerjakan pekerjaan kasar demi makanan, dia beruntung dia tidak harus meminta-minta di pasar lagi demi santap malamnya. Karena kebanyakan hanyalah sisa-sisa makanan dari piring para bangsawan yang seharusnya berada di tempat sampah. Terdengar hina memang, tapi itulah realita kehidupnya.

Hidupnya sebagai pelayan di keluarga Spencer memang lebih baik namun bukan berarti dia bahagia, hidup sebagai pelayan tidak pernah terlintas di benaknya. Dunianya hancur seketika, itu kenyataan pahit yang terpatri jauh dalam hatinya.

Di luar ruangan itu awan gelap berarak membawa wangi tanah yang khas, sebentar lagi akan turun hujan. Langit akan melepas kepergian pasangan Barnett dengan butir-butir air matanya.

***

Dua pusara putih menjadi pusat perhatian semua orang yang saat ini tengah berkumpul di kompleks pemakaman Houndsworth, tiap orang maju bergantian meletakkan bunga Azelia yang mereka tanam di halaman rumah masing-masing untuk moment seperti ini. Bunga Azelia merupakan simbol cinta yang bahagia, mereka berharap pasangan Barnett dapat memperoleh kebahagiaan di dunia mereka yang baru.

Spencer nampak berada di barisan paling depan dengan jubah berwarna hitam menyelimuti hampir seluruh tubuhnya, jubah yang ia kenakan memiliki tudung yang menutup sebagian wajahnya. Para tetua desa berdiri di belakangnya membentuk sederet barisan putih dari jubah yang mereka kenakan.

Tidak ada ungkapan bela sungkawa apapun, semua berlangsung dalam kebisuan. Hanya terdengar suara angin yang menggesek dedaunan di pohon, setelah itu suasana sunyi kembali. Bunga Azelia berwarna putih tersusun rapi di kedua pusara, lalu secara perlahan warga desa berangsur meninggalkan kompleks pemakaman, meninggalkan Spencer yang hanya di temani tetua desa. Lizzy ada dirumah, Spencer sengaja tak membiarkannya ikut karena Lizzy tidak bisa berhenti menangis.

Lord Spencer.” Lord Matthew maju dari barisannya, meletakkan satu tangan di pundak Spencer kecil yang menunduk, menyembunyikan tetesan air matanya sejak tadi. Ia tak mau siapapun bisa melihat air matanya, air mata satu-satunya keluarga Barnett yang tersisa.

“Ya?” jawab Spencer singkat, menghapus air mata yang tersisa disudut matanya.

“Kita harus memulainya sekarang, secepatnya.” ujar Lord Matthew. Spencer hanya mengangguk, dia tahu sekarang dia yang harus mengambil alih tanggung jawab yang selalu diemban oleh keluarganya. Melindungi Houndsworth.

“Seberapa cepat?” tanya Spencer kemudian, sejujurnya saat ini dia masih ingin berada di pusara kedua orang tuanya.

“Sekarang!”

“Bisakah kalian memberiku waktu beberapa menit lagi, aku janji setelah itu aku akan ikut dengan kalian.”

Tiba-tiba saja para tetua desa mulai berdebat, beberapa diantara mereka ada yang mendukung Spencer dan ingin membiarkan anak itu untuk berada lebih lama di pusara kedua orang tuanya, namun beberapa dari mereka terus mendesak bahwa nasib Houndsworth tidak bisa dianggap remeh, mereka harus mengakui bahwa nyawa semua penduduk ada di tangan Spencer.

“Baiklah, kami akan lebih dulu menuju balai pertemuan. Aku harap kami tidak perlu menunggu terlalu lama.” Lord Matthew menengahi, tetua desa yang lain diam tidak berdebat lagi mereka tunduk dengan ketua mereka. Mereka hanya berharap dalam hati bahwa Spencer tidak akan melupakan tanggung jawabnya.

“Aku berjanji tak akan lama….” kata Spencer sebelum para tetua desa meninggalkannya sendirian di pusara kedua orang tuanya.

***

Kabut tipis menghalangi cahaya bulan yang saat itu memasuki fase purnama, Houndsworth gelap gulita. Semua meringkuk dalam rumah, tak ada yang berani keluar rumah. Mereka semua takut sesuatu akan menerkam mereka di luar sana, menjadikan mereka sebagai santap malam. Terlebih setelah pelindung mereka pasangan Barnett tewas, hal ini menambah keresahan tiap orang jika malam hari datang.

Dua siluet manusia nampak berjalan menembus kegelapan dengan berbekal sebuah obor di tangan seorang yang nampak lebih tinggi dari yang satunya, mereka bergerak perlahan menembus belantara hutan pinggiran Houndsworth.

Dua orang itu terus berjalan masuk ke tengah hutan, menembus semak belukar dan rerimbunan pohon. Tepat saat mereka sampai di depan sebuah gua yang terhalang sulur mereka berhenti.

“Jadi ini tempatnya?” tanya seseorang berjubah hitam dengan tudung yang masih menutupi sebagian wajahnya. Dia melangkah mendekati mulut gua, namun ia tidak meneruskan langkahnya, hanya diam meresapi semua yang ada disana. Ketakutan, gelisah, rasa ingin tahu, juga suatu perasaan yang tidak bisa dia gambarkan. Sebuah intuisi yang dari tadi terus menyita perhatiannya.

“Ya, dulu para pendahulumu membuka takdirnya di sini.” kata pria berjubah putih dengan tubuh tambunnya. Pria itu melangkah mendekati seseorang berjubah hitam di depannya, seseorang yang sebentar lagi akan menjadi pelindung Houndsworth yang baru.

Pemuda bertudung hitam itu, membuka tudungnya. Matanya menerawang jauh ke dalam gua yang gelap itu mengira-ngira apa yang akan menunggunya disana. “Apa seseorang pernah gagal sebelumnya? bagaimana kalau aku gagal?” ada seraut kecemasan di wajahnya.

Pria berjubah putih itu tersenyum sekilas, “Jika kau gagal melaluinya, tentu saja kau akan mati.” pemuda berjubah hitam itu mendadak pucat, mati?

Bukan hal baru lagi tentunya, meskipun dia hidup dia tetap harus mengorbankan nyawanya. Jadi sama saja, hanya masalah waktu untuk dia menemui ajal.

“Tapi darah Barnett tidak pernah berbohong…”

Pemuda berjubah hitam itu mengerjapkan matanya sekali, ia seperti mendapat angin segar. “Maksudmu?”

“Keluarga Barnett tidak pernah gagal melaluinya, itulah sebabnya keluargamu yang mendapat tugas besar ini. Beberapa orang dari keluarga lain pernah mencoba dan semuanya gagal, hanya keturunan langsung Lord Leonard Barnett yang mampu bertahan.” Pemuda berjubah hitam itu tersenyum, ia bangga mewarisi darah Lord Leonard Barnett pendiri Houndsworth. Dan sekaranglah saatnya dia mengambil tanggung jawab sebagai satu-satunya keluarga Barnett yang tersisa.

“Kau yang termuda yang pernah datang kemari,” pria berjubah putih itu mundur beberapa langkah. Saatnya hampir tiba, Spencer harus segera masuk untuk membuka takdirnya. “Masuklah dan cepatlah kembali, Houndsworth menunggu pelindung baru mereka…”

“Aku mengerti.” Spencer menarik napas sebentar, dada kirinya riuh dengan debaran-debaran jantungnya yang tak teratur. Debaran jantungnya semakin keras saat kakinya mulai menapaki mulut gua, gelap. Tidak ada apapun yang bisa dia lihat kecuali hitam.

***

Lizzy terus gelisah di kamarnya, malam ini adalah waktu yang tetua desa mereka putuskan untuk Spencer. Dia tidak habis pikir, tanggung jawab sebesar itu dibebankan pada anak berusia tiga belas tahun? Pasti tetua desa mereka sudah gila!

“Lizzy, kau belum tidur?” Lizzy memalingkan wajahnya dari jendela kamar, di depan pintunya berdiri wanita paruh baya yang telah mengabdikan separuh usianya untuk keluarga Barnett.

“Belum… kau sendiri belum Lilia?” Lizzy kembali menatap jendela, ia berharap tadi saat melepas Spencer pergi bersama Lord Matthew bukanlah kali terakhirnya ia melihat Spencer.

“Kau mencemaskan Lord Spencer?” Lilia kemudian duduk di sebelah Lizzy, meletakkan kepala gadis itu kepelukannya. Lilia dulu punya seorang anak, seorang anak perempuan yang manis seperti Lizzy, namun ‘mereka’ membuat dia harus kehilangan anaknya. Dan semenjak Lizzy hadir, dia seperti mendapatkan kembali sosok anaknya yang telah lama pergi.

Lizzy mengalihkan perhatiannya dari jendela ke iris mata abu-abu milik Lilia. Dia merasa damai, pelukan yang Lilia berikan sama hangatnya dengan pelukan ibunya. Meski dia tidak bisa ingat dengan jelas seberapa hangat pelukan ibunya dulu, namun ia bersyukur selama ini Lilia selalu menyayanginya seperti anaknya sendiri.

“Aku tidak pernah berhenti mencemaskannya, aku tidak tahu kenapa…” Lizzy menghembuskan napasnya perlahan mencoba menenangkan hatinya sendiri, dia harus percaya bahwa Spencer akan baik-baik saja. Spencer sudah berjanji akan kembali, harusnya itu cukup untuk membuat hatinya tenang.

“Karena kau menyayanginya dan begitupun dengan dia. Dia menyayangimu seperti keluarganya sendiri.” Lilia membelai lembut puncak kepala Lizzy, gadis itu mulai memejamkan matanya.

Lilia menatap gadis yang terlelap di pelukannya dengan tatapan yang menyejukkan, dia kagum dengan lika-liku kehidupan gadis itu. Gadis itu sangat kuat menghadapi semuanya, meski Lizzy mudah menangis tapi hatinya sangat kuat. Dia sangat kuat menghadapi dunia yang hitam dan mengerikan ini.

***

Spencer melangkah ragu memasuki gua yang gelap itu, Lord Matthew berkata bahwa keberanian yang akan menyinari langkahnya sehingga Spencer tidak dibekali obor. Spencer merasa ada yang janggal, bukankah dia masuk ke dalam sebuah gua?

Harusnya kakinya berkali-kali terpeleset karena tidak bisa melangkah dengan benar diantara batu-batu yang tersusun tak rapi atau dia menabrak bongkahan batu besar yang bisa kapan saja membuat kepalanya benjol. Tapi gua ini terasa begitu aneh. Jika memang aneh bisa mewakili kata terlalu datar untuk lantai gua dan terlalu luas untuk ukuran sebuah gua.

“Siapa kau?” Spencer tidak meneruskan langkahnya saat ia mendengar suara seseorang menggema di dalam sana.

“Aku? Aku Spencer…Spencer Barnett!” teriak Spencer tak tentu arah, karena dia tidak bisa melihat lawan bicaranya. Hanya hitam, seperti pertama kali menjejakkan kakinya masuk.

“Barnett?” suara itu sedikit menggantung, kemudian hening. Spencer sempat mengira bahwa orang-jika memang ada manusia yang hidup disini-itu sudah pergi karena sejak tadi tidak ada suara apapun lagi, Spencer hanya dapat mendengar deru napasnya sendiri yang berpacu dengan detak jantungnya.

“Kau…berapa umurmu?” Suara itu terdengar lagi.

“Tiga belas tahun.” jawab Spencer mantap, masalah umur bukan hal penting lagi sekarang. Spencer memang sudah matang dari segi berpikir, jauh diatas anak-anak seusianya.

“Kau masih terlalu muda.” kata suara itu lagi.

“Aku siap, usia bukan masalah. Yang terpenting aku sudah memahami tugasku dengan baik!”

Mata Spencer tiba-tiba tersentak oleh kilatan cahaya putih yang membuat pupil matanya tidak siap harus menyempit dalam tempo waktu sepersekian detik, lama kelamaan Spencer dapat membiasakan matanya setelah mengerjap-ngerjap beberapa kali. Dia mulai bisa melihat dengan jelas bahwa ini bukanlah gua seperti kebanyakan gua yang dia tau, lantainya terbuat dari kayu, ada beberapa meja di sudut-sudut ruangan yang di penuhi tumpukan buku. Ruangan itu mirip seperti ruang kerja, hanya saja atapnya masih asli atap gua.

Spencer merasakan ada hawa dingin di bahu kanannya, dia menatap kearah bahunya dan ia mendapati ada tangan yang sangat putih disana. Spencer menengok kebelakang, kearah orang yang memegang bahunya.

“Kau siapa?” tanya Spencer kepada wanita muda berumur sekitar dua puluhan tahun, menggengam erat bahunya dengan tangannya yang dingin.

“Aku tinggal di gua ini, namaku Elenna!” kata wanita itu sambil tersenyum, dia mengangkat sedikit rok putih yang dia kenakan sebatas mata kaki itu untuk kemudian melangkahi buku-buku yang tercecer di dekat meja.

“Apa kau bisa membantuku untuk membuka takdirku?” tanya Spencer langsung. Elenna masih menghindari buku-buku terinjak kaki telanjangnya untuk bisa mencapai kursi di balik meja yang lumayan kosong dari tumpukan buku.

“Semua keluargamu datang kepadaku untuk melakukannya.” jawab Elenna datar, memang tidak pernah ada orang lain yang datang untuk hal lain.

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” tanya Spencer sambil berusaha mendekat ke arah Elenna, tapi wanita itu mengayunkan tangannya mencegah Spencer mendekat.

“Aku tidak akan menyulitkanmu, karena kau yang terakhir dan masih sangat muda aku memberimu pengecualian.” Elenna menatap Spencer dengan tatapan yang teduh kemudian Ellena menundukkan kepalanya, mengepal dua tangannya erat diatas meja.

Spencer mengernyitkan dahinya, tak mengerti apa yang Elenna lakukan.

Beberapa menit kemudian Spencer melihat pendaran cahaya hijau dari dahi Elenna, wanita itu terpejam dengan rambut panjang keemasannya yang berkibar seperti tertiup angin padahal Spencer bersumpah dia sama sekali tidak merasakan adanya angin sama sekali.

Booooooooooom

Sebuah benda keluar dari tumpukan buku yang berada di meja sudut gua bagian belakang, sebuah kotak persegi dari bahan kayu ek!

Boooooooooooom

Bukan hanya satu ataupun dua, tapi ada sekitar lima kotak yang keluar dari masing-masing tumpukan buku di tempat berbeda. Ke semua kotak itu berderet rapi beterbangan kearah meja di depan Elenna, membentuk sederet barisan.

“Kemarilah, dan pilihlah takdirmu sendiri!”

 

***

Namanya juga Teaser

XD

Bingung ini FF enaknya dilanjut atau gak tapi nanggung udah dapet segini XD

Oh iya, silahkan menebak ‘mereka’ itu makhluk apa..yang bener dapet poppo author XD

Park Sangra…kau muncul lagi^^

Makasih buat Elenna yang udah mau berperan sebagai makhluk gua^^

Ah, belum sempet bikin cover>,<

Ada yang mau bikinin?

Kekeke…

Ya udah ya saya mau bertapa lagi silahkan meninggalkan jejak biar ide aku bertambah subur>~<

[One Shoot] Starry Night Over The Rhone

Title                 : Starry Night Over The Rhone

Author             : Chocola

Genre              : Westernlife, social, mistery, romance

Length             : One Shoot

Ratings            : General

Setting             : Britain, Victorian era

Cast                 : 1. Park Eunjoo aka Carol Clearwater

                          2. Choi Hyesun aka Rachel Walcott

                          3. Kim Heechul aka Richard Wayne

                         4. Lee Donghae aka Aiden Swordski

                         5. Park Yoojin aka Andrea (Viscount Edward’s daughter)

                        6. Yoon Hyewoon aka Aurora Walcott

                        7. Kim Jongwoon aka Viscount Walcott

                        8. Kim Ryeowook aka Nathan

Disclaimer      : FF ini dibuat bukan untuk menjatuhkan karakter asli cast tetapi demi kebutuhan cerita semata

***

Inspired by Van Gogh –  Starry night over the Rhone

Carol menyibak tirai kereta kuda yang membawanya bersama Rachel menuju gedung termegah di West End, rumah seorang Earl yang mengadakan pesta penyambutan bagi anak tertuanya yang baru saja menyelesaikan pendidikan di Amerika. Carol tidak ingat siapa nama anak Earl yang disebut-sebut Rachel tadi karena memang Carol tidak punya ketertarikan akan kehidupan para bangsawan. Tidak seperti Rachel, Carol bukan anak seorang Viscount. Bahkan bukan juga anak seorang Baron, dia bukan gadis beruntung yang lahir dari keluarga bagsawan Inggris manapun. Dia hanya anak seorang petani miskin di desa kecil bernama Houndswoth.

Carol menutup kembali tirai di sisi kanannya saat ia sadari langit sudah menjadi gelap, semua jalanan di Inggris menjadi terlihat mencekam jika malam datang. Asap yang berasal dari pabrik-pabrik yang baru di buka membuat langit bahkan menjadi gelap saat siang hari. Revolusi Industri  menjadi sangat pesat sejak Ratu Victoria menduduki tahta, pabrik-pabrik banyak dibangun untuk memproduksi barang secara besar-besaran. Harusnya pembukaan pabrik-pabrik baru dapat membuat rakyat semakin sejahtera tapi tetap saja kriminalitas dan kemiskinan tidak dapat dipisahkan. Carol menatap Rachel yang sibuk mematut dirinya di cermin, menambah ketebalan bedaknya ataupun menambah semprotan parfum agar pria-pria disana pingsan mencium aroma Lilac dari parfum mahalnya.

Carol akui dia pernah merasa cemburu pada kehidupan Rachel, gelar bangsawan, harta, kehormatan. Semua membuat Rachel nampak sangat sempurna dan bahagia, terlebih kedua orang tua Rachel sangat menyayangi anak satu-satunya itu. Sungguh membuat dirinya yang hanya anak petani miskin merasa dunia ini tidak adil, kenapa ada gadis seberuntung Rachel di dunia ini sedangkan Carol terpaksa hidup dengan keras saat orang tuanya gagal panen. Dan di sinilah dia, menjadi pelayan keluarga Viscount Walcott.

Namun dia mensyukuri satu hal, kehidupan barunya bersama keluarga Viscount Walcott tidak begitu buruk. Mereka Keluarga yang sangat baik, ramah, meski kadang kebiasaan keluarga bangsawan yang senang menyuruh-nyuruh pelayannya tidak bisa dihilangkan. Paling tidak keluarga ini masih lebih baik jika dibandingkan keluarga bangsawan lain. Dulu saat Rachel mendapatkan seorang guru privat untuk mengajari dia yang belum bisa membaca dengan lancar, Viscount Walcott mengijinkan Carol untuk ikut belajar. Bagi gadis miskin sepertinya bisa merasakan belajar sama berartinya seperti mendapatkan sekarung gandum saat musim paceklik.

“Kau tahu Carol, Dad bilang aku harus bisa menarik perhatian pria-pria bangsawan di sana!” Jujur Rachel, gadis itu kemudian menghela napasnya. “Dad memberikanku kesempatan terakhir untuk mencari pasanganku sendiri sebab jika tidak Dad akan mengatur perjodohan untukku dengan anak bangsawan yang aku tidak tahu siapa dia atau bagaimana wajahnya.” Rachel tersenyum pahit lalu kembali mematut dirinya dicermin. Carol terdiam, masih menatap serius ke arah  Rachel. Dia salah, Rachel tidak seberuntung itu. Dia masih lebih baik, paling tidak dia tidak harus menikah dengan laki-laki yang tidak dia ketahui siapa namanya, bagaimana wajahnya. Dan rasanya sangat menyesakkan saat membayangkan dirimu akan terjebak dalam sebuah ikatan seumur hidup dengan orang yang sama sekali asing.

***

Setelah tiga orang gadis bangsawan yang ada di depan mereka memasuki aula, giliran Carol dan Rachel yang berhadapan dengan dua orang pengawal memeriksa undangan mereka. Memastikan bahwa tidak ada penyusup dalam pesta Earl Wayne. Dua orang pengawal itu kemudian menawarkan diri untuk menyimpan mantel yang Rachel dan Carol kenakan. Mereka setuju, mantel berwarna cokelat yang hampir sama modelnya itu mereka serahkan pada dua orang pengawal di depan Aula. Gaun berenda dengan model menggembung dibagian rok dan lengannya nampak sangat serasi dengan bahu putih mulus dan pinggang ramping mereka, warna gaun Rachel membuat topi kecilnya yang berwarna merah maroon terlihat serasi. Sedang Carol hanya mengenakan gaun berwarna hijau tua yang Rachel pinjamkan padanya, modelnya sederhana tidak terlalu banyak renda namun tetap ada crinoline yang membuat roknya nampak menggembung, rambutnya dikepang ke atas dengan pita warna hitam yang menjuntai sebahu. Hampir tidak ada yang mengenali bahwa dia adalah pelayan, diluar dugaan bahkan dua orang pengawal yang memeriksa undangan tadi tidak menendangnya keluar.

“Kau hanya perlu diam di sini, jika Andrea putri Viscount Edward mencoba untuk merebut pria bangsawan yang coba untuk aku dekati kau sudah tahukan apa yang harus kau lakukan?” tanya Rachel sambil meraih sedikit pinggiran roknya agar langkahnya tidak terhalang dengan dua tangan yang terbalut sarung tangan putih.

Carol mengangguk, “Menjambak rambutnya, membuat dia terlihat seperti seorang yang tidak memiliki sopan santun.”

Rachel mengangguk senang. Ia kemudian berjalan ke arah kerumunan pria bangsawan di tengah aula, mencoba menonjolkan dirinya. Sementara Carol mengawasi Rachel dari jauh, menyapa seorang pelayan, mengambil segelas wine lalu kembali fokus pada tugasnya.

Sejauh ini tidak ada tanda-tanda kehadiran Andrea putri Viscount Edward yang sudah ibarat kucing-anjing dengan Rachel, mereka tidak pernah bisa berhenti untuk saling bersaing, mengolok, memamerkan diri. Seakan mereka memang terlahir untuk itu.

Carol menenggak wine berwarna ungu gelap dalam gelasnya dengan satu tegukan, ia meletakkan gelas kosong itu di meja yang tidak jauh dari tempatnya berdiri kemudian kembali memantau Rachel yang kali ini nampak berdiri sangat dekat dengan seorang pria bangsawan yang lumayan tampan.

“Apa kau sendirian?” Carol terkejut saat di depannya kini ada seorang pria, menggenggam gelas wine yang sudah kosong. Carol mencoba untuk menutup dirinya dari pria itu, percayalah semua putra bangsawan pasti akan menyesal telah menghabiskan waktu mereka untuk menyapa Carol. Karena Carol berbeda, dia tidak seperti yang mereka bayangkan. Dia bukan putri bangsawan.

“Tidak, aku bersama seseorang.” jawab Carol, yah meskipun ‘seseorang’ yang mereka bayangkan pasti berbeda. Seseorang yang Carol maksud adalah Rachel sedangkan pria itu pikir adalah seorang pria bangsawan yang sedang menyapa teman-temannya dan meninggalkan Carol di sini sendirian untuk menunggu. Dan Carol memang bermaksud agar pemuda itu berpikiran seperti itu.

“Maksudmu gadis bergaun merah maroon yang sedang berusaha merayu pria disana!” tunjuk pemuda itu pada Rachel yang berjarak beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Mata Carol membelalak lebar, pemuda itu pasti tahu jika dia tadi datang bersama Rachel!

“Tenang saja, aku bukan pria brengsek. Aku hanya ingin berdiri disini, di samping meja yang penuh wine dan makanan.” kata pemuda itu sambil tersenyum kemudian berdiri di sebelah Carol, mengambil cemilan lalu mengganti gelas kosongnya dengan salah satu gelas berisi wine di meja hidangan.

Carol berusaha setenang mungkin berdiri di sebelah pria ini, tapi wajah tampan dan sikapnya yang berbeda dengan kebanyakan pria bangsawan yang pernah ia lihat membuat debaran jantungnya menjadi tidak menentu, dari ekor matanya Rachel bisa melihat saat cincin bermata sapphire blue di ibu jari pemuda itu menempel di gelas, saat wine menyapu bibir tebalnya. Bagaimana riuhnya saat cemilan-cemilan yang tersedia di meja masuk ke dalam mulutnya, dia tidak seperti anak bangsawan lain yang berlomba-lomba terlihat beretiket tinggi. Dia lebih terlihat seperti teman-teman Carol di desa yang melahap makanan mereka setelah berhari-hari tidak makan.

“Uhuk!” pemuda itu tersedak, meski tersedak pemuda itu masih terlihat sangat tampan.

Tampan?!

Carol mengutuk dirinya dalam hati, bagaimana mungkin dia menganggap pria yang sedang tersedak di sebelahnya ini tampan?

Carol mengingat janjinya pada dirinya sendiri yang sering ia ucapkan jika pikirannya sudah melayang terlalu jauh. “Jangan pernah memulai untuk menghancurkan dirimu sendiri Carol, kau harus sadar dimana tempatmu berada dan dimana tempat laki-laki itu berada!” batin Carol dalam hati.

Miss?” Carol mundur beberapa langkah dari tempatnya semula hingga tubuhnya menabrak meja hidangan di belakangnya, untung saja piring dan gelas-gelas disana tidak jatuh.

Pemuda itu selalu saja mendekati Carol sesuka hatinya. “Maafkan aku, sepertinya aku sudah mengagetkanmu.” Pemuda itu mundur beberapa langkah memberi Carol sedikit jarak darinya.

Miss, apa kau tidak punya pasangan dansa?” Pemuda itu menaikan satu alisnya.

“Se…sepertinya begitu.” Carol tidak punya pilihan lain selain jujur.

“Aku juga, setelah ini akan ada couple dance dan sepertinya kita tidak memiliki pilihan selain  berdansa bersama.” Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, menggambarkan kecanggungan.

“Tapi aku…” belum Carol selesai menolak ajakan pemuda itu seorang violist berdiri di atas panggung, menggesek hars dan bow nya dengan sangat sempurna hingga suara biola mengalun dengan sangat indah, menghipnotis tiap-tiap orang untuk menari mengikuti irama. Selang beberapa saat lampu di pinggir aula padam hanya tersisa lampu yang menggantung di tengah aula.

Pemuda itu berlutut di hadapan Carol, mengulurkan tangan kirinya menunggu sambutan dari gadis itu. Carol dengan ragu menyambut tangan pemuda itu, pemuda itu menuntunnya menuju tengah aula bergabung dengan pasangan lain menikmati alunan biola yang merdu, pemuda itu dengan sopan meminta ijin Carol meraih pinggang gadis itu, menggenggam satu tangannya dan di detik berikutnya yang Carol tahu hanyalah rasa hangat yang pelan-pelan mengalir dalam hatinya.

***

“Lihat cara jalanmu Andrea, mirip ayam betina yang akan bertelur!” suara lantang Rachel di kerumunan gadis-gadis bangsawan yang baru keluar menyelesaikan kelas bahasa inggris mereka memancing kerumunan. Lagi-lagi adu mulut antara dia dan Andrea.

“Kau tidak sadar kalau selera berpakaianmu itu norak, Walcott?” sindir Andrea diikuti dengan tawa ejekan dari teman-teman Andrea. Sial! Dia kalah jumlah, teman-temannya tidak sebanyak teman Andrea. Semua ini karena gosip bahwa ayah Andrea, Viscount Edward merupakan Viscount kesayangan Ratu. Dia memang kalah sejak awal, Rachel baru sadar sekarang bahwa tidak ada gunanya berdiri bersebrangan dengan Andrea.

“Kenapa diam Walcott? Kau sudah memahami kekuatanku yang sebenarnya kan? Dan apakah sekarang kau mau bergabung menjadi kaki-tanganku, aku  akan memberikan posisi yang baik untukmu Walcott asal kau mau menjilati sepatuku!” Andrea tertawa, diikuti tertawaan teman-temannya atau Rachel lebih suka memanggil mereka dengan peliharaan karena memang begitulah sikap mereka terhadap Andrea. Penjilat! Tentu saja Rachel yakin mereka melakukan itu semua demi diri mereka sendiri, demi keistimewaan yang mereka dapat karena dapat bergaul dengan Andrea.

“Jangan harap Andrea, terlalu cepat dua abad aku mau bergabung denganmu!” Rachel mendesis frustasi menjauhi Andrea dan gerombolannya yang sangat puas melihat harga dirinya yang terinjak-injak.

“Nona!” panggil Carol saat Rachel berjalan melaluinya, Carol menunggu di depan kereta kuda yang siap menjemput Rachel jika sekolahnya usai. “Nona kau mau kemana?” hadang Carol saat Rachel berjalan berlawanan arah dari kereta kudanya.

“Aku benci diriku Carol!” Rachel menghentikan langkahnya, ia menggenggam pinggiran roknya erat kemudian menangis.

“Aku mengerti…” Carol tersenyum samar kemudian menundukkan kepalanya, Rachel memang keliahatan kuat saat ia  berhadapan dengan orang lain terlebih jika bergaul dengan anak-anak bangsawan lainnya. Tapi Carol tahu hati Rachel sama seperti hatinya, mereka sama-sama membenci kelas sosial, membenci kemunafikan para bangsawan yang berlomba-lomba menjadi anjing kesayangan Ratu. Membenci kesenjangan sosial yang membuat para bangsawan dapat menumpuk uang mereka dari hasil memeras masyarakat kelas bawah.

“Hahaha…aku bicara apa tadi? Aku sudah mulai melantur.” Rachel buru-buru menghapus air matanya berusaha tersenyum seperti senyum yang sering ia tampakkan di depan orang tuanya.

“Carol apa kau keberatan jika kau pulang berjalan kaki? Aku butuh pergi kesuatu tempat sebelum tunanganku datang malam ini.” Rachel mengedipkan satu matanya ke Carol. Tentu saja Carol mengangguk.

“Jadi anda menerima perjodohan itu?”

“Tidak ada pilihan lain, sebab aku lupa menanyakan pada Aiden dia anak bangsawan siapa dan Dad tidak mau aku sembarangan menentukan pendamping. Dia sudah menjodohkanku dengan anak tertua Earl Wayne, penyelenggara pesta tadi malam. Tapi kau tahu sendirikan dia tidak muncul tadi malam.”

“Siapa Aiden?” tanya Carol ragu.

“Pemuda yang aku temui tadi malam di pesta Earl Wayne.”

“Anda menyukai pemuda itu?”

“Sekarang tidak penting lagi Carol, toh aku tidak akan menikah dengannya.” Rachel mengulas senyum kemudian menaiki kereta kuda membawanya kesuatu tempat yang Carol tidak tahu tapi melihat kereta kuda yang membawa Rachel pergi seakan Carol tengah melihat kebebasan Rachel untuk terakhir kalinya, seperti yang pernah ia bayangkan sebelumnya mulai sekarang Rachel akan menjalani kehidupan bangsawan yang sebenarnya, menikah dengan orang yang sama sekali asing demi menghimpun kekuatan, berlomba-lomba bersaing dengan bangsawan lain menjadi orang kepercayaan Ratu.

***

Carol mempercepat langkahnya saat lampu jalanan di dekatnya tiba-tiba mati, hari sudah gelap dan dia belum sampai di rumah Viscount Walcott. Mantel beludru putih yang beberapa waktu lalu ia beli di pasar loak tidak mampu melindunginya dari udara malam kota London yang menusuk hingga ketulangnya. Gelap, dingin dia mulai melupakan rasa seperti ini semenjak hidup bersama keluarga Viscount Walcott. Kereta kuda selalu ada untuk membawanya kemana-mana bersama Rachel. Ya, kereta kuda itu memang sejatinya milik Rachel, dia hanya pelayan beruntung yang bisa duduk nyaman di dalamnya bersama majikannya.

Carol tersenyum, beberapa langkah dari tempatnya ada lampu jalanan yang masih menyala. Dia ingin segera meninggalkan kegelapan ini, cahaya. Dia butuh cahaya.

Napas Carol memburu, dia setengah berlari mendekati lampu jalanan yang menyala terang itu. London benar-benar mengerikan, jalanan menjadi mencekam bila malam tiba dan tidak pernah merasa aman berjalan-jalan di luar jika malam tiba. Bodoh, kenapa kau masih ada disini? batin Carol pada dirinya sendiri. Tapi dia terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan, dia sudah berjam-jam berjalan dan dia sudah benar-benar takut. Dia tidak sanggup lagi.

Satu tangan Carol berpegangan pada tiang lampu sementara tangan yang lainnya memegang lututnya, napasnya tersengal-sengal menghirup oksigen dengan serakah.

Carol mengamati keadaan sekitar, tidak ada kereta kuda yang lewat satupun. Tidak ada orang lain di sana kecuali dirinya. Entahlah, dia tidak mau membayangkan kalau ada orang lain selain dirinya di sini bersembunyi di bawah kegelapan mengintai untuk merampoknya, memperkosa atau bahkan membunuhnya. Carol ingin menumpahkan semua air matanya, dia harap ini bukan malam tersialnya untuk bertemu seseorang yang tidak ingin wanita manapun jumpai. Orang yang terkenal karena telah membunuh beberapa wanita dan memutilasi mereka dengan kejam. Jack The Ripper.

Kenapa Scotland yard tidak bisa mengungkapkan siapa Jack The Ripper itu sebenarnya, kenapa mereka menangkap orang-orang yang mereka kira Jack The Ripper lalu membebaskannya lagi?

“Tuhan, aku mohon lindungi aku…” ucap Carol getir.

Carol merasakan kakinya mulai lemas, tapi dia tidak mau berada disini lebih lama lagi dia harus segera pulang. Berdiam diri terlalu lama di sini terlalu berbahaya. Carol menghirup udara banyak-banyak lalu mulai menyemangati dirinya sendiri bahwa dia harus terus berjalan meski dia akan selalu berhenti pada tiap lampu jalanan yang menyala.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” suara jeritan seorang wanita, menyayat hatinya dalam. Apa yang telah terjadi?

Carol memberanikan dirinya mendekat beberapa langkah ke gang buntu dekat lampu jalanan yang ia tinggalkan tadi.

Carol bersumpah ia tidak pernah membayangkan atau menginginkan melihat semua ini. seorang berjubah dengan topi sedang menyayat bagian perut wanita yang tergeletak bersimbah darah.

“KYAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Jerit Carol. pelaku penusukan itu terkesiap, ia melihat ke arah Carol, mulai sadar bahwa aksinya malam ini dilihat oleh seseorang.

Carol melihat keadaan sekeliling tidak ada siapa-siapa bagaimana ini?

Jack The Ripper berlari ke arahnya mengacungkan pisaunya yang berkilat merah terkena darah korbannya malam ini. Carol rasa inilah akhir dari hidupnya, kakinya sudah terlalu lemas untuk berlari. Tidak beberapa lama lagi mungkin dia akan mati, sama seperti gadis tadi.

Buuuuuuuuuugggggggggggh!!!

Kepalanya mulai pening, Jack The Ripper mungkin ingin sedikit berbaik hati padanya. Membiarkan kesadarannya hilang baru dia akan melancarkan aksinya. Carol tidak tahu apa yang terjadi setelahnya tapi jika ini benar-benar akhir dari hidupnya maka dia akan berusaha menerimanya.

***

Carol mendengar kicauan burung gereja yang setiap pagi selalu mampir di jendelanya, merdu. Mendengarkan kicauan mereka membuat permulaan harinya terasa mudah. Carol mengerutkan keningnya masih dengan mata yang terpejam apa dia sudah ada di surga? Seingatnya malam tadi adalah akhir hidupnya. Ya, pasti dia sudah ada di surga.

“Carol kau bisa mendengarku?”

“Carol?”

Suara itu, tidak asing. Rachel kan? suara Rachel!

“Carol syukurlah!” Rachel menyambut hangat Carol yang membuka matanya, ia memeluknya seakan yang terbaring disana bukanlah pelayannya tapi kakaknya sendiri.

“Apa yang terjadi?”

“Kau tidak mengingatnya? Kau hampir mati tadi malam!” Carol menyipitkan mata mendapati Viscount Walcott dan istrinya juga ada di kamarnya.

“Aku masih hidup?” tanya Carol lebih kepada dirinya sendiri.

“Sepertinya kau sangat beruntung…” kata seorang pemuda yang duduk di pinggiran ranjangnya, ia baru sadar ada pemuda itu. Pemuda itu!

“Richard Wayne.” kata pemuda itu sambil mengulas senyum seakan mengerti isi pikiran Carol. Bukan perjumpaan pertama mereka tapi ini pertama kalinya mereka berkenalan secara formal, mereka pernah berdansa bersama tapi tidak pernah mengetahui nama masing-masing.

Pemuda itu mengulurkan tangannya, Carol mengerutkan dahinya namun kemudian mengulurkan tangannya juga menyambut uluran tangan Richard Wayne, pemuda itu tertawa. Wajah Carol menjadi merah mendapati pemuda itu tertawa, apa dirinya begitu lucu hingga pemuda itu tertawa?

Pemuda itu membalik tangan Carol memeriksa nadinya. “Tekanan darahmu normal!”

“Untung sekali ada dokter di sini! Kau beruntung Rachel, Richard tunanganmu adalah seorang dokter!” Aurora Walcott mendekati Rachel anaknya, Rachel tersenyum memandang Richard dengan kagum. Ya, Rachel memang beruntung. Carol mengasihani dirinya sendiri, ia yakin semua ini salahnya. Ia sudah pernah memperingatkan dirinya sendiri untuk tidak melakukan kebodohan tapi rupanya dia sebodoh ini! Jika saat ini hatinya menjadi sakit tentu ini semua memang karena kebodohannya.

***

“Bagaimana menurutmu?” Viscount Walcott terlihat sangat antusias dengan pendapat Richard mengenai teorinya tentang identitas Jack The Ripper yang sebenarnya. Bahkan Viscount Walcott tidak membiarkan Richard menyentuh sendoknya, terus meminta pendapat pemuda itu tentang teorinya yang ia anggap dapat membuat Scotland yard kehilangan muka karena Viscount Walcott bahkan dapat menganalisis kasus ini lebih cepat dibanding polisi-polisi lamban seperti mereka.

“Suamiku, kau tidak membiarkan calon menantu kita untuk menikmati sarapannya! Maafkan suamiku Richard, dia memang suka begitu jika membicarakan Jack!” sela Mrs. Walcott sebelum suaminya itu benar-benar membuat calon menantu mereka kelaparan.

“Tidak apa-apa Madame, aku senang kami bisa cepat akrab seperti ini.” Richard tersenyum sebentar kemudian senyumnya memudar saat Carol datang dari pintu bersama kereta dorong membawa ayam kalkun panggang yang lumayan besar. Carol nampak pucat dan sedikit lebih pendiam dari biasanya.

“Jadi bagaimana menurutmu?” Richard kembali mengalihkan tatapannya pada Viscount Walcott, mencoba mengingat-ingat topik pembicaraan mereka sebelumnya.

“Aku setuju dengan teorimu Sir, Jack The Ripper bisa jadi siapa saja. Dia bisa saja pria maupun wanita, terpelajar maupun tidak, gila atau pun waras.” Richard melihat kepuasaan Viscount Walcott atas jawabannya.

“Lalu bagaimana dengan Carol? apa pendapatmu tentang dia kenapa Jack The Ripper tidak membunuh dia padahal Carol satu-satunya saksi mata malam itu.” Carol terlihat lebih pucat dari pada tadi, yah. Dia belum bisa bernapas lega, masih ada kemungkinan Jack The Ripper akan membunuhnya karena kejadian semalam.

“Hmmm…” Richard menggosok-gosok dagunya, memikirkan semua kemungkinan yang ada.

“Mungkin Jack The Ripper tidak ingin membuang waktunya untuk melukai orang yang memang bukan sasarannya,” Richard menatap Viscount Walcott tajam kemudian melanjutkan kata-katanya. “Atau mungkin Jack The Ripper telah menemukan alasan untuk berhenti melakukan pembunuhan lagi…”

***

“Kau hebat Richard!” Rachel bertepuk tangan saat Richard selesai memainkan biola, menghipnotis semua orang di ruang tamu ke dalam alunan merdu yang cenderung sendu itu.

“Terima kasih.” Richard membungkuk hormat ke arah Viscount Walcott dan istrinya yang duduk di sofa, Richard melirik Carol yang berdiri di samping sofa sekilas. Wajah gadis itu masih saja pucat, hal itu sedikit mengganggu konsentrasinya tadi.

“Ehem…” Aurora Walcott berdehem ke arah suaminya yang masih terkagum-kagum dengan talenta calon menantu mereka. “Hmmm?” tanya Viscount Walcott tak mengerti.

“Suamiku, bukan kah kita ada agenda lain setelah ini?”

Viscount Walcott mengerutkan dahinya, “Agenda apa? Jadwalku kosong sayang ini kan weekend!” kata Viscount Walcott polos.

Aurora Walcott memijat keningnya sebentar, suaminya terlalu polos atau terlalu bodoh sebenarnya?

“Sayang, kita biarkan mereka berdua saja.” bisik Aurora pada suaminya yang kelewat polos.

“Oh…tapi kenapa?”

“Astaga sayang, ayo!” Aurora Walcott menarik suaminya dari sofa, mereka terus berdebat karena Viscount Walcott tidak mengerti kenapa dia harus meninggalkan Richard padahal dia masih ingin berbincang dengan calon menantunya itu.

“Kau mau berdansa?” tanya Rachel pada Richard, Richard menggeleng karena sedari tadi dia terus memandang Carol yang pucat seperti mayat.

“Sebaiknya kau istirahat!” Richard mengabaikan ajakan Rachel untuk berdansa bersama, Richard menghampiri Carol yang kelihatan sudah tidak kuat berdiri. Richard menggenggam bahu Carol erat memapahnya menuju sofa.

“Carol, kau baik-baik saja?” tanya Rachel setengah kecewa gara-gara Carol, Richard menolak ajakannya.

“Rachel, kau bisa mengambilkan minum untuk Carol? aku akan membawanya ke kamar, aku rasa dia sakit.”

“Mmmm… tidak usah aku baik-baik saja.” tolak Carol.

“Kau tidak baik-baik saja Carol!” bentak Richard.

“Apa yang kau lakukan?!” berontak Carol saat Richard menggendongnya, Richard tidak peduli tatapan Rachel yang terlihat ingin menerkam mereka.

“Aku akan memaksamu beristirahat Miss!” Kata Richard sebelum pemuda itu meninggalkan ruang tamu, meninggalkan Rachel yang merah-padam menahan emosinya melihat tunangannya begitu menaruh perhatian terhadap pelayan rumahnya.

***

“Selamat malam nona!” saat Rachel membuka pintu muncul anggota Scotland yard yang semalam datang bersama Carol yang tidak sadarkan diri.

“Selamat malam.” balas Rachel sambil membuka pintu rumahnya sedikit lebih lebar agar beberapa orang petugas Scotland yard itu bisa masuk.

“Kami datang bersama atasan kami, seperti yang aku katakan semalam.” anggota Scotland yard itu nampak bersemangat, Rachel sedikit acuh dengan kedatangan segerombolan Scotland yard ke rumahnya.

“Nona, bukankah kita pernah berjumpa sebelumnya?” Rachel mengerutkan dahinya saat seseorang yang berpenampilan lebih rapi dari pada angota Scotland yard lain menyapanya.

“Kau melupakanku? Bukankah kita pernah berdansa bersama di pesta Viscount Wayne?”

“Oooooooooohh!!!” Rachel berseru senang saat seseorang yang hampir saja ia kira hanya akan menjadi kenangannya kini muncul di depan mata.

Lord Aiden silahkan duduk!” Petugas Scotland yard yang nampak bersemangat tadi mempersilahkan atasannya untuk duduk.

“Terima kasih Nathan!” kata Aiden sebelum pemuda bermantel cokelat muda itu duduk di sofa ruang tamu seperti anggota Scotland yard yang lain.

“Kami kemari untuk menemui Miss Carol.” kata Aiden yang diikuti perubahan ekspresi Rachel yang berubah menjadi lebih masam.

“Sebelumnya bolehkah kami menemui Viscount Walcott untuk meminta ijin?” sambung Aiden, Rachel mengangguk lalu segera beranjak masuk ke dalam untuk mencari orang tuanya.

Selang beberapa menit Viscount Walcott dan istrinya keluar dari dalam, Viscount Walcott nampaknya sedikit terganggu mendapati ada segerombolan Scotland yard di ruang tamunya.

“Selamat malam Sir!”  sapa Aiden sambil berdiri, mengulurkan tangannya.

Viscount Walcott melewati Aiden tanpa menyambut tangan pemuda itu, Viscount Walcott duduk dengan sikap yang dingin.

Sir, kami datang kemari untuk menemui Miss Carol. Kami ingin menanyainya mengenai kejadian tadi malam.” kata Aiden tetap ramah meskipun Viscount Walcott menolak berjabat tangan dengannya.

“Apa kau yakin bisa menyelesaikan kasus ini dengan cepat anak muda? Kau tahukan semua orang mulai resah dengan kasus ini, sudah banyak gadis-gadis muda yang mati di tangan pembunuh sadis itu.” Aiden melihat ada nada meremehkan dari ucapan Viscount Walcott tadi tapi dia tidak terlalu ambil pusing.

“Tentu Sir, kami telah mengantungi sebuah nama yang kali ini tidak akan salah lagi. Aku sendiri kemarin telah menyusup ke sebuah pesta untuk memastikannya.”

Rachel yang duduk disamping ibunya sedikit terkejut. Jadi pesta malam itu merupakan bagian dari penyamaran Aiden untuk kasus ini? Jadi mungkin juga kedekatan mereka malam itu hanya kamuflase untuk menyempurnakan penyamarannya.

“Memastikan apa?” tanya Viscount Walcott penasaran, “Tapi semoga kalian benar kali ini.”

“Tidak Sir, kali ini kami sangat yakin. Kami sudah mengumpulkan bukti-bukti dan sudah sangat cukup untuk membawa Jack The Ripper ke tiang gantungan!” kata Aiden dengan penuh keyakinan.

“Apa kau datang ke pesta Earl Wayne malam itu karena Jack The Ripper ada di pesta itu?” tanya Rachel yang tidak kalah antusias dengan ayahnya.

“Tidak,” jeda Aiden untuk memberikan efek dramatis. “Pelakunya adalah pemeran utama di pesta itu…”

Jantung Rachel yang tadi meletup-letup mendengarkan kata-kata Aiden kini melemah, desiran-desiran aneh tiba-tiba memenuhi dadanya.

“Putera tertua mereka The Courtesy Richard Wayne, kami memeriksa ijazah nya dan kami terkejut saat menemukan bahwa dia tidak sekolah ke dokteran di Amerika dia ada di Inggris, tidak pernah kemana-mana. Dia menamatkan sekolah kedokterannya di Inggris. Baground kedokteran cocok untuk menjelaskan kenapa di setiap korbannya Jack The Ripper menyayat mereka dengan sangat rapi…” Aiden sedikit terkejut mendapati raut wajah keluarga Walcott yang menjadi pucat.

“Tapi semua itu tidak cukup untuk menjerat Richard, kau juga perlu mencurigai dokter-dokter yang lain!”

“Ya Sir, tetapi kejadian semalam memberi kami titik terang.” Aiden memberi kode kepada Nathan untuk mengeluarkan sesuatu. Nathan mengangguk, berdiri lalu mengeluarkan sesuatu berbungkus plastic dari balik mantelnya.

“Kami menemukan cincin bermata Sapphire Blue ini di dekat Miss Carol saat dia di temukan tidak sadarkan diri. Kami datang kemari untuk menanyai Miss Carol apakah dia ingat bahwa Jack The Ripper mengenakan cincin ini semalam. Cincin ini bukan cincin sembarangan, cincin ini dibuat khusus untuk pewaris keluarga Wayne!”

Rachel, ayah dan ibunya saling berpandangan. Mereka tidak pernah mengira Richard tunangan Rachel adalah Jack The Ripper. Jack The Ripper ada di rumah ini!

“CAROL!” jerit Rachel membuat semua orang terkejut.

“Richard ada disini, bersama Carol!” Carol dalam bahaya!

“Nathan!” perintah Aiden dan anggota Scotland yard yang ada disana mulai berpencar ke segala arah untuk menemukan Richard.

“Tidak ada!”

“Tidak ada!”

Seketika kaki Rachel lemas, ia duduk bersimpuh di lantai menatap hampa petugas Scotland yard yang berlalu-lalang di depannya menyampaikan kabar bahwa di sudut manapun di rumah itu mereka tidak menemukan Richard maupun  Carol.

***

Derap kereta kuda beradu dengan deru napas Carol yang sedikit berat karena demam yang perlahan menyeret kesadarannya. Sementara Richard hanya duduk di kusi yang berhadapan dengan Carol menatapnya lekat. Richard membawa gadis itu bersamanya tanpa perlawanan karena gadis itu mengira dia sedang tidur di kasurnya yang nyaman, gadis itu mulai tertidur karena kepalanya sejak tadi sangat pening.

Lord Richard, kita sudah sampai!” kata pelayan Richard yang semenjak tadi duduk di depan kursi kemudi di luar kereta, memastikan kuda-kuda terbaik keluarga Wayne membawa majikannya ke tempat tujuannya dengan benar.

“Terima kasih, setelah ini sebaiknya kau pergi!” Richard membuka pintu kereta lalu menggendong Carol yang berselimut mantelnya keluar. Angin malam berhembus menyapa mereka, dingin. Tapi tidak cukup dingin untuk membuat Richard menggigil karena sejak awal hatinya memang dingin.

Richard melangkahkan kakinya pasti menuju dermaga yang sepi, sengaja ia memilih dermaga di daerah pinggiran agar tidak terlalu banyak orang. Sebuah perahu kecil dan sepasang dayung yang siap di kayuh menunggu untuknya.

“Carol!” Richard menyebut nama Carol dengan sangat lembut, dia tidak tega membangunkan Carol yang masih dengan cantik tertidur di pelukannya.

Carol menggerakkan pelupuk matanya hingga tak beberapa lama matanya perlahan mulai membuka. Carol merasa asing, langit-langit kamarnya kini berganti dengan langit malam luas yang dipenuhi taburan bintang. Kasurnya yang nyaman juga berganti dengan pelukan Richard, tunangan Rachel.

“Aku dimana?” tanya Carol pada pemuda beriris mata abu-abu itu. Richard mengulas senyum yang sangat tipis di bibirnya.

“Dermaga, boleh aku menurunkanmu sekarang?” Carol mengedipkan matanya menyadari bahwa dari tadi Richard menggendongnya. Carol mengangguk. Richard perlahan-lahan menurunkan Carol tapi tidak membiarkan tangannya melepas tangan Carol sama sekali. Tangan Carol terasa panas, mungkin demam Carol belum turun.

“Carol, tolong maafkan aku…” Richard menggenggam tangan Carol erat, ia menatap gadis dihadapannya itu dengan penuh penyesalan.

“Aku tidak mengerti, maaf untuk apa? Lalu kenapa kita ada disini?” Carol merasakan angin dingin berhembus sangat kencang, ia tidak tahu sejak kapan ada mantel yang menyelimuti tubuhnya. Dia tidak punya mantel seperti ini jadi ini pasti milik Richard.

“Maafkan aku karena aku menyukaimu, aku tidak seharusnya menyukaimu…” Richard menundukkan kepalanya menyadari bahwa mencintai Carol adalah kesalahan terbesarnya, bukan karena gadis itu pelayan atau karena gadis itu Richard tidak memiliki hasrat untuk membunuh gadis-gadis muda tuna susila yang di benaknya selama ini di liputi dendam pada gadis-gadis seperti mereka, ibunya menjadi gila karena ayahnya kerap berselingkuh dengan gadis-gadis seperti mereka. Richard menyesali perasaannya karena tidak seharusnya pembunuh berlumur dosa sepertinya mencintai gadis baik-baik seperti Carol.

“Kau…kau menyukaiku?” tanya Carol setengah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.

“Tapi pembunuh berlumur dosa sepertiku tidak seharusnya menyukai gadis baik sepertimu…”

Carol merasa ada yang salah dengan pendengarannya. “Pembunuh?”

Richard tertawa pahit kemudian ia menatap Carol tajam. “Aku Jack The Ripper, orang yang bertanggung jawab atas semua pembunuhan gadis-gadis muda belakangan ini!” Richard sekarang merasa miris mengakui dirinya sebagai Jack The Ripper, tidak seperti yang selama ini ia banggakan jika ia berhasil membunuh korbannya. Richard menyesali dirinya yang selama ini dibutakan oleh dendam yang tidak masuk akal, lalu sekarang saat  dirinya sudah sadar sepenuhnya dia harus meninggalkan gadis yang sangat dicintainya, gadis yang sanggup membuka mata hatinya yang selama ini tertutup dendam.

JackJack The Ripper?” Carol melepaskan genggaman tangan Richard, ia melangkah menjauhi Richard. Jack The Ripper ada disini, dan mungkin berencana menenggelamkannya ataupun menyayat-nyayat Carol seperti gadis-gadis korbannya yang lain untuk  melenyapkannya.

“Aku sudah kehilangan semua hasrat untuk membunuh setelah melihatmu tadi malam, aku selalu terbayang wajahmu yang berbalut ketakutan pada wajah semua wanita. Aku menyesali perbuatanku…” Richard melangkah mendekati Carol tapi Carol melangkah mundur.

“Sepertinya aku benar-benar telah mengecewakanmu…”

Carol merasakan perih dalam hatinya, pemuda yang ia kira berbeda karena tidak seperti bangsawan lainnya yang penuh dengan kepalsuan benar-benar berbeda jauh dengan bayangannya. Meski ia tahu bahwa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan tapi kenyataan bahwa Richard adalah Jack The Ripper membuat hati Carol lebih sakit dari pada sebelumnya, dari pada mengetahui bahwa Richard adalah tunangan Rachel.

“Aku akan pergi dari negeri ini, maafkan keegoisanku yang ingin melihatmu terakhir kalinya sebelum aku pergi. Maafkan aku Carol!” Richard tidak memaksa untuk mendekati Carol lagi, Richard berbalik. Ia mendekat ke arah perahu kecil yang akan membawanya berlayar menyebrangi lautan Inggris menuju kemanapun.

Carol melelehkan air matanya di pipi, dia ingin berlari mencegah pria itu untuk pergi. Memeluknya, memeluknya dengan sangat erat agar pemuda itu tidak pergi tapi dia tidak bisa. Jika Richard tetap di sini akan sangat berbahaya, Scotland yard bisa membawanya ke tiang gantungan atau bahkan memenggal kepala Richard.

Richard mulai ragu saat tinggal selangkah lagi ia mencapai perahu, ia berbalik lari menuju Carol. Meraih pinggang gadis itu lalu menghadiahkan ciuman perpisahan. Carol menangis, ciuman pertama sekaligus terakhir mereka dihiasi oleh air mata Carol yang menganak sungai.

Richard memeluk Carol erat, menempelkan hidungnya ke leher Carol, menghirup wanginya lama. Ia ingin mengingat bau Carol, ia tidak ingin melupakan Carol sedikitpun. Bagaimana wajahnya, sikapnya, aroma tubuhnya, rambutnya. Ternyata Richard memang sangat mencintai gadis itu, Richard menyukai semua tentang Carol. Tidak ada celah yang ia temukan untuk tidak jatuh cinta pada gadis itu.

“Selamat tinggal!” Richard tersenyum untuk terakhir kali, mengucapkan selamat tinggal pada gadis yang sangat dicintainya. Carol melambaikan tangan, melihat Richard sudah duduk di perahu kecil itu mengayuhnya dengan sekuat tenaga. Malam berbintang menemaninya melepas orang yang dicintainya pergi, Richard meninggalkan mantelnya untuk Carol. Carol merapatkan mantel itu ke tubuhnya, rasanya seperti Richard ada disini memeluknya memberinya kehangatan dan perlindungan.

Derap puluhan kaki kuda terdengar, Carol yakin benar itu rombongan Scotland yard yang ingin menangkap Richard. Carol menatap ke arah lautan lepas, perahu Richard sudah tidak terlihat lagi.

“Selamat tinggal…”

***

~END~

***

catatan :

 

Tingkat gelar bangsawan Inggris

  1. Duke (untuk keluarga kerajaan dll)
  2.  Marquess
  3. Earl (setingkat gubernur kerajaan)anak tertuanya mendapat gelar The Courtesy
  4. Viscount
  5. Baron

 

 

Aneh, Gaje, bingungin dan bosen. Huahahha…

Aku udah bisa duga pasti kesan-kesan itu yang kalian dapet dari FF ini, hehhe…

Hmmm… ini genre non full romance yang coba aku bikin, aneh banget yah? Dan musingin?

Oke sama kalau gitu aku juga pusing bikinnya,hehe…

Makasih buat yang mau baca^^

#poppo

[One Shoot] Actually I Love You

Let Me Say Happy B’day To My Favorite author ‘Ijaggys’

Is it Late? kekekeke XD

gak tau juga orangnya baca atau gak, ini FF ‘sisa export’

FF yg gak jadi aku kirim buat ikut lomba ultah dia^^

Dan FF yg aku kirim juga gak menang..fufufu~~

Ok, Happy reading all^^

***

When you feel like there’s no way out

Love is the only way

***

Salju turun lebat diluar sana, membuat jendela nampak berembun. Efek dari kaca-kacanya yang membeku. Cheonsa menghembuskan napasnya pelan, kembali memfokuskan perhatiannya pada suasana kelas yang sedikit gaduh karena teman Turki nya sibuk berdebat dengan guru bahasa Belanda mereka mengenai materi pelajaran, Cheonsa kembali melemparkan fokusnya pada jendela kelas. Dia bosan, teman Turki nya selalu saja menanyakan pertanyaan yang sebenarnya sudah terpecahkan minggu lalu. Cheonsa mungkin harus berterima kasih pada teman Turki nya nanti. Karena berkat dia, mereka -satu kelas- harus mengulang materi yang sama setiap minggunya. Entah temannya itu sedang berusaha mencari perhatian guru atau dia benar-benar tidak tahu tapi yang jelas Cheonsa bosan.

Cheonsa menyelami pikirannya lama, dia sedikit kecewa. Ralat, sangat kecewa mendapati dirinya harus mengikuti winter class bahasa Belandanya di desa terpencil Maasmechellen, kota pinggiran Belgia yang sebagian besar warganya adalah imigran baik gelap maupun terang. Terjebak di St. Barbara Institute yang di dominasi orang Turki dan Maroko, bukan masalah sebenarnya. Bukannya dia antipati dengan kedua Negara itu, hanya saja kebanyakan dari mereka tidak fasih berbahasa Inggris maupun Belanda alhasil dia harus menambah bahasa tubuh dan bahasa kalbu sebagai bahasa tambahan sehari-harinya.

Cheonsa melirik ke depan kelas sebentar, perdebatan itu belum usai. Jadi dia masih ada sedikit waktu untuk menikmati salju yang turun di luar sana. Setidaknya salju bisa menghiburnya dari kebosanan yang hampir membunuhnya itu. Dia merindukan salju yang turun di Seoul, kadang dia bersama teman-temannya keluar membuat boneka salju maupun melakukan perang bola salju. Menyenangkan, dan kadang jika salju tidak turun begitu lebat mereka biasa pergi bermain ski. Ia rindu masa-masa itu, tapi biarlah semua itu ia jadikan penyemangat tujuannya datang jauh-jauh kemari. Maastrich University yang ada di Lanaken, Belgia, yang membuatnya harus menguatkan dirinya untuk tetap ada disini. Sebab penguasaan bahasa Belanda menjadi modal dasar untuk dia dapat masuk ke universitas itu. Dia sedikit iri dengan teman berkebangsaan Jerman, Mexico,Columbia dan Bellarusia nya. Mereka menempuh winter class bahasa Belanda mereka di desa lain, di Lanaken. Hanya sekitar 3 kilometer dari Maastrich University, yang ia tahu di sana sebagian besar muridnya adalah International students yang tentunya fasih berbahasa Inggris. Setidaknya jika dia ada disana dia tidak usah melakukan pantomim saat menugaskan temannya untuk mengantarkan buku ke ruang guru atau mempraktekan gerakan makan saat dia mengajak temannya untuk makan siang.

Tapi nasib malang itu bukan miliknya seorang, ada dua orang lainnya yang harus bersusah payah seperti dia. Seorang gadis berkebangsaan Jepang bernama Haruna Katou dan pria Korea bernama Lee Dong Hae memiliki nasib yang hampir mirip dengannya. Mungkin karena kesamaan nasib itulah yang membuat mereka lebih sering berkomunikasi dan menjadi akrab. Atau mungkin juga karena mereka sama-sama berasal dari bagian timur Asia.

Haruna, bukan orang yang begitu asing bagi Cheonsa. Sebab mereka tinggal di flat yang sama. Kebetulan yang seakan menyatukan mereka dalam takdir. Cheonsa melirik Haruna sebentar, gadis itu menopang dagunya dengan satu tangan. Tertidur, meskipun dengan mata terbuka. Cheonsa juga baru tahu kebiasaan aneh sahabatnya itu setelah sekian lama mereka tinggal di satu atap yang sama.

Dan Lee Dong Hae, Cheonsa melirik sinis pria dengan kepercayaan penuh bahwa dirinya adalah makhluk tertampan di muka bumi. Pria itu terlalu percaya diri untuk ukurannya, sebenarnya dibanding dengan teman-teman mereka yang berasal dari Negara lain pria itu bisa dikatakan pendek. Tapi dia tidak pernah menggubris soal tinggi badannya, dia merasa anugerah wajah tampannya cukup untuk menutupi kekurangan kalsiumnya.Ck..terlalu percaya diri.

***

Haruna melilitkan kembali syal rajutan berwarna putih gading itu kelehernya, hangat. Sedangkan Cheonsa sibuk menghangatkan tangannya dengan menggosok-gosokkan kedua tangannya yang terbalut sarung tangan. Donghae masih di kelas, masih di kelilingi fan girls nya yang biasa mengadakan fanmeeting setelah kelas selesai. Biasanya fanmeeting itu berlangsung lama jadi Cheonsa dan Haruna lebih memilih untuk meninggalkan Pangeran-ikan-playboy itu dari pada ketinggalan bus menuju flat mereka yang ada di Lanaken.

Oh My God Haruna, It’s Sunday!” pekik Cheonsa. Haruna hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.

“Bagaimana jika dia ada di sana?” Cheonsa panik. Dia tertahan di tengah perjalanan mereka menuju halte bus.

Haruna masih tersenyum, dia tahu siapa yang Cheonsa maksud. “Lelaki berkebangsaan Belanda yang setiap minggu sore selalu menunggumu di hatle dekat flat kita?” Cheonsa mengangguk, kemudian bibirnya ia kerucutkan.

“Kenapa tidak kau terima saja lamaran nya? Menjadi istri pria tampan seperti itu bukankah suatu kebanggaan?” canda Haruna sambil terkekeh geli melihat ekspresi Cheonsa.

Cheonsa menyipitkan matanya kearah Haruna, lalu tertawa hambar. “Melamar seorang gadis yang baru dia temui empat kali lalu hanya pernah mengobrol sekali memangnya wajar?”

“Tentu saja tidak. Lalu kau mau kita bagaimana sekarang?” tawa Haruna mulai reda, kini dia serius bertanya pada Cheonsa yang mulai tiga minggu lalu selalu panik jika hari minggu tiba. Karena akan ada pria Belanda yang menunggu di halte mengejar-ngejarnya untuk menikah.

“Memutar lewat Hasselt…” tapi Cheonsa tak meneruskan kata-katanya. Dia ingat tepat minggu lalu dia memaksa Haruna mengikuti idenya untuk memutar lewat kota Hasselt tapi naas mereka yang memang tidak begitu tahu seluk-beluk kota Hasselt jadi tersasar. Alhasil mereka sampai flat larut malam. Dan esoknya Donghae hanya tertawa-tawa mendengar cerita mereka.

“Kita pakai cara yang biasa saja.” tawar Haruna. Cheonsa mengangguk, dia kemudian menatap ke arah bawah, ke kakinya sendiri lalu ke kaki Haruna. Bagus, tidak ada yang memakai boots berhak tinggi jadi mereka bisa lari secepat yang mereka bisa jika pria Belanda itu muncul.

***

I’m still scared of love

So give make me trust you

I said oooh, don’t make me jealous

Oooh, don’t make me become obsessed

Cheonsa sibuk mengaduk hot chocolate-nya di dapur hingga terdengar denting suara sendok dan cangkir yang beradu, sedangkan Haruna berada di sofa futcha berwarna ungu tua yang berada di ruang depan membaca manga kesayangannya.

“Kau mau hot chocolate juga dear?” tanya Cheonsa dari arah dapur.

“Tidak.” jawab Haruna singkat, dia memang tidak suka melakukan aktifitas apapun sambil membaca manga. Ketegangan dan keseruan cerita akan buyar begitu saja jika dia menduakan manga nya dengan hal lain, biarpun itu menyesap hot chocolate.

Cheonsa yang datang dari arah dapur menepuk bahu Haruna, mengisyaratkan gadis itu untuk bergeser karena Cheonsa ingin duduk di sebelahnya. Menimati hot chocolate sambil menonton televisi. Haruna bergeser ke pojok kiri sofa sambil masih terfokus pada manga nya.

Beberapa menit kemudian Haruna sudah selesai membaca, dia ikut menonton televisi seperti yang Cheonsa lakukan. Tapi dia menjadi bosan, karena  discovery channel memang bukan salah satu daftar acara televisi kesukaannya.

“Kau tidak bisa begini terus dear…” Kata Haruna sambil meraih remote dan mengganti saluran televisi. Cheonsa menatap Haruna kesal, tapi detik berikutnya dia mulai menanggapi pembicaraan Haruna. “Maksudmu soal apa?”

“Pria Belanda tadi, untung saja tadi dia tidak berhasil mengejar kita.”

Cheonsa mendadak hilang selera untuk menyeruput hot chocolate nya lagi, topik itu memang sangat sensitif baginya. “Jadi?” Cheonsa menaikkan satu alisnya. Kali ini dia meletakkan cangkirnya di meja dan mulai serius menatap Haruna yang saat ini sama seriusnya dengan dia.

“Kau tidak menyuruhku untuk menerima lamarannya kan?” tanya Cheonsa curiga, jangan-jangan ucapan Haruna tadi siang tentang menerima lamaran pria itu serius.

Melihat ekspresi Cheonsa yang mendadak pucat, Haruna jadi geli. Dia tertawa. “Bukan, bukan itu…” kekeh Haruna.

“Lalu?”

Haruna menarik napas panjang, oke ini bukan saatnya tertawa. “Kau harus mencari perlindungan,” kemudian dia melanjutkan. “Bukan body guard atau semacamnya, tapi maksudku adalah seorang boyfriend. Mungkin saja jika pria Belanda itu tahu kau sudah memiliki seseorang dia akan menjauh dengan sendirinya.”

“Tidak.” Cheonsa menolak ide Haruna mentah-mentah. seorang pacar? yang benar saja!

“Kenapa?”

Cheonsa yang semula menatap dua bola mata Haruna kini memandang berkeliling, masalahnya mencari seseorang itu tidak mudah. Dan dia rasa disini, belum ada seorang pria pun yang menarik baginya.

“Entahlah, hanya aku belum menemukan seseorang yang tepat…”

“Bagaimana dengan Donghae? dia cukup menarik dan kelihatannya dia sangat tertarik padamu.” Cheonsa kembali menatap Haruna, Lee Donghae bahkan mereka tidak pernah bicara berdua saja. Mereka selalu bicara bertiga dengan Haruna, jadi dari mana Haruna menyimpulkan kalau Donghae menyukainya. Dan lagi, pasti fan girls Donghae akan mencakar-cakar wajahnya jika mereka menjalin hubungan. Dan Cheonsa bersumpah lebih memilih berlari tiap minggu sore menghindari pria Belanda itu dari pada menjadi korban cakaran fan girls Donghae.

“Kau tahu dear, kadang aku merasa kau dan Donghae itu seperti satu-satunya Mamoth jantan dan betina yang tersisa dan kalian memiliki tanggung jawab besar untuk kelangsungan spesies kalian kedepan.” Cheonsa menatap Haruna tajam. Cheonsa benar-benar merasa buruk, inilah akibatnya jika sahabatnya itu masih gemar menonton film anak-anak di usia seperti ini.

“Berhenti memfantasikan Ice Age 2 ke dalam hidupku!” Cheonsa mengambil sebuah bantal yang ada di lantai lalu melemparkannya tepat ke wajah Haruna. Haruna hanya terkikik geli mendapati wajah Cheonsa yang merah-padam.

***

All day, I keep thinking about you

All day, I just stare at my phone that’s not ringing

Why don’t you know my heart being like this yet?

I still don’t know your heart either

Cheonsa menarik kursi ke belakang lalu mulai berdiri untuk memasukkan buku-buku nya ke dalam tas. Kelas sudah usai jadi sekarang saatnya untuk kembali ke flat dia yang hangat, karena dari tadi matahari terus bersembunyi di balik awan. Membuat udara menjadi dingin, ditambah hari ini dia harus berangkat sendirian karena Haruna harus menemui seorang kenalannya di Amsterdam yang katanya sedang sakit dan membutuhkan Haruna segera.

“Kemana Haruna?” tanya Donghae sambil membantu Cheonsa untuk memasukkan buku-buku ke dalam tas gadis itu.

“Amsterdam, kenalannya sakit.” jawab Cheonsa ketus. Entah karena saat itu mereka hanya berdua sehingga membuat Cheonsa sedikit grogi atau karena pada dasarnya gadis itu memang tidak terlalu menyukai Donghae jadi dia menjawab dengan nada ketus.

“Kalau begitu ayo kita makan siang dulu nanti akan kuantar pulang.” tawar Donghae, Cheonsa mengangguk setuju.

Donghae menarik napas lega, akhirnya kesempatan untuk berdua saja dengan Cheonsa datang juga. Sudah lama dia ingin berdua saja dengan Cheonsa tapi gadis itu terus saja bersikap dingin padanya jadi Donghae sering merasa ciut, tapi hari ini akhirnya datang dan Donghae merasa sangat senang. Dia berharap ada kemajuan diantara mereka, minimal selanjutnya Cheonsa harus sadar kalau selama ini Donghae menyukainya, entah Cheonsa itu terlalu polos dalam hal seperti ini atau Cheonsa hanya sedang membohongi dirinya sendiri bahwa dia juga merasakan perasaan yang sama seperti yang Donghae rasakan padanya,

Oppa!” teriakkan itu memecah keheningan Cheonsa dan Donghae, fan girls Donghae memanggil dia untuk segera memulai acara fanmeeting mereka.

“Maaf gadis-gadis tidak untuk hari ini!” kata Donghae sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada lalu menunjuk-nunjuk Cheonsa.

“Pergilah, aku bisa pulang sendiri. Lupakan soal makan siangnya.” Cheonsa menarik tasnya lalu segera meninggalkan Donghae. Dia tidak ingin mengganggu acara rutin idola dan penggemarnya itu.

“Han aku mohon, beri aku lima menit untuk mengurus mereka setelah itu kita bisa pergi.” Donghae menahan satu tangan Cheonsa, menahan langkah gadis itu. Kesempatan ini tidak boleh hilang.

Cheonsa melepas genggaman tangan Donghae cepat lalu menatap Donghae dengan galak. “Urus saja fans mu, aku bisa sendiri!”

Donghae lalu hanya mematung di depan pintu kelasnya, menatap sosok Cheonsa yang semakin menjauh sedangkan di belakang suara fans nya masih terdengar memanggil-manggil dia.

***

Cheonsa mengeluarkan OV-Chip card dari dalam tas lalu menempelkannya pada mesin di depan pintu bus setelah bus itu berhenti tepat di halte dekat flat nya. Dia sambil melamun turun dari bus dengan sangat pelan, pikirannya masih terpenuhi oleh Donghae. Pemuda itu entah kenapa selalu saja membuatnya kesal. Dan meskipun bus sudah lama berlalu Cheonsa masih ada disana, masih tidak bisa menghilangkan perasaan kesalnya.

Beautiful lady from heaven standing in front of me!” saat ia mendengar itu Cheonsa menatap lurus pria di hadapannya. Pria Belanda yang selalu menunggunya di halte ini, dan sialnya hari minggu ini dia sendirian. Pujian itu Cheonsa hapal benar, kalimat rayuan pria Eropa macam itu sama sekali tidak membuatnya senang justru malah membuatnya ngeri. Di halte itu hanya ada mereka berdua dan toko-toko di sekitar mereka tak banyak yang buka, suasana kota Lanaken di hari minggu lengang. Aneh memang, seharusnya toko-toko buka saat shopping day tapi hal ini merupakan salah satu kebijakan pemerintah setempat guna meningkatkan religiusitas warganya, karena pada hari minggu penduduknya harus pergi ke gereja.

Excuse me…” Cheonsa menghindar cepat, berusaha kabur dari pria Belanda yang jauh lebih tinggi darinya itu. Tampan, tapi sejujurnya Cheonsa sama sekali tidak tertarik dengan pria barat manapun. Atau mungkin pria manapun kecuali satu orang.

Wait a minute!” pemuda Belanda berusia sekitar dua puluh tahunan lebih itu mencengkram satu tangan Cheonsa, mungkin dia sudah hapal gerak-gerik Cheonsa selama ini jika dia berniat untuk kabur.

Let me go!” Cheonsa mulai histeris. Dia bersumpah, dia tidak pernah merasa lebih takut dari pada sekarang. Dia benar-benar takut, terlebih cengkeraman pria itu sangat kuat, dia takut terjadi hal yang tidak dia inginkan. Cheonsa benar-benar berharap ada seseorang yang menolongnya dari genggaman pria ini, dia takut. Sangat takut.

Pria itu terus saja merayu Cheonsa untuk minum kopi bersamanya, tapi Cheonsa menolak keras. Pergi minum kopi dengan pemuda yang baru di kenalnya bukan ide yang bagus, terlebih dia bisa merasakan niat jahat yang terselubung pada tawaran minum kopi pemuda itu.

Beautiful lady, let’s doing something fun…” Napas Cheonsa tercekat, pikirannya benar. Having fun yang dimaksud pemuda itu adalah having sex dan Cheonsa benar-benar merasa dalam bahaya.

Di tengah keputus asa-an nya meronta agar dilepaskan oleh pemuda itu, pemuda itu malah sibuk berceloteh tentang Cheonsa tidak perlu merasa rugi jika ikut bersamanya karena having sex bersama pria Belanda lebih baik dibanding pria Belgia, dan bla..bla..bla.. sama sekali bukan obrolan yang ingin Cheonsa dengar.

Cheonsa terus mengiba untuk dilepaskan sampai air matanya jatuh dari pelupuk matanya, tapi pemuda itu bagai sebuah patung es yang keras dan tidak berperasaan, kini pemuda itu malah menarik-nariknya. Memaksa Cheonsa untuk ikut secara paksa.

Cheonsa mengerahkan semua tenaganya untuk meronta tapi tentu saja hal itu percuma, tenaganya kalah dibanding tenaga pemuda itu. Kini Cheonsa hanya bisa berharap dalam hatinya bahwa Tuhan akan mengirimkan seseorang untuk menolongnya.

Tiba-tiba kepalanya dipenuhi bayangan wajah Lee Donghae, dia menyesal menjadi seseorang yang keras kepala dan munafik. Dia tidak harus mengalami semua ini jika dia mau bersabar menunggu Donghae yang hanya meminta lima menit padanya untuk menunggu.

Tapi rasa kesal saat fan girls Donghae dapat secara bebas memanggilnya ‘oppa’ itu tidak dapat dia tepis, dan dia benar-benar merasa buruk saat mereka merangkul Donghae, meminta foto atau hanya bicara. Dia cemburu, iya. Kenapa baru sekarang dia menyadari bahwa selama ini kecemburuan yang membuatnya selalu bersikap ketus pada pemuda itu. Kecemburuan yang selama ini selalu menutup mata dan hatinya tentang perasaan sebenarnya yang dia rasakan untuk Donghae. Tapi mungkin saja semua itu terlambat sekarang, dia tidak tahu setelah ini dia dapat menampakkan dirinya di depan pemuda itu lagi atau tidak, bahkan dia berpikir setelah ini dia masih bisa bernapas atau tidak.

“Donghae…” gumam Cheonsa pelan, sambil terus meronta. Dia benar-benar berharap Donghae ada disini, menolong dia dari semua mimpi buruk ini.

BRAAAAAAAAAK!

Cheonsa berlari menjauh dari pria Belanda yang kini tersungkur itu, Cheonsa berlari kearah Donghae yang ajaibnya muncul untuk menolongnya. Cheonsa dibanjiri perasaan lega saat melihat pemuda itu ada di depan matanya, seperti mimpi.

What are you doing?” kata Donghae sambil menendang-nendang bagian perut pemuda Belanda yang sudah tak berdaya akibat pukulan telak di daerah hidungnya tadi, hidungnya mengeluarkan banyak darah akibat tinju Donghae.

Don’t disturb her, she is mine!” Donghae lalu membuat gerakkan dengan dua jarinya seakan dia berkata “I got my eyes on you!” Setelah itu Donghae menarik Cheonsa pergi, menggenggam erat tangan Cheonsa yang bergetar hebat.

***

Donghae menuntun Cheonsa untuk duduk di sofa futcha ruang tamunya sedangkan dia sibuk mondar-mandir mencari kain apapun untuk menyelimuti Cheonsa agar gadis itu berhenti menggigil. Tapi biarpun setumpuk selimut dan sweater yang Donghae lampirkan ditubuhnya gadis itu tidak berhenti menggigil.

Donghae beralih ke dapur, mungkin minuman hangat bisa membantu Cheonsa. Donghae mengambil sebuah cangkir lalu buru-buru membuat teh. Donghae membawa secangkir teh panas itu ke meja. Donghae kemudian duduk di sebelah Cheonsa.

“Ayo minum dulu…” Donghae mengangkat cangkir tadi, berusaha membantu Cheonsa. Tapi gadis itu menggeleng, dia tidak mau minum teh. Dan sesungguhnya gadis itu juga tidak membutuhkan tumpukan selimut dan sweater yang membalut tubuhnya, mungkin yang dia butuhkan hanyalah sebuah pelukan dan seseorang yang berkata bahwa semuanya baik-baik saja.

“Maafkan aku Han, harusnya aku tidak membiarkanmu pergi sendiri. Aku menyesal, aku…aku… tidak akan memaafkan diriku sendiri jika tadi aku datang terlambat. Demi Tuhan, aku tidak bisa membiarkan sesuatu yang buruk menimpamu.” Donghae merasa tenggorokannya tercekat, kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar parau dan dia hampir menangis. Sungguh, dia ingin menangis jika dia melihat wajah Cheonsa.

“Terima kasih karena kau datang…” Donghae merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat ketika Cheonsa mengalungkan tangan ke lehernya. Gadis itu kemudian menenggelamkan kepalanya ke bahu Donghae, gadis itu menangis.

Donghae menatap gadis itu sebentar lalu mengusap puncak kepalanya sayang, dia bersyukur Cheonsa baik-baik saja. “Gwenchana, semuanya sudah lewat Han kau baik-baik saja sekarang dan aku berjanji aku akan selalu melindungimu. Aku janji Han…”

***

Salju mulai menipis di luar sana, mencair karena sebentar lagi musim dingin akan segera berakhir. Cheonsa menatap Haruna jahil, sesekali dia mengganggu jam tidur sahabatnya itu dengan menghembuskan napas kearah mata Haruna yang terbuka. Dan pada percobaan terakhirnya Haruna sudah dalam keadaan bangun maka langsung saja Haruna memencet hidung Cheonsa.

Tak jauh dari dua orang itu berada Donghae tengah menatap dua orang sahabat itu dengan senyum yang mengembang di wajah. Donghae bersyukur Cheonsa bisa ceria kembali, begitupun dengan Haruna. Haruna sempat merasa sangat bersalah karena dia meninggalkan Cheonsa sendirian waktu itu tapi untunglah Cheonsa tidak menyalahkan Haruna. Dan memang bukan salah gadis itu.

Donghae juga lega, pria Belanda itu sudah tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi, dan itu artinya Cheonsa aman.

“Psst~” Cheonsa membuyarkan lamunan Donghae.

“Apa?” tanya Donghae tak mengerti, dia memandang kearah Haruna dan gadis itu mengangkat bahunya, ia juga tak tahu apa yang Cheonsa inginkan. Cheonsa memberi kode agar dua orang itu menunggu sementara dia menuliskan sesuatu pada notes nya.

Dua menit, dan Cheonsa sudah merobek selembar kertas dari notes nya, memberikannya pada Haruna yang saat itu duduk di tengah-tengah antara Donghae dan Cheonsa.

Haruna membuka kertas itu, membacanya bersama Donghae.

Aku benar-benar merasa seperti Mamoth betina yang terpaksa jatuh cinta pada Mamoth jantan…

Kekeke…

Let’s be honest, I really love that Male Mamoth

PS : Oppa, you should lose some weight.. you look like a mamoth now!!!

Haruna dan Donghae tidak bisa menahan tawa mereka, mereka tertawa lepas membaca tulisan Cheonsa. Tapi kemudian Donghae berhenti tertawa, dia menatap dirinya sendiri. Benarkah dia sudah kelebihan berat badan?

“Haruna Katou, Lee Donghae, please come forward!” Ketiga orang itu menatap guru bahasa Belanda mereka yang bersiap memberikan hukuman pada Haruna dan Donghae. Sedangkan teman mereka yang lain merasa sedikit heran, kenapa tiga orang alien di kelas mereka itu sekarang menjadi memiliki ketertarikan yang sama seperti teman Turki mereka untuk membuat gaduh kelas.

Cheonsa menghembuskan napas lega saat menyadari bahwa dirinya tidak ikut dipanggil maju ke depan, dia memang tidak ikut tertawa tadi. Donghae, Haruna menatap Cheonsa sejenak. Cheonsa hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya. Sebentar lagi akan ada tontonan yang menarik, saat guru bahasa Belanda mereka menghukum sahabatnya dan menghukum Donghae, boyfriend nya…

“Harusnya aku bawa popcorn tadi…” runtuk Cheonsa dalam hati.

***

~END~

***

Butuh review dari kalian semua^^

Hope God bless some one who leave a comment here^^

Thanks^^

[One Shoot] Nothing wrong, we just fell in love

Nothing wrong, we just fell in love

~Hyesun’s POV~

Aku merubah posisi bantalku menjadi tegak lalu menyandarkannya pada tembok tak jauh dari kasur gulungku, merebahkan kepalaku disana. Lalu dengan pelan aku mengusap pipi seorang pria yang tidur lelap di sebelahku dengan wajah polos khas anak kecilnya. Aku beruntung dia belum membuka matanya, aku takut. Sebab matanya dapat menenggelamkanku pada berjuta kebahagiaan yang membuatku tak mau berpaling dari dua mata itu.

Aku beralih mengusap rambut yang menghalangi keningnya, aku mengecup kening itu lembut lalu melanjutkan lagi kegiatanku mengagumi wajahnya. Tidak ada kata lain yang bisa ku lontarkan selain sempurna, bukan hanya aku yang jatuh pada pesona wajah ini. Puluhan bahkan ratusan gadis yang ada di universitas kami sangat mengagumi ketampanannya, dia punya julukan ‘wajah karakter manga’ dan ku akui hal itu benar. Namun ada satu hal lagi yang membuatku jatuh hati padanya, kebaikan hatinya.

Dia tipe orang yang tanpa pamrih akan menolong siapapun, dan aku sangat menyukai sifatnya itu. Berkat sifatnya itu aku bisa belajar banyak hal terutama, hidup bukanlah seberapa banyak harta yang kau miliki, atau seberapa cerdasnya dirimu tapi hidup akan lebih berarti saat kau berbagi. Prinsipnya yang sangat aku sukai.

Jari telunjukku mulai menelusuri garis bibirnya, lembut dan terlihat sangat menawan. Bibirnya, salah satu daya tariknya juga. Aku beruntung dapat memiliki bibir ini, dapat memiliki dia.

“Kau nakal!” aku tersentak saat tangannya menghalangi jari telunjukku untuk menelusuri lebih jauh bibir merah alaminya. Matanya saat ini terbuka sempurna, padahal aku yakin tadi masih terpejam.

“Eoohh…” kataku salah tingkah karena dia berhasil menangkap basah kegiatan rahasiaku.

Would you?” dia memajukkan bibirnya dengan sedikit aegyo, bermaksud agar aku mau memberinya morning kiss.

Wajahku memanas, “Kau hampir terlambat Tuan Lee!” Aku bangkit lalu meninggalkannya yang masih nyaman berada di kasur gulung itu, oh percayalah aku sangat tergoda untuk memberinya ciuman selamat pagi tapi yah, aku masih sedikit canggung. Jadi aku memilih untuk menuju dapur kecil kami, bersiap membuatkan sarapan sederhana untuknya sebelum dia berangkat kerja. Aku tidak bisa memasak banyak variasi makanan, hanya nasi goreng, telur mata sapi dan ramyeon. Itu sudah cukup bagus untuk ukuranku. Aku ingin belajar memasak varian yang lain tapi dapur kecil ini tidak memungkinkan, dan sayangnya lagi kami tidak memiliki peralatan dapur yang lengkap.

plaaaak,

Aku menangkupkan kedua tangan ke pipiku sendiri, syukuri apa yang ada sekarang dan berhentilah mengeluh Choi Hyesun!

“Aku mau morning kiss ku…” aku mendengar suara itu tepat di telingaku.

Ya! oppa. Kau mau membuatku terpanggang huh?” aku dengar dia hanya terkekeh. Lalu dia mendekap pinggangku erat sambil menghembuskan napasnya di leherku, membuatku menggelinjang sedikit kehilangan konsentrasi menggoreng telur mata sapi itu, aku berharap telurnya tidak akan gosong.

“Kau jahat Nyonya Lee, kau sudah diam-diam menelusuri wajahku saat aku tidur tapi kau tidak mau bertanggung jawab!” sekarang aku tertawa, ucapannya benar-benar membuatku merasa bahwa aku seorang pemerkosa yang dimintai pertanggung jawaban olehnya. Dasar!

Tapi Nyonya Lee?

Aku merasakan jantungku melompat-lompat gembira, aku sangat menyukai panggilan baruku itu…

Dan, aku rasa pertahanku mulai goyah. Aku memutar badanku lalu mulai memiringkan wajahku. Memberikan haknya yang sedari tadi dia tuntut, dan entah berapa lama. Yang aku tahu setelah itu tercium bau gosong dari telur mata sapiku.

*

***

*

Donghae oppa sedikit tergesa-gesa tadi, dia sarapan kurang dari lima menit. Untungnya dia masih bisa mandi, karna jika tidak dia harus berangkat kerja tanpa mandi. Dia sudah berangkat kerja  jadi di rumah ini tinggal aku seorang.

Sepi, aku tidak seharunya memikirkan ini tapi sekarang aku berpikir alangkah bahagianya jika rumah kami segera terisi oleh tangis dan tawa seorang bayi. Oke, aku rasa aku sudah benar-benar melantur. Kami baru sebulan menikah jadi kehadiran seorang bayi nampaknya masih terlalu dini.

Aku menikmati tugasku sebagai istrinya, membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci baju, semua itu aku lakukan dengan senang hati. Dan aku benar-benar bersyukur meskipun kami hanya tinggal disebuah apartemen kecil dengan fasilitas seadanya, aku yang dulu selalu menganggap orang yang bilang asal dengan cinta semua hal menjadi mungkin adalah seorang pembual.

Tapi nyatanya kini aku merasakannya sendiri, aku bisa hidup pas-pasan begini, tapi aku bahagia. Sebab aku menjalani hari-hariku dengan orang yang kucintai.

Aku mengunci pintu apartemen kami, aku akan keluar sebentar membeli beberapa bahan untuk makan malam kami.

Baiklah aku akan jujur, aku akan masak ramyeon malam ini dan aku kehabisan daun bawang-_-

Aku merapatkan mantelku dan membenarkan posisi syal ku yang sedikit miring, musim gugur di Seoul memang dingin. Aku memperhatikan orang-orang yang berjalan tergesa-gesa lainnya, mereka lebih tergesa-gesa dari pada aku. Ada beberapa anak sekolah yang aku yakin tergesa-gesa menuju tempat kursusnya dan beberapa orang yang terlihat seperti mahasiswa, melihat mereka sekilas seperti melihat bayangan diriku sendiri beberapa bulan yang lalu. Aku juga sama sibuknya seperti mereka, waktu yang berpacu selalu menuntut untuk dikejar. Hingga, sebulan yang lalu aku memutuskan untuk berhenti, aku menemukan seseorang. Seseorang yang membuat hidupku lengkap, Lee Donghae.

Aku menatap langit senja yang terlihat berkilauan, cahaya berwarna jingga membuat suasana terbawa efek romantis. Donghae oppa, apa sekarang kau juga melihatnya? Langit saat ini terlihat sangat indah!

“Hyesun-ah!” aku menghentikan langkahku, lalu menoleh kebelakang.

“Henry!” aku melihat sahabat sejak kecilku itu tergesa-gesa menghampiriku, seakan aku ini hanya fatamorgana yang bisa hilang dengan cepat.

“Sahabatku yang jahat, kau pergi kemana saja huh?” sisa beberapa langkah, dia merubah larinya menjadi langkah-langkah kecil. “Maafkan aku, aku tahu kau merindukanku Henry…hehehe.” candaku, dan dia tertawa mendengar kenarsisanku yang tidak pernah hilang ini.

“Kau tidak tahu, kau tidak tahu seberapa rindunya aku padamu!” Dia menarik bahuku cepat, lalu menenggelamkanku pada pelukannya. Aku hanya bisa mengerjap heran, dia…

“Ya! Kau hanya tak melihatku selama sebulan Henry, tapi kau memelukku seakan-akan aku ini sudah menghilang ratusan tahun!” Aku mendorong tubuhnya, menyudahi pelukan kami. Aku sekarang sudah menikah dan berpelukan dengan seorang laki-laki yang bukan suamiku membuatku tak nyaman meskipun itu adalah Henry.

“Aku tidak bisa menemukanmu di kampus,” aku menatap matanya sebentar lalu dia melanjutkan. “dan ternyata kau sudah lama meninggalkan rumah…”

Aku tersenyum kecil.

“Kenapa? Kenapa harus begini Hyesun-ah?” Aku tersentak, aku benci siapapun yang menanyakan hal itu, kenapa? bagaimana bisa? haruskah?

“Aku mohon Henry, aku tidak ingin kau jadi orang yang aku benci. Jangan menanyakan apapun tentang sesuatu yang tidak ingin kubicarakan.” Henry kaget melihat ekspresi wajahku yang mendadak muram, dia kemudian terdiam. Menyelami pikirannya sendiri, matanya bergerak-gerak seakan tengah memilah kata-kata yang akan dia keluarkan nanti.

“Henry, maaf aku tidak bisa lama-lama. Aku harus memasak makan malam.” Aku mengangkat kantung belanjaanku, berusaha menyakinkan dia bahwa aku benar-benar sibuk.

“Tunggu!” Aku mengerutkan keningku, memiringkan sedikit kepalaku heran.

“Kau benar-benar sudah menikah dengan dia, dengan Donghae sunbae?”

Ne!” aku mengangguk, kemudian tersenyum. Lalu mengangkat tangan kiriku, di jari manisnya tersemat sebuah cincin. Cincin pernikahan kami.

“Kau tidak mengucapkan selamat?” tanyaku heran.

Henry menatapku lama, lalu akhirnya dia mengatakannya. “Cukhae!”

*

***

*

“Selamat datang!” Saat pintu apartemen terbuka terlihat Donghae oppa muncul dari balik pintu, segera saja aku berlari ke arahnya. Memberinya sebuah pelukan selamat datang.

Lama aku tidak merasakan balasan darinya, kemudian aku melepaskan pelukanku. Aku baru sadar kalau Donghae oppa terlihat berbeda tak seperti biasanya, wajahnya seperti tak bergairah dan sedikit pucat.

“Apa yang terjadi oppa? apa terjadi masalah?” tanyaku.

Donghae oppa menggeleng, lalu menatapku. “Kau bahagia menikah denganku?” ada apa? kenapa tiba-tiba menanyakan hal ini. “Tentu saja oppa.” jawabku langsung tanpa ragu.

“Kau tidak sedang berbohongkan?” mataku melebar.

“Kenapa kau berpikir bahwa aku sedang berbohong?” aku menarik napas frustasi, pertemuan dengan Henry tadi benar-benar membuatku merasa buruk dan sekarang bahkan Donghae oppa -suamiku- berpikir bahwa aku tidak bahagia menikah dengannya.

“Maafkan aku, aku hanya…sedang ada masalah di kantor.” Donghae oppa meraih tanganku. Matanya berkilat-kilat, menyisakan sebuah penyesalan.

“Sebaiknya oppa mandi dulu!” aku melepaskan tangannya, beranjak ke dapur untuk mempersiapkan makan malam.

*

***

*

Kami tidak biasa bertengkar lama-lama, nyatanya sekarang kami ada di dapur berdua. Bersama-sama memasak ramyeon, aku memotong-motong daun bawang, sawi dan wortel sedangkan dia sedang menunggu air di panci mendidih.

“Kenapa nasinya dari tadi tidak matang-matang sih?” gumamku heran. Sudah satu jam lebih aku menunggu nasi di rice cooker matang, tapi dari tadi masih berupa beras yang terendam air. Aku memeriksa kabel rice cooker, tertancap tepat ke stop contact. Dan tentu saja saat ini tidak sedang mati lampu.

“Apa rice cooker kita rusak?” Donghae oppa menghampiriku, kami berdiri bingung di depan rice cooker.

“kemarin masih berfungsi dengan baik, lagi pula ini rice cooker baru kan oppa.” kataku, bahkan kami baru membelinya sebulan lalu saat kami pindah kemari.

“Lalu, apanya yang salah?” gumam Donghae oppa sambil membuka-tutup rice cooker, ada uap panas yang keluar tapi tidak begitu panas. Mungkin hanya cukup untuk menghangatkan nasi saja, tidak cukup untuk membuatnya matang.

Aku mengerutkan alisku, apa tadi yang kupikirkan?

Aku memeriksa tombol cooking dan warm di rice cooker, nah benarkan. Aku lupa tidak memencet tombol cooking, pantas saja nasinya tidak matang-matang!

Donghae oppa tersenyum lalu mengacak-acak rambutku gemas. “Dasar pelupa,” aku mengerucutkan bibirku. “Kepalamu itu terlalu banyak berisi aku,hehhe…” kata oppa narsis. Tapi dia memang benar.

“Cissh…Terlalu percaya diri!”

“Benarkah? benar kau tidak memikirkanku setiap saat? aku tahu kau Hyesun-ah, mungkin tiap melihat langit kau akan mengingatku, tiap melihat laut kau mengingatku, disetiap hembusan napasmu kau mengingat diriku.” Aku tersenyum, mengingat bahwa tadi sore saat langit berubah menjadi jingga, aku mengingatnya. Dia benar, disetiap hembusan napasku ada dia. Tidak salah sama sekali.

“Dan seberapa besarnya kau mencintaiku aku lebih mencintaimu Hyesun-ah.” katanya sambil mengerlingkan satu matanya padaku. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum. Dia pintar sekali mengambil hatiku.

Saranghae!” Aku mengecup bibirnya sekilas.

“Bagaimana kalau kita batalkan saja acara makan kita?” katanya kemudian sambil meraih tanganku, menyeretku hingga kepalaku menabrak dadanya yang bidang.

Wae?” kataku sedikit menggerutu.

“Bukankah kita masih pengantin baru?”

Aku menyipitkan mataku, sedang dia ternyata memasang ekspresi tajam seolah aku ini makanan.

Aku mengerti arti tatapan itu.

“Tidak, kau harus makan oppa. Aku tidak mau kau sakit.”

“Aiissshh…”

*

***

*

Aku mengambil dua buah cangkir dari almari dapur yang berisi satu set perlengkapan minum teh, lalu mulai menyeduh teh untuk tamu pertama yang berkunjung ke apartemen kami. Dia, ada di ruang duduk kami yang berukuran lima kali lima meter. Entah apa yang dia pikirkan saat ini tentang apartemen kami, sedikit kecewa mungkin. Lantaran ia harus duduk di sofa yang sama sekali tak empuk atau dia sedang mencemoohku lantaran aku mau hidup dalam dunia yang sama sekali berbeda dengan dunianya. Duniaku yang dulu.

“Ini teh mu Hyunhee-ya.” Aku meletakkan nampan itu di meja. Lalu meletakkan satu cangkir di dekatnya, cangkir yang satunya aku taruh di dekatku.

“Terima kasih.” Hyunhee menatapku lalu tersenyum, tapi dia kelihatan tidak tertarik untuk meminum teh yang ada di hadapannya.

“Bagaimana bisa kau tahu aku tinggal disini? Henry yang memberi tahumu?” tanyaku tanpa mau ambil pusing dengan sikapnya. Dia tidak seburuk kelihatannya. Aku tahu itu.

Hyunhee menatapku dengan lebih lembut, lalu dia menunduk. “Bukan, Henry tidak pernah datang ke rumah lagi semenjak terakhir kali dia mencarimu. Hyesun-ah, aku tahu kau tidak akan menurutiku tapi aku harus mengatakan ini. Kau harus pulang! Kau harus mengakhiri semua ini!”

Aku terkesiap dengan kata-katanya yang frontal. “Jangan mulai lagi Hee-ya. Kau tahu aku tidak mungkin kembali, aku sudah memilih.” Aku meraih ujung kaos yang kukenakan, meremasnya kesal.

“Kau masih bisa kembali, semuanya belum terlambat!” Hyunhee mulai menatapku lagi. Ada sedikit kekhawatiran disana.

“Tidak, aku telah memilih hidup bersama Donghae. Aku tidak keberatan meski mereka menghapusku dari daftar keluarga, sama sekali tak keberatan.”

Hyunhee menarik napas dalam. Mengumpulkan lagi kesabarannya, tapi percuma saja. Aku tidak akan kembali ke rumah.

“Bagaimana bisa kau membuang keluargamu?” nada bicara Hyunhee menjadi lebih tinggi dari sebelumnya.

“Karena keluargaku tidak bisa menerima Donghae.”

“Bodoh!”

Aku tersenyum miris, bagi mereka aku memang bodoh. Melepaskan semua gelar keluarga terpandang demi menjadi istri seorang laki-laki yang sama sekali tidak sederajad. Tapi bagiku itu adalah keputusan yang paling benar, aku tidak mau hidup di tengah-tengah keluarga yang memandang seseorang berdasarkan harta maupun kedudukannya.

“Cukup bodoh untukmu. Tapi aku bahagia.”

“CHOI HYESUN!!!” Hyunhee berdiri, amarah tercetak jelas diwajahnya.

“Ya, sepupu?”

“Jika saat ini kau sedang bermain-main maka kau harus berhenti sekarang,karena mereka bisa merebut mainanmu secara paksa jika mereka mau. Kau bisa lari, tapi kau tidak pernah bisa bersembunyi! Hentikan sebelum keegoisanmu membuat seseorang celaka!” Hyunhee berjalan menuju pintu, membantingnya dengan keras.

*

***

*

~Donghae’s POV~

Hyesun masih asyik bersandar di bahuku sambil tertawa lepas menonton film yang kami sewa tadi di rental film tak jauh dari apartemen. Aku tidak memperhatikan sama sekali film itu sebab dari tadi aku hanya memandangi wajahnya. Dia jarang memperlihatkan wajah murung di depanku, selalu tersenyum. Kadang tertawa lepas, tapi hatiku selalu berkata bahwa dia berpura-pura tabah.

Aku merasa sangat bersalah padanya, demi hidup bersamaku-menjadi istriku-. Dia rela meninggalkan semua kenyamanan, harta, kedudukan, dan keluarganya. Fakta bahwa keluarga Choi menginginkan seorang menantu dari kalangan sederajad-lah yang membuat kami senekat ini. Awalnya tentu saja tak mudah dan jujur saja aku tidak bisa melihatnya harus hidup susah bersamaku. Tapi lagi-lagi dia selalu tersenyum, tidak pernah mengeluh. Hal itu yang membuatku merasa sedikit lega.

Dia tidak protes meski sebagai suaminya aku tidak bisa menghadiahkan honey moon mewah seperti keliling eropa melainkan hanya berlibur ke Mokpo tempat asalku, bahkan apartemen kami tidak bisa dibandingkan dengan kamar pelayan keluarga Choi. Harga diriku sebagai seorang laki-laki terluka, tapi lagi-lagi senyumnya memberiku harapan. Aku tidak sepenuhnya gagal.

Wae?” tanyaku saat dia mulai mengangkat kepalanya, tidak bersandar di bahuku lagi.

Bukannya menjelaskan apa yang terjadi dia malah buru-buru berlari menuju kamar mandi, aku mengikutinya dari belakang. Khawatir terjadi sesuatu.

“Hoooeeeekkkss!” kedua tangan putihnya berpegangan erat pada wastafel, sementara ia sibuk memuntahkan semua isi perutnya.

Gwenchana?” aku memijat tengkuknya pelan dari belakang. Dia mengangguk lemah, menarik napas panjang lalu mulai menyalakan kran untuk berkumur.

“Kau terlalu lelah, jangan memaksakan diri.” kataku sambil memapahnya menuju kamar kami, aku meninggalkannya di depan pintu sementara aku meraih kasur gulung kami, membereskannya agar dia bisa langsung tidur. Sial, lagi-lagi aku kecewa pada diriku sendiri. Harusnya aku bisa memberinya sebuah kasur spring bed dan selimut tebal di saat seperti ini.

Oppa…” panggilnya pelan.

Ne?” aku hampir menyelesaikan semuanya saat dia memanggilku, aku menengok kebelakang. Menengok ke tempatnya berada.

Dia menghampiriku, meraih tanganku lalu menempelkannya ke perutnya kemudian tersenyum.

Aku menautkan kedua alisku tak mengerti.

“Selamat, kau akan menjadi seorang appa!”

“ne…MWO?!”

“Harusnya beberapa hari yang lalu periode mestruasiku oppa, jadi tadi aku mencoba tes kehamilan dan hasilnya positif. Aku hamil!” Hyesun langsung memelukku erat.

Jinjja? Hyesun-ah aku sangat bahagia. Terima kasih, aku benar-benar merasa telah menjadi  lelaki sempurna sekarang. Terima kasih sayang!” Aku mengecup puncak kepalanya. Kemudian merapatkan pelukan kami.

Terima kasih Tuhan!

*

***

*

~Hyesun’s POV~

“Henry?” aku sedikit terkejut saat mendapati Henry ada di luar apartemenku. “Kau tidak ada kuliah saat ini?” mengingat bahwa siang hari seperti ini biasanya dia sedang berada di kelas mengikuti perkuliahan, aku sedikit curiga kalau Henry bolos.

“Aku ingin bicara!” Henry meraih tanganku, menariknya paksa. Aku tidak bisa menolak karena sepertinya ini serius. Henry yang sekarang ada di hadapanku sangat berbeda dengan Henry yang selama ini kukenal. Apa yang telah terjadi padanya?

Henry mulai melongarkan tangannya saat kami sampai di bawah pohon rindang di kompleks taman apartemen, dia beberapa langkah ada di depanku. Membelakangiku sehingga dari tempatku berada aku hanya bisa melihat punggungnya.

“Hyesun-ah, aku minta maaf padamu tapi aku harus mengatakan ini…”

Aku menelan ludah, apa lagi-lagi dia akan mengungkit keluargaku, keluarga yang sudah kutinggalkan. Rasanya ingin kukubur dalam-dalam masa lalu kelam tentang keluarga itu. Sebenarnya mereka tidak pantas disebut sebagai keluarga, hanya sekumpulan orang busuk dengan mindset yang busuk pula.

“Hyesun-ah, aku mencintaimu…”

DEG!

Henry? Mencintaiku?

“Saat orang tuamu menjodohkan kita aku sangat gembira karena akhirnya Tuhan mengabulkan doaku untuk bisa menjadikanmu pendamping hidupku tapi aku benar-benar terluka saat kau kabur sebelum pesta pertunangan kita, dan saat aku menemukanmu ternyata kau sudah menikah dengan orang lain. Maafkan aku karena meskipun saat ini kau sudah menikah aku masih belum bisa melupakanmu, aku tahu harusnya tidak begitu tapi aku rasa kau harus tahu alasannya…”

Aku tidak pernah melihat Henry serapuh ini, aku jadi merasa berdosa telah membuat hatinya terluka sedalam ini. Tapi bagaimana bisa Henry mencintaiku, apa selama ini Henry terlalu pintar menyembunyikan perasaannya. “Tidak Henry, aku yang salah… Aku meninggalkan pesta pertunangan kita begitu saja tanpa memberi tahumu apa-apa. Maafkan aku!” Aku menghampiri Henry. Mencoba memperkecil jarak diantara kami tapi aku menghentikan langkahku saat melihat dua tangan Henry terkepal erat. Dia menangis!

*

***

*

Donghae oppa meraih tubuhku, memeluknya hangat. Aku menenggelamkan kepalaku ke dada bidangnya untuk menghirup aroma tubuhnya yang sangat wangi. Dia mulai mengusap puncak kepalaku sayang dan aku mulai terbuai, dia kemudian meraih daguku. Tinggiku yang lebih pendek darinya membuat keningku yang saat ini ada di depan bibirnya. Dia mengecupnya lama, dan aku benar-benar merasa bahwa dia sangat mencintaiku.

Aku meraih tangannya, menempelkannya di perutku. “Kau ingin anak perempuan atau laki-laki?” Aku menatap wajahnya memperhatikan baik-baik ekspresi wajah apa yang dia berikan, dan dia nampak sangat bahagia. “Aku suka keduanya, yang mana saja boleh.”

Aku tersenyum kecil, dia memang tidak pernah menuntut apa-apa dari orang lain. Tipe yang menerima dengan apa adanya, dan rupanya sifat itu terbawa hingga kepernikahan.

“Aku ingin seorang Donghae junior yang mewarisi wajah tampan ayahnya, tapi aku tidak mau dia pendek seperti ayahnya…” godaku, Donghae oppa tertawa kecil sambil memencet hidungku.

“Hyesun junior mungkin lebih lucu, tapi tentu saja sifatnya harus seperti aku karena sifat 4D ibunya sangat mengkhawatirkan…” Dia membalasku. Saat aku ingin melayangkan sebuah pukulan dia malah menunduk, aku kira awalnya dia melakukan itu untuk menghindari pukulanku tapi aku salah besar. Rupanya dia berjongkong agar tingginya sejajar dengan perutku.

Dia mengusap perutku pelan, “Kau harus lahir dengan sehat dan harus bisa menjaga ibumu.” Bisiknya pada perutku.

“Apa yang kau katakan oppa, kau juga harus menjaga aku dan anak ini!”

“Iya, tentu saja.”

*

***

*

Aku menempelkan ponselku pada telingaku erat, sudah ratusan kali aku mencoba menghubungi Donghae oppa sejak dua hari yang lalu tapi hasilnya masih sama, dia tidak menjawab panggilanku. Sudah dua malam aku tidak bisa tidur karena dia tidak kunjung pulang, aku takut terjadi sesuatu padanya.

“Halo…”

“Halo ini Lee Donghae, saat ini aku sedang sibuk, tolong tinggalkan pesan. Terima kasih.” Lagi-lagi hanya suara mesin penjawab.

“LEE DONGHAE KAU KEMANA?!” Aku menangis, aku hanya tahu menangis beberapa hari ini. Entahlah rasanya saat ini aku tidak bisa melakukan apapun kecuali menangis.

“Kau jahat!!” Aku membiarkan tubuhku merosot kelantai, memukul-mukul lantai kayu itu frustasi. Lee Donghae, kau tega membiarkanku menderita seperti ini!

Ting…tong…

Isakanku berhenti begitu aku mendengar seseorang memencet bel apartemen, oppa?

Tangisanku berganti dengan sebuah senyum yang mengembang, akhirnya kau pulang juga oppa. Aku tidak mempedulikan tubuhku yang lemah karena mengabaikan makan maupun fakta bahwa saat ini aku sedang mengandung. Aku ingin melihat suamiku!

“Henry?” aku hanya bisa kaget saat mendapati pemuda itu yang ada di hadapanku bukannya Donghae oppa.

“Hyesun!” Dia langsung memelukku.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” Aku memukul-mukul tangannya, meronta agar dia melepaskan pelukannya tapi dia bersikeras untuk terus memelukku.

“Hyesun-ah kau harus tabah!”

Wae?”

“Donghae sunbae…”

“Apa yang terjadi dengannya?”

“Dia ada dirumah sakit, sekarat!”

“APA?” Dan rasanya saat ini duniaku seperti runtuh. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, tapi yang jelas aku tidak sadarkan diri.

*

***

*

~Author’s POV~

Suara kardiograf mendominasi ruangan ICU di rumah sakit pusat Seoul itu, Hyesun hanya terpaku di tempat duduknya yang berada di sebelah ranjang Donghae yang masih tidak sadarkan diri sedangkan Henry memilih untuk berdiri di belakang Hyesun, memberikan ketabahan pada gadis yang dicintainya itu dengan meletakkan tangan di bahunya. Tapi ia sadar Hyesun tidak merasakan bahwa ada seseorang yang peduli padanya sedang berdiri di belakangnya, Henry sangat khawatir dengan kondisinya yang jauh dari katabaik. Gadis itu sejak sampai ke ruangan ini hanya terfokus pada Donghae, suaminya. Dan Henry sadar betul, memang ada jarak antara dia dan Hyesun. Sebuah pernikahan.

“Apa yang terjadi padanya?” Tanya Hyesun dengan pandangan yang kosong, meskipun wajahnya menghadap Donghae yang masih terbaring tapi Henry sadar bahwa pikiran Hyesun memang melayang jauh.

“Entahlah, aku tahu dari salah satu suster disini yang melapor ke ayahku -pemilik rumah sakit ini- kalau salah satu pasiennya bernama Lee Donghae, dari kartu mahasiswa yang di temukan di dompetnya suster itu pikir bahwa dia teman kuliahku, atau minimal aku kenal karena sudah beberapa hari dia dirawat di rumah sakit ini tak sadarkan diri.”

“Lee Donghae, buka matamu! Katakan Apa yang telah terjadi padamu!” Hyesun berubah histeris, dia mengguncang-guncangkan tubuh Donghae. Tapi percuma saja, Donghae masih menutup matanya erat.

“Oh iya, katanya ada semacam surat di jaketnya!” Henry berusaha mengalihkan kehisterisan Hyesun, dia teringat pesan seorang suster bahwa ada semacam surat yang di temukan di saku jaket Donghae.

“Aku menyimpannya di laci!” Kata Henry sambil bejalan kearah lemari kecil disudut kamar itu, membuka lacinya lalu menyerahkan amplop putih itu kepada Hyesun.

Hyesun terdiam sejenak, tidak melakukan apapun kecuali menatap amplop putih ditangannya.

“Cek senilai seratus juta won!” kata Hyesun saat membuka amplop itu.

Hyesun menatap Henry dibelakangnya, Henry menaikkan bahunya. “No idea…” kata Henry kemudian.

*

***

*

Tiiiiiiiiiiiiiiit…

Sudah satu minggu Donghae terbaring di rumah sakit, dokter telah melakukan berbagai macam pemeriksaan untuk mengetahui penyebab Donghae kritis. Dokter berkata bahwa Donghae adalah korban dari praktek penjualan organ illegal, karena dokter menemukan bahwa salah satu ginjal Donghae tidak ada.

“Kenapa dia harus melakukan itu?” isak Hyesun saat Henry mendampinginya untuk melihat Donghae untuk terakhir kali.

“Mungkin dia melakukannya karena ingin melihatmu bahagia…”

“Aku sudah cukup bahagia selama dia ada di sisiku Henry, aku bahagia!”

“Tapi dia merasa dia belum cukup memberimu kebahagiaan. Dia melakukannya demi kau dan bayimu!”

“Kau tahu aku hamil?”

“Ne, Donghae sunbae menceritakannya padaku. Aku tahu alamat apartemenmu karena dia yang meneleponku dan memberitahukannya. Dia pernah memintaku untuk membawamu kembali, dia takut kau tak bahagia bersamanya. Tapi aku gagal melakukannya karena kau sangat mencintainya, dia salah. Kau sangat bahagia saat bersamanya!”

“Lee Donghae bodoh!”

“Dia sangat mencintaimu, itulah sebabnya dia melakukan semua ini. Dia dipecat dari perusahaannya dan kau sedang hamil, aku tidak tahu apa yang dipikirkannya saat memutuskan untuk melakukan ini!”

“Dia dipecat?”

“Keluarga Choi yang membuat dia dipecat, intimidasi yang mereka lakukan pada direktur perusahaan tempat sunbae bekerja mau tidak mau mereka harus memecat Donghae jika mereka mau bisnis mereka tetap lancar tanpa sandungan keluarga Choi!”

“Bodoh! Harusnya aku tahu iblis seperti mereka tidak akan tinggal diam! Bahkan Hyunhee sudah memperingatkanku!” Hyesun memukul-mukul kepalanya sendiri, mengutuk kebodohan dirinya.

“Kau tidak boleh menyalahkan dirimu Hyesun-ah. Dia pernah berkata bahwa dia tidak pernah menyesal menikah denganmu. Dia mencintaimu, sangat mencintaimu! Biarkan dia pergi dengan tenang!”

Henry merapatkan pelukannya pada sosok rapuh yang menangis tersedu dipelukannya, gadis itu menangisi kepergian suami yang sangat dia cintai. Suami yang memberikannya sebuah kebahagiaan meskipun singkat. Henry tidak peduli lagi apakah gadis itu mencintainya atau tidak yang jelas Henry merasa bahwa dia tidak bisa pergi sekarang, gadis itu membutuhkannya dan hati kecil Henry berkata bahwa dia harus mendampingi gadis itu agar dia tidak berbuat nekat.

*

***

*

R.I.P

Lee Donghae

Hyesun tak henti-hentinya menyeka air mata yang mengalir dari dua pelupuk matanya saat nisan itu bertuliskan nama suaminya meskipun sudah ratusan kali dia mengerjap dan berdoa dalam hati kalau dia benar-benar salah melihat, tapi nihil. Pusara itu memang, pusara suaminya. Lee Donghae. Mulai saat ini dia harus belajar untuk menghadapi kenyataan bahwa dia akan memulai tugas barunya sebagai seorang ibu tanpa ditemani Donghae.

Hyesun mengusap perut buncitnya pelan, perih. Kenapa semua ini harus terjadi pada dia dan anaknya? Kenapa dunia begitu tidak adil. Saat diluar sana banyak keluarga bahagia yang masih lengkap anggotanya, dengan ayah-ibu dan anak mereka. Kenapa dia dan anaknya harus tertimpa nasib pahit seperti ini. Yah, Semua karena keluarga CHOI!

“Kau mau melakukan apa setelah ini?” Henry yang dari tadi berdiri di samping Hyesun mulai angkat bicara.

“Entahlah…” jawab Hyesun lemah.

“Kau bisa tinggal dirumahku kalau kau mau, aku sudah bicara pada orang tuaku dan mereka mau menerima kehadiranmu jika kau tidak keberatan mereka menjagamu sementara aku kuliah…”

“Tidak, aku tidak mau merepotkan keluargamu. Keluarga Lau dan dirimu sudah terlalu baik padaku, aku tak mau kalau…” Hyesun merasakan tenggorokannya tercekat, dia harus menghindari semua yang mungkin keluarga Choi lakukan pada keluarga Henry jika mereka tahu dirinya dibantu oleh keluarga Henry.

“Kau mencemaskan kami? Tenanglah, kami memang tak sekaya keluargamu di Korea tapi kami jamin kau aman jika kau mau ikut ke China.”

“Tidak, aku akan menangani ini sendirian. Aku bisa!” kata Hyesun sambil terus meyakinkan Henry. Dia tidak boleh melibatkan siapapun kedalam masalahnya, kejadian yang menimpa Donghae merupakan pukulan telak baginya bahwa dia telah salah memilih musuh. Dan kalau setelah ini keluarga Choi belum puas membuat perhitungan dengannya maka dia tidak bisa melibatkan Henry. Pemuda itu terlalu baik untuk terseret pusaran masalahnya. “Carilah gadis lain Henry, kau pantas bahagia. Aku berterima kasih atas kebaikanmu selama ini.”

“Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu!”

“Tolong Henry…” kata-kata Hyesun terputus saat ia menyadari beberapa meter di depan mereka ada serombongan orang yang disertai body guard berbaju hitam-hitam yang mengawal mereka. Keluarga Choi!

Ibu, Ayah, Kakaknya Siwon, Sepupunya Hyunhee dan seorang gadis muda mungkin seusia dirinya yang dia baru lihat saat ini. Tapi dari dandanannya Hyesun seakan tidak asing, entahlah. Dia hanya merasa dandanan gadis itu mirip dengan gaya berpakaiannya saat dia masih tinggal di rumah keluarga Choi, bahkan potongan rambutnya juga mirip.

Ahjuma, Ahjussi, Hyung, Hyunhee, annyeonghaseyo!” kata Henry sopan sambil membungkukan badannya sementara Hyesun menatap sinis kedatangan rombongan keluarga Choi itu.

“Henry, sedang apa kau disini? Menghabiskan waktumu untuk hal yang tak berguna, sebaiknya kau kuliah saja yang benar. Aku khawatir dengan kelangsungan bisinis keluarga Lau dikemudian hari.” Kata Nyonya Choi yang membenarkan posisi kacamata hitamnya.

“Lama tidak bertemu Hyesun…” kata Siwon pada adiknya. Hyesun hanya tersenyum kecut, dia yakin kakaknya terlibat dalam mengintimidasi direktur perusahaan tempat Donghae bekerja, karena selama ini kakaknya itu memang menjadi kaki-tangan orang tuanya yang paling setia sementara ayah atau ibunya hanya tinggal memberi perintah sambil menikmati wine mahal mereka di private island bersama kolega-kolega bisnis mereka.

Hyesun beralih pada Hyunhee, gadis baik sepertinya tidak pantas berada diantara rombongan iblis-iblis itu. Dia harusnya terlahir di keluarga Park, Cho, Lee atau manapun tapi dia sama bernasib buruk seperti Hyesun, terjebak dalam keluarga paling mematikan di dunia. Keluarga Choi. Hanya bedanya Hyesun telah merasakan akibat dari perbuatannya menentang keluarga itu sedang Hyunhee masih nyaman hidup ditengah-tengah mereka. Paling tidak Hyunhee tidak perlu merasakan kepahitan yang Hyesun rasakan.

Hyesun menatap ayahnya sebentar, kemudian dia menggeleng. Ayah dan Ibunya benar-benar keterlaluan. Bagaimana mungkin orang tua bisa membuat hidup anak kandungnya sendiri menjadi berantakan.

“Aku kemari ingin mengenalkan seseorang pada kalian,” gadis yang tidak dikenal Hyesun maupun Henry itu maju, tersenyum pada keduanya.

“Dia anak kami, Choi Hyesun! Choi Hyesun yang baru, dia akan secara resmi diperkenalkan sebagai anak gadis keluarga Choi. Dia penurut, kami menjanjikan hidup mewah padanya asal dia mau menuruti semua kata-kata kami dan dia setuju. Jadi kami kesini hanya untuk meminta Lee Hyesun menandatangani berkas bahwa dia resmi dicoret dari keluarga Choi dan kehilangan haknya atas semuanya, sebut saja kontrak pemutusan hubungan keluarga!” Hyesun dan Henry terpaku ditempatnya, mereka ternyata selama ini tumbuh dilingkungan keluarga iblis. Entah sebutan apa yang cocok untuk keluarga macam ini.

Annyeonghaseyo Choi Hyesun imnida.” Kata gadis itu lalu tersenyum, senyum yang penuh kepalsuan.

“Kalian orang sibuk bukan, karena berkas tidak penting seperti itu kalian jauh-jauh datang kemari? Heh, aku merasa sangat terhormat!” kata Hyesun ketus. Dia melirik ibunya dengan tajam. Dia merasa sangat menyesal pernah mengagumi sosok ibunya, sekarang dia baru sadar bahwa wanita angkuh dihadapannya tak lebih dari iblis betina,ular berbisa.

Pardon, maaf kalau kau jadi berpikiran seperti itu tapi kami kemari hanya ingin melihat pria malang yang harus mati karena keegoisan seseorang. Ini cambuk bagi keluarga Choi yang lain agar mereka tidak menghianati keluarganya!” Hyesun melirik Hyunhee, gadis itu menggigil ketakutan. Dia tahu bahwa ucapan orang tua Hyesun itu ditujukan baginya.

“Baiklah, kami akan meninggalkan berkas ini disini, dua hari lagi akan ada orang yang mengambilnya.” Kata Nyonya Choi sambil memberi kode pada salah satu body guard agar menyerahkan berkas yang dimaksud pada Hyesun.

“Aku punya satu nasehat untukmu,” Ibu Hyesun melirik putrinya sebentar sebelum mereka meninggalkan kompleks pemakaman itu. “Do not start the game if you already know you’re eventually going to lose!” Wanita paruh baya itu tersenyum tipis, membenarkan posisi kacamatanya dengan tangan berbalut kaos tangan hitam lalu kembali berjalan untuk meninggalkan kompleks pemakaman diikuti keluarga Choi yang lain dan bodyguard mereka.

*

***

*

Aku berpikir, seandainya saat itu aku tidak lari dari pesta pertunanganku dengan Henry apa ada akhir yang berbeda untuk kami semua?

Yah, mungkin aku bisa bahagia karena Henry ternyata mencintaiku…

Dan mungkin disudut bumi yang lain Donghae masih hidup, bahagia dengan seorang wanita yang mencintainya.

Keegoisanku untuk bersama dengan seorang yang kucintai membuat semua orang harus menderita.

Anakku…

Anakku harus kehilangan ayahnya bahkan sekalipun, dia belum sempat bertemu dengan ayahnya. Semuanya salahku, aku melanjutkan hidupku dengan penyesalan besar atas semua keegoisanku di masa lalu…

Maafkan aku Lee Donghae, kau telah menjadi korban dari keegoisanku.

Aku merasa tidak pantas untuk berkata aku mencintaimu…

Tapi aku harap kau mau menepati janjimu untuk selalu menjagaku dan anak kita, aku tidak bisa melihatmu bukan berarti aku tak tahu bahwa dari atas sana kau menjaga kami. Terima kasih atas semua kebahagiaan yang kau berikan. Hiduplah disana dengan baik, kami mencintaimu.

 

PS : Donghae junior memiliki wajah tampan seperti ayahnya. Dia harus kuberi nama apa? Kata Henry dia harus memiliki namamu, apa aku boleh memberikan namamu padanya?

***

END

***